Alih-alih langsung mengantarkan Clarista pulang, Elvaro justru malah membawa Clarista ke sebuah tempat makan yang berada di sebrang sekolah.
Entah kenapa saat Clarista menginjakan kakinya di sana perasaan Clarista seperti tak beraturan. Tempat itu memang menjadi tempat makan favorit Clarista ketika pulang sekolah tapi itu dulu, sekitar 2 tahun lalu.
Menu andalan pada waktu itu adalah Ayam sambel ijo karena menurut Clarista menu itu memiliki rasa yang khas sehingga membuat candu bagi Clarista.
"Kita makan dulu di sini ya!" kata Elvaro dan Clarista hanya terdiam.
Di tengah kediamannya, tiba-tiba saja Clarista teringat akan kejadian masa lalu. Kejadian di mana membuat Clarista seakan terus merasa bersalah.
Harus diakui memang sifat Clarista dulu terbilang cukup kasar juga kejam tetapi Clarista tak pernah memiliki niat untuk membuat seseorang terluka.
Pada waktu itu di kala Clarista tengah asyik menikmati makanannya di tempat yang sama, datang seorang lakI-laki mengajaknya berkenalan tetapi pada saat itu Clarista tak menggubrisnya sama sekali bahkan menganggap laki-laki itu tak ada.
Merasa keberadaan dirinya tak diinginkan, laki-laki itupun memilih berjalan menjauh namun sialnya ada orang yang menghadang sebari menatap sinis.
"Aldrian!" eja laki-laki bermata sinis itu sebari menatap name tag yang terpasang di baju orang yang ada di hadapannya.
"Abis ngapain lo? Mimpi mau deketin Clarista? Kalau mimpi jangan ketinggian deh! Lo gak nyadar apa penampilan lo kayak apa? Rambut udah kek bocah TK, kacamata segede gaban gituh. Malu-maluin tahu," kata orang itu sebari mendorong keras bahu Aldrian sampai menyebabkan kertas yang sedari tadi ia pegang terjatuh.
Aldrian terhenyak kaget lalu iapun hendak mengambil kertas itu namun kalah cepat oleh laki-laki yang ada di hadapannya.
"Clarista, aku udah lama mengagumi kamu. Dari awal aku udah menaruh hati sama kamu tapi aku gak punya keberanian buat ngungkapin. Lewat kertas ini aku mau bilang kalau aku suka sama kamu. Aku berharap kamu juga ngerasain apa yang aku rasain."
Dada Aldrian terasa sesak ketika tulisan di kertasnya berhasil dibaca tuntas oleh orang itu dan seketika tawa pengunjung lainpun pecah ternasuk Clarista yang baru saja menghabiskan makanannya merasa tertarik perhatiannya.
"Itu ada apa ya? Kok bawa-bawa nama gue?" tanya Clarista.
"Ya gue gak tahulah," balas Sarah karena memang Clarista juga Sarah sudah berteman semenjak dari pertama masuk SMP.
Clarista bangkit dari duduknya begitu juga dengan Sarah. Langkah Clarista menghampiri keramaian itu dan pandangannya terfokus pada laki-laki yang tadi sempat menghampirinya.
"Ada apa ini?" tanya Clarista.
"Cla, coba lo baca ini deh!" ujar lak-laki yang menyerang Aldrian sebari memberikan kertas milik Aldrian.
Clarista menerima kertas itu lalu mulai membacanya sampai tuntas. Sungguh pada saat itu respon Clarista terbilang kejam, ia melemparkan kertas itu ke hadapan Aldrian dengan cukup kasar.
"Ini lo siapa sih? Tiba-tiba nulis ginian, aneh tahu gak? Ngarep banget gue suka sama lo. Gak ada, gue gak suka sama cowok aneh kayak lo," kata Clarista lalu iapun langsung pergi.
Sejak kejadian itu Clarista tak lagi menginjakan kaki ke tempat itu dikarenakan Clarista malu, ia juga takut dimisalkan ada orang yang menghujatnya disebabkan tindakannya itu. Dan inilah kali pertama lagi Clarista berkunjung ke tempat yang menurutnya bersejarah.
"Cla, kok diem? Mau pesen apa?" tegur Elvaro karena ia sudah berkali-kali memanggilnya tetapi tak ada jawaban.
"Eh iya-iya maaf!" pekik Clarista.
Seorang ibu penjaga warung datang menghampiri meja tempat Elvaro juga Clarista duduk.
"Mau pesen apa neng, jang?" tanya ibu itu.
Kepala Clarista yang sedari tadi ia tundukan langsung terangkat ketika Elvaro lagi-lagi memanggilnya.
"Eh neng Clarista! Udah lama gak ke sini. Gimana neng sehat?" tanya ibu itu dengan antusias.
Clarista lekas tersenyum walau sebenarnya ia sedikit canggung. "Alhamdulillah sehat bu. Ibu Tari sendiri gimana?"
"Alhamdulilah ibu sehat. Gimana neng, mau pesen kayak biasa aja? Masih sama kan?" ujar ibu Tari.
