58. Akhir

25 0 0
                                        

Sudah setengah jalan dan Clarista baru sadar bahwa ini bukanlah jalan menuju rumahnya. Clarista nampak berpikir, ia ingin bertanya namun sungkan karena Clarista sendiri belum tahu apa maksud Elvaro mengajaknya pulang bareng.

Dikarenakan rasa penasarannya semakin tinggi, Clarista berusaha mengumpulkan niatanya untuk bertanya.

"Eumm, El!" panggil Clarista.

"Iya?" sahut Elvaro.

Clarista terdiam sejenak. Entah kenapa walau hanya mendengar satu kata, ternyata itu sudah membuat Clarista bahagia karena secara tidak langsung itu menandakan bahwa Elvaro masih peduli padanya.

"Kita mau ke mana ya? Soalnya kan ini bukan jalan ke rumah aku?" tanya Clarista.

"Sebentar lagi kamu juga bakal tahu," balas Elvaro.

Clarista memilih diam. Walau Elvaro sempat menyimpan kemarahan dan juga membuat hati Clarista terluka tetapi Clarista berusaha yakin bahwa Elvaro tidak akan melakukan hal buruk padanya. Elvaro orang baik hanya saja hatinya sempat kecewa akibat dari perbuatan Clarista sendiri.

Laju motor Elvaro tiba-tiba berhenti dan saat itu juga pandangan mata Clarista menatap ke sekeliling, tempatnya lumayan asing bagi Clarista.

"Ini kita ngapain ke sini?" tanya Clarista.

"Kamu pikir kita ke rumah makan mau ngapain? Mau numpang tidur?" balas Elvaro dengan tampang songongnya.

Seketika Clarista mengernyitkan keningnya. Elvaro sudah kembali ke mode nyebelinnya dan itu sontak membuat hati Clarista kembali menghangat.

"Ya maksudnya kita ngapain ke tempat mahal kayak gini? Punya duit emang?" ujar Clarista dengan nada meremehkan.

"Yey, gak usah ngeremehin. Buruan masuk!" kata Elvaro sebari menarik lengan Clarista untuk segera masuk walau sebenarnya Clarista masih bingung.

Pandangan mata Clarista terus menatap ke sekeliling. Suasana restoran yang cukup mewah sedikit membuatnya gugup terlebih pengunjung di sana kebanyakan terdiri dari orang-orang penting dan tak sedikit juga dari pengunjung di sana yang menatap heran ke arah mereka. Mungkin karena penampilan mereka yang masih menggunakan seragam sekolah membuatnya jadi pusat perhatian.

Elvaro sadar dengan ketidak nyamanan Clarista alhasil ia membawanya duduk di meja pojok belakang. Setelah mereka duduk, satu pelayan datang dengan membawa buku menu. Elvaropun langsung menerima buku menu itu.

"Mau langsung pesan apa lihat-lihat dulu?" tanya pelayan itu.

"Langsung aja," balas Elvaro.

"Saya mau chiken steak moza sama lemon tea satu," kata Elvaro. "Kamu mau apa?" tanyanya pada Clarista.

"Samain aja!" balas Clarista karena memang ia masih sedikit bingung.

"Ya udah itu pesen yang tadi 2 ya, mba!" kata Elvaro.

"Baik, ditunggu ya kak!" balas pelayan itu sebari berjalan pergi.

Suasana di antara Elvaro juga Clarista sedikit canggung. Keduanya sama-sama diam dengan pikirannya masing-masing.

Dalam hati sebenarnya Clarista ingin sekali mengajak Elvaro berbicara tetapi keraguannya lebih besar daripada keinginannya.

"Kamu sering ke sini?" tanya Clarista memberanikan diri.

Akhirnya yang Elvaro tunggu-tunggu sejak tadi tiba juga. Memang sejak tadi Elvaro menunggu Clarista mengajaknya berbicara.

Katakanlah Elvaro tidak gantle karena memang itu yang Elvaro rasakan. Bukan tidak ingin, hanya saja Elvaro takut kalau Clarista tidak ingin berbicara dengannya.

TIPU DAYA CINTA [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang