Lagi dan lagi, Clarista berdiri di depan jendela kamar sebari memandangi langit yang sedikit kelam karena ketidak beradaan bintang di malam ini.
Mungkin semesta tengah menemani suasana hati Clarista saat ini, kelam. Mengingat sikap Elvaro yang selalu berubah-ubah membuat tidak tahu harus menanggapinya seperti apa.
Di satu sisi Clarista senang karena akhirnya ia bisa merasakan apa itu jatuh cinta tapi di sisi lain Clarista juga cemas karena jalan cintanya kenapa harus bergantung seperti ini.
"Tapi emangnya lo kuat pedes?" tanya Clarista cemas.
"Kuat tapi gak kuat-kuat banget sih. Standar aja," jawab Elvaro.
"Kalau gituh ya udah itu buat gue aja. Itu kan punya gue entar lo kenapa-kenapa gimana?" kata Clarista.
"Ya justru itu, kalau lo kenapa-kenapa gimana? Nanti orangtua lo cemas terus nyalahin gue, emangnya lo mau tanggungjawab kalau misalnya gue digebukin sama mereka?" ujar Elvaro sebari menyuapkan satu bakso kecil ke dalam mulutnya.
Clarista terdiam. Ia nampak memikirkan perkataan dari Elvaro. "Ya udah mending gini aja. Itu lo simpen, gue pesenin lagi yang baru."
"Gak usah, mubazir. Ini sayang kalau dibuang. Selagi bisa dimakan ya makan aja. Gue kuat kok, aman," kata Elvaro keukeuh dengan pendiriannya.
Mengingat kejadian itu, entah kenapa membuat perasaan Clarista tersentuh. Elvaro rela berkorban untuk dirinya dan rasanya saat itu Clarista merasa dipedulikan, diperhatikan juga diratukan. Walau hubungan di antara mereka belum ada kejelasan tetapi Clarista tetap merasa senang.
Jarum jam sudah menunjukan pukul 21.00, Clarista rasa ia harus segera beristirahat karena hanya meratapi nasib tidak akan ada habisnya.
Sebelum melangkah ke atas tempat tidur, Clarista lebih dulu menghampiri meja riasnya guna mengoleskan sedikit lip serum ke bibir mungilnya.
*****
Pukul 01.00 dini hari, Elvaro terbangun dari tidurnya. Ia merasakan sakit yang begitu hebat di dalam perutnya. Memang sejak malam tadi, Elvaro sudah merasakan itu dan bahkan ia sudah berulang kali keluar masuk WC.
"Gara-gara cuanki kemarin sore, gue jadi bolak balik WC. Kalau aja bukan karena misi, gue ogah ngorbanin diri gue sendiri," dumelnya seraya berlari ke arah WC.
10 menit berlalu, Elvaro akhirnya keluar dari WC dengan bernapas lega. Memang kondisi perutnya belum sepenuhnya kembali normal namun setidaknya Elvaro merasa lebih baik dari sebelumnya.
*****
Matahari sudah meninggi, jarum jam sudah menunjukan pukul 06 pagi. Rena mulai menata masakannya ke atas meja makan namun ia merasa heran karena Elvaro tak kunjung turun padahal biasanya Elvaro selalu bangun lebih awal daripada Rena.
Sama halnya dengan Rena, Rizal datang dengan perasaan herannya. Iapun lekas duduk lalu meneguk segelas kopi yang sudah Rena siapkan.
"El kemana? Belum bangun dia? Kok tumben?" tanya Rizal.
"Aku juga gak tahu, pah. Gak biasanya kayak gini. Apa dia sakit ya?" balas Rena.
"Coba kamu cek sana. Siapa tahu dia emang sakit," titah Rizal.
Rena mengangguk paham. Iapun lekas berjalan ke arah kamar Elvaro. Beruntung pintu kamarnya tak dikunci, alhasil Rena bisa masuk tanpa harus menunggu dibukakan.
Rena mengernyit heran ketika ia mendapati Elvaro masih terbaring dengan ditutupu selimut.
"El! Kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Rena sebari duduk di tepi tempat tidur.
KAMU SEDANG MEMBACA
TIPU DAYA CINTA [End]
RomanceKata orang cinta itu indah. Di mana kita bisa disayangi sepenuh hati, diberi perhatian tanpa pamrih juga dilindungi tanpa dipinta. Tapi tidak bagi Clarista, ia terjebak dalam sebuah permain cinta yang penuh dengan tipu daya. Diberi suka juga diberi...
![TIPU DAYA CINTA [End]](https://img.wattpad.com/cover/372983057-64-k865237.jpg)