"Boleh, bu!" balas Clarista.
Ibu Tari melirik ke arah Elvaro yang mana pada saat itu Elvaro nampak fokus melihat ke arah Clarista.
"Ujang sendiri mau pesen apa? Mau disamain aja sama si neng, Ayam Cabe Ijo sama Es teh manis?" tanya Ibu Tari.
Ibu Tari sendiri memang berasal dari tanah sunda maka dari itu Ibu Tari selalu menggunakan bahasa sunda sebagai panggilan.
"Boleh, bu!" balas Elvaro.
Lagi-lagi Clarista terdiam namun Elvaro tak lagi menegurnya karena ia ingin membiarkan Clarista menuntaskan isi pikirannya terlebih dahulu.
Tak lama Bu Tari datang dengan membawa pesanan mereka. Dengan penuh senyuman, Bu Tari menghidangkan piring berisi pesanannya itu ke atas meja dengan sangat hati-hati namun di sisi lain Clarista nampak masih fokus dengan alam lamunannya.
"Semoga suka dengan makanannya ya!" kata Bu Tari.
Seketika Clarista terhenyak kaget ketika tangannya tak sengaja tersenggol oleh Bu Tari.
"Maaf, neng! Ibu gak sengaja," kata Bu Tari.
"Gak papa, Bu, santai aja!" jawab Clarista.
"Ngomong-ngomong neng. Ini siapa?" tanya Bu Tari sebari melirik ke arah Elvaro.
Elvaro lekas tersenyum ke arah Bu Tari, "kenalin, bu! Saya El, pacarnya Clarista!" ujarnya sebari menyalami tangan Bu Tari.
"Oh pacarnya ya! Semoga langgeng ya!" ujar Bu Tari mendoakan.
Dirasa pembicaraannya sudah cukup Bu Taripun bergegas pamit sedang Clarista juga Elvaro langsung menikmati makanannya karena memang sejujurnya Clarista merindukan makanan tersebut.
**
Ke esokan paginya, tak seperti biasanya Clarista bangun agak pagi. Wajahnya nampak bersinar seakan dunia tengah berphak padanya. Kebersamaannya kemarin bersama Elvaro juga nasib hubungannya yang sudah memiliki kejelasan membuatnya lebih bersemangat menjalani kehidupan.
Tepat pukul 04.30 pagi Clarista sudah terbangun dan iapun langsung bergegas mandi lalu menunaikan kewajibannya. Setelah kewajibannya selesai ia tunaikan, Clarista langsung membereskan tempat tidurnya lalu mulai berjalan ke arah dapur.
Tak seperti biasanya, Clarista berniat untuk mempersiapkan sarapan tetapi bukan untuk dirinya melainkan untuk Elvaro. Ya, Clarista memang berniat membawakan beukal sarapan untuk Elvaro mengingat kotak beukal yang Elvaro berikan kemarin masih ada pada Clarista dan sudah ia cuci pula.
Berhubung Clarista belum ahli soal memasak, alhasil Clarista hanya akan membuat nasi goreng juga nuget goreng. Walau dibantu dengan bumbu instan setidaknya Clarista sudah berusaha.
Kegaduhan yang Clarista ciptakan di area dapur sukses mengundang perhatian Manda juga Irwan. Setelah mereka selesai menunaikan kewajibannya, Manda juga Irwan bergegas keluar kamar lalu menghampiri Clarista yang tengah berkutat di dapur.
"Kamu lagi ngapain sih? Berisik banget?" tegur Manda seraya mengikat rambutnya karena ia hendak membuat sarapan buat anak juga suaminya.
Beruntung Clarista sudah selesai memasak, iapun lantas memasukannya ke dalam kotak beukal. Melihat hal itu Mandapun mengernyit heran dengan tingkah anaknya itu.
"Kamu masak? Terus itu kok pake dimasukin ke kotak beukal gituh? Buat siapa itu?" cerocos Manda.
"Kalau nanya tuh satu-satu, mah!" tegur Clarista.
"Ya udah sih tinggal jawab aja!" balas Manda.
Alih-alih menjawab, Clarista justru malah berbalik badan dan hendak berjalan, "mamah gak usah kepo!" katanya lalu iapun pergi.
Manda melongo melihat tingkah anaknya, "lho itu anak kebangetan," cibirnya lalu fokusnya tertuju pada meja dapur yang nampak berantakan. "Astagfirullah itu anak sekalinya ke dapur malah bikin dapur jadi ancur."
KAMU SEDANG MEMBACA
TIPU DAYA CINTA [End]
RomanceKata orang cinta itu indah. Di mana kita bisa disayangi sepenuh hati, diberi perhatian tanpa pamrih juga dilindungi tanpa dipinta. Tapi tidak bagi Clarista, ia terjebak dalam sebuah permain cinta yang penuh dengan tipu daya. Diberi suka juga diberi...
![TIPU DAYA CINTA [End]](https://img.wattpad.com/cover/372983057-64-k865237.jpg)