Elvaro duduk termenung di tepi ranjang sebari memandangi buku yang sedari tadi ia pegang. Lembaran demi lembaran sudah Elvaro buka dan sebagian sudah ia baca. Dari sana ternyata Elvaro baru mengetahui ternyata begitu banyak yang tidak ia ketahui tentang kakaknya. Bukan hanya itu, dari sana pula Elvaro mendapatkan jawaban serta cara untuk misi yang ia jalankan.
"Lagian kakak kenapa bisa suka sama cewek songong kayak gituh sih, kak? Masih banyak cewek yang lebih baik, kenapa harus dia?" Elvaro mulai bermonolog.
Mata Elvaro melotot tajam ketika ia tak sengaja membaca sebuah tulisan yang ada di buku itu. Pancaran kemarahan nampak jelas dari balik mata Elvaro, dadanya naik turun berusaha menahan emosi.
Begitu banyak rasa sakit yang Aldrian alami namun sayangnya tak ada yang mengetahui semua itu karena sikap Aldrian yang dominan tertutup sehingga semuanya nampak baik-baik saja.
Dengan emosi, Elvaro menutup buku catatan itu dan menyimpannya kembali ke dalam rak. Tangannya mengepal kuat, rasanya ia ingin sekali menumpahkan emosinya saat itu juga tapi rasanya tak mungkin, mengingat hari sudah terlalu malam dan Elvaro tak ingin menganggu waktu istirahat orangtuanya.
"Tunggu saja! Gue gak akan biarin lo bahagia!" gumam Elvaro.
*****
Pagi telah tiba, sinar mataharipun sudah menerawang masuk ke dalam kamar Elvaro. Laki-laki berbadan tegap itupun nampak sudah siap dengan seragam sekolahnya, karena memang walaupun Elvaro merupakan seorang laki-laki namun ia termasuk orang yang disiplin juga rajin.
Aroma bau masakan sudah masuk ke dalam indra penciuman Elvaro. Iapun lekas bergegas keluar dari kamarnya lalu berjalan menghampiri ibunya yang tengah sibuk memasak.
"Masak apa, mah? Dari baunya sih enak banget," kata Elvaro ketika ia sudah duduk di salah satu kursi.
"Ini mamah masak sop iga kesukaan kamu," balas Rena.
Elvaro langsung meneguk salivanya kasar, rasa lapar semakin meningkat. "Kalau gini sih aku bisa abis banyak," katanya.
"Ya gak papa. Bagus dong kalau kamu makan banyak," ujar Rena seraya menyimpan mangkok besar berisi Sop Iga itu ke atas meja makan.
Tanpa banyak bicara lagi, Elvaro langsung menyiapkan piringnya lalu mengambil nasi dengan porsi cukup besar. Selepas itu, Elvaro juga mengambil mangkok dan mengisi dengan Sop Iga dengan porsi yang tak kalah besar. Melihat itu, Renapun tersenyum senang, dalam hati ia berharap jika Elvaro bisa terus bahagia juga memiliki umur yang panjang.
"Mamah gak makan?" tanya Elvaro ketika ia menyadari bahwa Ibunya terus saja menatapnya.
"Ini mamah lagi nunggu papah dulu," balas Rena.
Elvaro mengangguk pelan lalu iapun melanjutkan makannya dengan lahap. Tak lama Rizal datang yang langsung melotot heran melihat anaknya makan bak orang kesurupan.
"Kamu tuh laper apa doyan? Makan udah kayak orang kesurupan aja," celetuk Rizal.
"Enak, pah," balas Elvaro.
Rena tersenyum lalu menyuruh suaminya untuk segera duduk di kursi yang ada di sebelahnya. Ditemani dengan senyuman manisnya, Rena menyiapkan makan untuk suami tercintanya. Keduanya saling melempar senyum, bak anak muda yang tengah kasmaran. Tanpa mereka sadar, Elvaro melihatnya sedari tadi karena memang makanan Elvaro sudah habis tak tersisa.
"Ekhem!" Elvaro sengaja berdehem.
Sontak Rena juga Rizalpun mengalihkan tatapannya, beruntung piring yang sedari tadi Rena pegang tak jadi jatuh karena Rizal sudah lebih dulu mengambil alih.
"Masih pagi kok udah gerah aja ya!" sindir Elvaro.
"Kamu tuh seneng banget ledekin orangtua," kata Rizal.
"Bukan ledekin cuma ngingetin kalau mau mesra-mesraan jangan depan anak, pamali!" ujar Elvaro.
Setelah mengatakan itu, Elvaro beranjak dari duduknya lalu berpamitan untuk segera berangkat ke sekolah.
"Baru jam segini kamu udah mau berangkat aja. Mau ngapain? Nyabutin rumput dulu?" ujar Rizal sebari melirik jam tangannya dan waktu menunjukan pukul 05.25 pagi.
"Udah ah, males ngomong sama papah," balas Elvaro.
Elvaro mengendarai motornya dengan kecepatan sedang sebari sesekali melirik ke tepi jalan, guna mencari sesuatu yang hendak ia beli.
Bibir Elvaro membentuk sebuah senyuman di kala ia menemukan apa yang dicarinya. Laju motor Elvaro terhenti tepat di depan gerobok Bubur Ayam, lekas ia turun dari motor lalu memesan satu bungkus bubur ayam itu. Yang special tentunya.
Kurang dari 10 menit pesanan Elvaro akhirnya siap. Setelah transaksi itu selesai, Elvaro kembali memacu motornya namun bukan mengarah ke arah sekolag melainkan ke arah lain.
*****
Clarista terbangun ketika ia mendengar ponselnya terus saja berdering. Clarista merasa dirinya tidak memasang alarm namun entah kenapa ponselnya tak kunjung berhenti. Diraba ponsel itu yang tergeletak di atas nakas, samar-samar matanya membaca nama Elvaro sebagai pemanggil.
"Bangun cepet! Jam 6 gue jemput!"
Belum sempat Clarista membuka suara, sambungan telepon itu langsung saja terputus secara sepihak. Jelas Clarista merasa jengkel juga tak terima tapi apalah daya, tidak ada yang bisa Clarista lakukan selain bergegas bangun dan bersiap-siap karena kalau tidak ia akan menjadi bahan ledekan Elvaro termasuk juga kedua orangtuanya.
Tak lama, Clarista keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk kimononya. Tak butuh waktu lama, Claristapun mengenakan seragam sekolahnya juga make up tipis sesuai versinya.
Dari arah luar terdengar suara motor berhenti tepat di depan rumah, Clarista bergegas berjalan ke arah jendela guna memastikan siapa yang datang.
Benar saja, Elvaro datang dan langsung menyadari keberadaan Clarista yang tengah menatapnya dari balik jendela.
Sejenak Clarista berdiam lalu menghela napasnya pelan. Entah kenapa pagi ini rasanya ada yang beda, perasaan Clarista tak seperti biasanya. Ada rasa gugup yang tiba-tiba menghampirinya ketika tengah berhadapan dengan Elvaro. Apa itu ... cinta?
"Eh .. eh ... kamu mau ke mana? Maen nyelonong aja!" pekik Manda yang pada saat itu tengah menyiapkan sarapan lalu melihat anaknya berjalan ke arah luar.
Sesampainya di luar, Clarista langsung menghampiri Elvaro yang langsung disambut dengan senyumannya dan itu sukses membuat hati Clarista semakin menggebu-gebu padahal selama ini Clarista belum pernah merasakan hal ini.
"Orangtua kamu udah pada bangun?" tanya Elvaro.
"Udah. Mamah ada tuh lagi nyiapin sarapan. Ya udah masuk dulu yu!" ajak Clarista lalu Elvaropun ikut melangkah masuk mengikuti Clarista.
"Eh ada Nak El!" sapa Manda ketika melihat anaknya kembali masuk dengan ditemani Elvaro.
"Pagi, tante! Pagi, om!" sapa Elvaro pada kedua orangtua Clarista yang tengah duduk menikmati sarapan, tak lupa juga menyalami tangan kedua orangtua Clarista.
"Ayo duduk! Kita sarapan bareng!" ajak Irwan.
"Makasih, om, tante! Tapi maaf sebelumnya, saya udah beli sarapan buat saya sama Clarista buat dimakan bareng," kata Elvaro.
Mata Clarista melotot tajam. Ia benar-benar terkejut dengan apa yang Elvaro katakan barusan. Sedang di sisi lain, Manda juga Rizal tengah saling tatap sembari tersenyum tipis.
"Oh ya udah kalau gituh bawa aja ke sini. Makan di sini bareng-bareng!" ujar Manda.
"Kita makan di luar aja. Nanti saya nyari taman deket-deket sini buat makan," balas Elvaro.
KAMU SEDANG MEMBACA
TIPU DAYA CINTA [End]
RomanceKata orang cinta itu indah. Di mana kita bisa disayangi sepenuh hati, diberi perhatian tanpa pamrih juga dilindungi tanpa dipinta. Tapi tidak bagi Clarista, ia terjebak dalam sebuah permain cinta yang penuh dengan tipu daya. Diberi suka juga diberi...
![TIPU DAYA CINTA [End]](https://img.wattpad.com/cover/372983057-64-k865237.jpg)