35. Jemputan El

12 2 0
                                        

"Lo kenapa?"

Pertanyaan itu sudah Sarah lontarkan lebih dari 3 kali kepada Clarista, namun sampai saat ini Clarista tak kunjung menjawabnya. Ia masih senantiasa diam sebari memandangi layar ponselnya.

Kesal karena merasa diabaikan, Sarahpun memilih bangkit dari duduknya guna menyimpan piring kotor ke dalan wastafel setelah makanannya berhasil ia habiskan.

"PR banget gue punye temen kek gini," dumel Sarah sebari berjalan ke arah kamar, meninggalkan Clarista seorang diri.

"Kok lo pergi sih?"

Setelah cukup lama akhirnya Clarista membuka suara membuat Sarah menghentikan langkahnya. "Ya ngapain juga gue di sini lihatin lo kek patung mending gue ke kamar, tidur."

"Eh tunggu dulu!" pekik Clarista sebari menahan lengan Sarah cukup keras.

Mendapati hal itu Sarah langsung meringis pelan serta menghempaskan cekalan Clarista dengan keras pula. "Sakit tahu. Lo kenapa sih?"

"Itu si El!" kata Clarista dengan wajah yang terlihat begitu cemas.

Kening Sarah mengernyit heran, bingung dengan arah pembicaraan Clarista. "Kenapa si El?" tanyanya.

Alih-alih menjawab, Clarista justru malah menyerahkan ponselnya kepada Sarah. Walau masih dilanda kebingungan, Sarah tetap menerimanya yang mana tampilan ponselnya berada di dalam roomchat Elvaro.

Bukan sebuah kata ataupun kalimat pesan yang Elvaro kirimkan melainkan sebuah foto yang mana membuat Sarah ikut terkejut.

"Dia di depan?" tanya Sarah dengan wajah bingung.

Foto yang Elvaro kirimkan memanglah foto tampilan depan rumah Sarah dan itu sukses membuat Clarista juga Sarah terkejut bukan main.

"Iya kali. Lo lihat kan itu fotonya?" balas Clarista dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan. Antara senang juga tak percaya.

"Lihat sih. Tapi kok bisa dia di sini terus mau ngapain juga?" kata Sarah.

"Ya mana gue tahu kan dari tadi gue di sini sama lo," jawab Clarista setengah sewot karena ia benar-benar tak percaya dengan kejadian saat ini.

Sarah tak menjawab. Ia juga tak ingin terus berdebat tentang hal-hal yang tak terlalu penting, lagipula urusan Elvaro bukanlah urusan dirinya.

"Ya udah sana samperin!" titah Sarah pada Clarista.

Clarista memejamkan matanya sejenak guna menetralisir rasa gugupnya. Tak hanya itu, Clarista juga mengatur napasnya perlahan sebelum ia melangkah kakinya ke arah luar, sedang di tempatnya Sarah hanya bisa terkekeh sebari menggeleng pelan.

"Ribet juga kisah mereka," gumam Sarah.

Setibanya di depan rumah, pandangan Clarista langsung tertuju pada sosok laki-laki yang tengah duduk di atas motornya.

Mendengar suara langkah kaki mendekat, Elvaro langsung membalikan badannya dan pandangannya langsung bertabrakan dengan pandangan Clarista.

Keduanya saling diam, membuat suasana begitu canggung, tidak ada yang memulai pembicaraan karena memang mereka sama-sama menunggu.

Sudah lebih dari 5 menit namun mereka masih sama-sama diam bahkan posisipun tidak berubah.

"Lo?"

Kata itu sama-sama terucap dari bibir keduanya membuat Clarista juga Elvaro sama-sama melirik satu sama lain. Entah sedari kapan, perasaan mereka tiba-tiba terasa ada yang aneh, debaran pada jantung merekapun tak seperti biasanya.

Lain halnya dengan Clarista yang nampak gugup, Elvaro dengan cepat langsung menepis perasaan itu karena hal itu tidak ada dalam skenarionya.

"Lo duluan aja yang ngomong!" kata Elvaro.

TIPU DAYA CINTA [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang