Sarah terus saja mengoceh meminta kejelasan atas apa yang terjadi namun dengan sengaja Clarista mendiamkannya sebari menahan senyum. Bukan tanpa alasan Clarista melakukan itu, karena jujur saja melihat Sarah seperti itu di mata Clarista itu terlihat lucu.
"Cla, kok lo malah diem aja sih? Jawab dong!" oceh Sarah lagi.
"Gue udah jadian sama si El!" aku Clarista sebari berbisik.
"Hah? Serius lo?" teriak Sarah yang sukses menarik perhatian orang-orang di kelasnya.
Clarista melotot tajam lantas ia juga memukul bahu Sarah dengan cukup keras membuat Sarah meringis kesakitan.
"Gak usah pake teriak-teriak lo! Norak amat," sewot Clarista.
"Ya maaf, gue kan kaget. Lo juga gak usah pake mukul segala, sakit tahu," balas Sarah.
Clarista memalingkan wajah dari Sarah. Rasanya ia terlanjur kesal dengan kelakuan Sarah. Namun bukan Sarah namanya jika ia gampang menyerah untuk mendapatkan suatu info.
Sebelum itu, Sarah lebih dulu mengatur napasnya pelan lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya yang mungkin bisa membuat mood sahabatnya itu kembali baik.
"Ya udah sih, Cla. Gue minta maaf!" kata Sarah sebari menyimpan satu roti coklat di hadapan Clarista.
Clarista menoleh sekilas ke arah roti itu. Diam-diam Clarista sudah tergoda terbukti dengan ia menelan salivanya kasar namun Clarista berusaha sekuat mungkin untuk tetap bersikap cuek.
"Lo gak mau? Kalau gak mau gue ambil lagi," kata Sarah sebari memegang roti itu.
Dengan cepat Clarista mengambil alih roti itu dan hal itu membuat Sarah terkekeh. "Kalau gituh buruan ceritain lengkapnya kayak gimana lo bisa jadian sama si El!" titah Sarah.
Walau masih setengah kesal tetapi Clarista berusaha untuk meredam kekesalannya itu. Secara perlahan Clarista menghela napasnya sampai pada akhirnya iapu mulai menceritakan semuanya pada Sarah.
Ekpresi wajah Sarah membuat Clarista heran. Sarah nampak bengong seperti orang kebingungan.
"Lo kenapa? Kok kayak orang bingung gituh?" tanya Clarista memastikan.
"Cara jadian lo unik juga ya!" balas Sarah.
Terdengar helaan napas dari Clarista bahkan wajah Claristapun terllhat menjadi lesu. Mendapati hal itu, Sarah merasa bersalah ditakutkan bahwa omongannya melukai hati Clarista.
"Eh kenapa lo? Omongan gue ada yang salah ya? Maafin dong!" kata Sarah.
Alih-alih menjawab, Clarista justru malah membuka bungkusan roti tadi lalu memakannya dengan lahap. Di sisi lain, Sarah semakin bingung dengan perubahan sikap sahabatnya itu.
"Gue tuh sebenarnya seneng karena cinta gue gak bertepuk sebelah tangan. Gue juga gak tahu dari kapan gue mulai suka sama si El. Tapi akhirnya gue lega karena dia juga suka sama gue. Tapi entah kenapa di hati gue ada yang ngeganjel," jelas Clarista.
"Ngeganjel gimana?" tanya Sarah yang tak mengerti.
"Gue juga gak ngerti apaan. Tapi yang jelas gue sedikit bingung campur khawatir karena perubahan sikap El yang berubah drastis dari biasanya. Lo tahu sendiri kan awal-awal kita kenal dia kayak gimana?"
Sarah diam sejenak. Memang Elvaro yang ia lihat saat ini tidak seperti Elvaro yang awal-awal Sarah lihat. Mendengar sikap manis yang akhir-akhir ini Clarista ceritakan memang berbanding terbalik dengan Elvaro dulu. Tapi Sarah berusaha berpikir positif, ia tak ingin membuat kebahagiaan Clarista hancur.
"Ya udah sih lo tenang aja, mungkin itu cuma perasaan lo aja. Bisa aja ya kan sifat asli El itu emang romantis dan sifat dia yang dulu itu cuma formalitas aja. Iya kan?" jelas Sarah berusaha menenangkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
TIPU DAYA CINTA [End]
RomanceKata orang cinta itu indah. Di mana kita bisa disayangi sepenuh hati, diberi perhatian tanpa pamrih juga dilindungi tanpa dipinta. Tapi tidak bagi Clarista, ia terjebak dalam sebuah permain cinta yang penuh dengan tipu daya. Diberi suka juga diberi...
![TIPU DAYA CINTA [End]](https://img.wattpad.com/cover/372983057-64-k865237.jpg)