54. Penyesalan

6 0 0
                                        

Melihat Clarista yang begitu terpuruk membuat Elvaro merasa sangat menyesal namun di samping itu Elvaro belum mengerti apa yang membuat Clarista terlihat begitu marah.

Tanpa banyak bertanya lagi, Elvaro langsung mengambil kertas yang tadi sempat Clarista lemparkan. Dan setelah kertas itu berhasil ia ambil, Elvaro terperangah kaget ketika ia tahu bahwa yang tadi Clarista lemparkan adalah foto miliknya. Foto itu memang selalu Elvaro bawa dan ia simpan di saku belakang celananya dan sepertinya Elvaro tidak sadar ketika barang itu jatuh.

"Kamu dapat ini dari mana?" tanya Elvaro setengah gugup.

"Jadi itu yang namanya Aldrian? Kakak kamu?" Clarista balik bertanya.

Elvaro terdiam. Ia tidak sanggup untuk menjawabnya padahal ini adalah rencana awal Elvaro, membuat Clarista sakit dengan cara memberinya tipu daya cinta tetapi entah kenapa sekarang malah Elvaro sendiri yang merasa sakit ketika melihat Clarista hancur. Sepertinya memang benar apa yang dikatakan ibunya Elvaro, 'tidak semua rasa sakit harus dibayar dengan rasa sakit juga'. Dan Elvaro sendiri juga tahu rasa dendam itu tidak baik tetapi Elvaro hanya berniat memberi pelajaran pada Clarista bagaimana menghargai orang lain.

"Jawab dong, El!" bentak Clarista dengan tangis yang sudah tidak bisa ia bendung lagi.

"Iya, itu Aldrian kakak kandung aku. Kenapa? Kaget kamu?" balas Elvaro berusaha setegas mungkin karena ia tidak ingin terlihat lemah di depan Clarista.

"Apa maksud semua ini? Jelasin!" kata Clarista meminta penjelasan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa sebenarnya dalam hati Elvaro merasa sakit dan sekuat mungkin Elvaro menahan tangis. Ia harus bersikap kuat dan melancarkan rencananya sejak awal, Elvaro tidak mau terjebak dalam permainannya sendiri walau sebenarnya Elvaro mulai ada rasa terhadap Clarista tetapi Elvaro akan mencoba menahannya dan bersikap seolah tidak peduli.

"Halah! Kamu gak usah pura-pura gak ngerti. Tanpa aku jelasin juga pastinya kamu udah paham kan?" kata Elvaro.

"Jadi kamu udah tahu siapa aku?" ujar Clarista dengan sedikit bergetar.

Elvaro berusaha memalingkan wajahnya dari hadapan Clarista karena jujur ia tidak kuat melihat Clarista terpuruk seperti itu.

"Ya jelas tahulah. Siapa sih yang gak tahu sama perempuan sombong, belagu dan so kecantikan gituh," ujar Elvaro yang sukses menusuk ke dalam hati Clarista.

Bagai tertusuk duri tajam, Clarista tak menyangka bahwa Elvaro akan mengeluarkan kata-kata seperti itu untuknya. Walau memang Clarista sering mendapatkan perkataan tajam tetapi Clarista tak pernah memerdulikannya namun lain halnya saat ini, rasanya begitu sakit karena perkataan itu keluar dari mulut orang yang Clarista cintai.

"Jadi kamu deketin aku cuma buat balas dendam? Iya gituh?" tuding Clarista.

"Iya. Emang kamu pikir setelah apa yang kamu lakukan terhadap Aldrian, dia bakal baik-baik aja? Ya jelas enggaklah. Setelah itu Aldrian jadi bahan bullyan sampai depresi terus meninggal. Kamu pikir setelah itu keluarga kita bakal baik-baik aja? Ya enggaklah," jelas Elvaro.

Hati Clarista bagai ditimpa badai besar. Ia memang tahu bahwa pada saat itu Aldrian menjadi bahan bullyan lalu hilang tanpa kabar tetapi Clarista tidak tahu bahwa Aldrian bisa sampai depresi juga meninggal.

Saat ini Clarista memang marah, kecewa juga sakit hati terhadap Elvaro namun Clarista tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Elvaro karena di sini Clarista juga memiliki dosa besar.

"Aku minta maaf, El. Aku tahu aku salah tapi aku gak ada niatan buat hancurin hidup kakak kamu juga keluarga kamu. Aku juga gak tahu kalau Aldrian bisa sampai depresi dan juga meninggal," kata Clarista.

"Percuma juga kamu minta maaf sekarang, Aldrian juga udah gak ada. Kalau emang niat buat minta maaf, kemana aja dulu waktu Aldrian masih hidup? Kenapa kamu ngebiarin dia dibully? Kenapa kamu gak nolongin? Kalau kamu emang gak suka sama dia, gak bisa balas perasaan dia seenggaknya kamu punya perasaan simpati. Tolongin dia! " tegas Elvaro.

Tidak ada tanggapan apapun dari Clarista bahkan ia juga tidak membeberkan pembelaan diri karena Clarista sadar dulu ia sudah melakukan kesalahan besar dan semua yang Elvaro katakan benar. Untuk saat ini tidak ada yang bisa Clarista lakukan selain menangis dan menyalahkan diri sendiri.

"Sekali lagi aku minta maaf, El. Tapi kenapa dari awal kamu gak terus terang? Kenapa kamu harus ngelakuin hal ini ke aku?" lirih Clarista.

"Ya jelas karena aku mau kamu ngerasain sakit yang selama ini Aldrian juga keluarga aku rasakanlah!" balas Elvaro setegas mungkin walau sebenarnya dalam hati Elvaro merasa tidak tega.

Lagi-lagi Clarista terisak membuat dada Elvaro semakin sesak. Jika ia terus lama-lama berada di dekat Clarista rasanya Elvaro tidak sanggup alhasil Elvaro memilih meninggalkan Clarista seorang diri yang tengah rapuh.

Langkah Elvaro terhenti ketika jaraknya dengan Clarista berada cukup jauh. Ia menoleh ke arah Clarista dan tak terasa air mata Elvaro turun. Jujur dalam hatinya yang paling dalam, Elvaro memiliki keinginan untuk menghampiri Clarista lalu membawanya ke dalam pelukannya tetapi untuk saat ini rasanya tidak bisa, Elvaro perlu waktu untuk menata dan memahami perasaannya.

"Maafin aku!" lirih Elvaro lalu setelah itu ia bergegas pergi.

Di sisi lain, Sarah juga Tian yang tengah berjalan mencari keberadaan Clarista mendadak berhenti ketika Sarah tak sengaja melihat keberadaan Elvaro.

Mata Sarah memicing heran ketika ia melihat wajah Elvaro nampak lesu dan juga menahan tangis. Perasaan Sarah semakin tidak enak, buru-buru ia berlari ke arah Elvaro keluar tadi. Pergerakan Sarah yang tiba-tiba membuat Tian terkejut lalu iapun langsung buru-buru mengejar Sarah.

Kekhawatiran Sarah benar terjadi, ia melihat Clarista tengah terkapar di atas tanah sebari menangis tersedu-sedu. Buru-buru Sarah menghampiri Clarista lalu membawanya ke dalam pelukannya.

"Lo abis berantem sama El? Iya?" tanya Sarah.

"Gue tahu gue salah, Sar. Tapi gue beneran sayang sama El. Gimana caranya gue buktiin kalau gue bener-bener nyesel dan mau memperbaiki kesalahan gue?" lirih Clarista.

Bukan hanya Clarista yang merasa terpukul tetapi Sarah juga merasakan hal yang sama. Ia tahu baik buruknya Clarista, memang pada saat itu Clarista salah tetapi Sarah juga tahu bahwa saat ini Clarista sedang dalam masa perubahan menjadi lebih baik.

"Udah lo gak usah terlalu mikirin hal itu. Sekarang kita pulang dulu nanti kita pikirin lagi gimana caranya ya!" kata Sarah berusaha menenangkan.

"Tapi, Sar... "

"Kita pulang sekarang. Biar gue anterin ke rumah!" potong Sarah.

Tian yang berdiri tak jauh dari posisi Sarah juga Clarista merasa tersentuh dengan ketulusan persahabatan mereka. Tian juga tahu bagaimana kasarnya Clarista terhadap laki-laki pada saat itu tetapi Tian juga bisa melihat kalau akhir-akhir ini Clarista sudah menjadi lebih baik. Maka dari itu Tian berniat untuk membantu memperbaiki hubungan antara Elvaro juga Clarista karena bagaimanapun Tian sudah menganggap mereka sebagai sahabatnya.

"Kalian pulang pake taxi online aja biar aku pesenin," ujar Tian.

"Iya boleh!" balas Sarah.

TIPU DAYA CINTA [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang