40. PDKT

6 1 0
                                        

"Tahu dari mana kalian tempat tinggal gue?" Pertanyaan itu langsung saja Elvaro lontarkan setelah ia berhasil duduk di sofa.

"Boleh kita duduk juga?" Alih-alih menjawab pertanyaan dari Elvaro, Clarista justru malah balik bertanya yang hanya dijawab dengan anggukan pelan.

Clarista juga Sarah akhirnya duduk di sofa yang bersebrangan dengan tempat duduk Elvaro. Baik Elvaro maupun Clarista, keduanya sama-sama melemparkan pandangan seakan tak ingin saling pandang. Sebetulnya bukan tak ingin, hanya saja detak jantung Clarista seakan tak aman bila beradu pandang dengan Elvaro.

"Kenapa belum dijawab?" tanya Elvaro seakan meminta penjelasan dari pertanyaannya tadi.

Kegelisahan mulai datang menghampiri diri Clarista, berkali-kali ia menarik napasnya pelan guna menetralisir rasa gugup namun rasanya itu tak berhasil.

Sarah yang duduk di sampingnya tahu betul bahwa sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja. "Jadi gini ... "

Mendengar Sarah yang hendak berbuka suara membuat rasa gugup Clarista sedikit mereda, alhasil ia tak perlu menjelaskan apapun.

"Tadi Clarista tuh gelisah gara-gara dia gak ngelihat lo di sekolah terus pas jam istirahat dia minta tolong ke gue buat temenin dia nyari lo ke kelas lo. Tapi pas nyampe sana dia makin cemas denger lo sakit terus dia berinisiatif nanyain alamat lo ke satpam dan sampailah kita di sini," jelas Sarah yang sukses membuat Clarista melotot tajam.

"Mampus," gumam Clarista sebari menahan panik.

Di tempatnya, Elvaro tersenyum jahil ke arah Clarista. Walau Clarista tak melihatnya secara langsung tetap saja Clarista bisa merasakan bahwa ia tengah ditatap.

"Jadi lo khawatir sama gue?" tanya Elvaro setengah menggoda.

Clarista semakin gelagapan. Ia tak tahu harus berkata apa. Lain halnya dengan Clarista, Sarah justru sibuk menahan tawa karena saat ini Clarista yang tengah duduk di sampingnya tak seperti Clarista yang selama ini ia kenal.

"Jatuh cinta memang bisa mengubah segalanya," gumam Sarah.

"Lo sakit apa?" tanya Clarista mengalihkan topik pembicaraan.

"Jawab dulu pertanyaan gue. Gak usah ngalihin pembicaraan!" kata Elvaro terdengar cukup tegas.

"Ya jelas gue khawatirlah. Lo sakit pasti gara-gara gue kemarin,"' jawab Clarista tanpa sadar.

Di tempatnya, Elvaro tersenyum menggoda selepas mendengar jawaban dari Clarista. Lain halnya dengan Sarah, ia nampak tercengang terbukti dengan kelopak matanya yang terbuka lebar.

"Kemarin? Emang kalian abis ngapain? Jangan bilang pas pulang dari rumah gue, kalian macem-macem?" cerocos Sarah.

Satu pukulan keras mendarat dengan baik tepat di pundak Sarah dan hal itu cukup membuat Sarah tercengang. "Sembarangan lo kalau ngomong," kata Clarista.

"Ya terus kenapa? Jelasin dong!" balas Sarah.

Terlebih dahulu Clarista menarik napasnya panjang. Rasanya ia sedikit malas untuk menceritakan kejadian kemarin karena pada akhirnya Clarista tahu bahwa nanti ia akan diejek habis-habisan tetapi bagaimanapun Clarista harus tetap bercerita walau dengan sedikit keterpaksaan.

"Jadi kemarin waktu pulang dari rumah lo, di perjalanan kita kepegat hujan terus mau gak mau kita neduh. Pas lagi neduh kita kelaperan. Nah kebetulan ada yang jualan cuanki lewat, kita belilah dan sialnya gue nuangin sambelnya kebanyakan," jelas Clarista.

Sarah mengernyit heran, ia bisa merasakan bahwa masih ada yang Clarista sembunyikan dan Sarahpun sadar bahwa cerita Clarista masih menggantung.

"Terus kenapa bisa El yang sakit? Kok aneh?" tanya Sarah meminta penjelasan.

TIPU DAYA CINTA [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang