55. Menerima Kenyataan

8 0 0
                                        

Elvaro nampak terpukul dengan kejadiannya tadi siang bersama Clarista. Ini memang keinginannya sejak awal tetapi sekarang kenyataannya sangat terasa menyakitkan. Elvaro tidak tahu harus menyikapinya seperti apa sekarang, menerima atau menjauhi Clarista sepertinya menjadi pilihan yang sulit bagi Elvaro.

Masih dengan pikiran yang sama, Elvaro berdiri termenung di dekat jendela kamarnya sebari menatap ke arah langit yang nampak terang tidak seperti hatinya.

Di tengah lamunannya, samar-samar Elvaro mendengar namanya di panggil. Elvaro melirik jam yang menempel di dinding kamarnya, sudah memasuki jam makan malam dan sepertinya Rena memanggilnya untuk makan malam.

"Kenapa, mah?" sahut Elvaro dari dalam kamarnya.

"Ayo makan!" ajak Rena.

Sesuai dugaannya, tetapi sepertinya Elvaro tidak bisa menemui orangtuanya dalam keadaan seperti ini karena pastinya akan menimbulkan banyak pertanyaan.

"Nanti aja, mah. El belum laper!" balas Elvaro.

Dari luar kamar Elvaro, Rena nampak tertegun dengan sikap anaknya sedari pulang sekolah tadi. Rena tahu ada yang disembunyikan oleh Elvaro dan Rena juga yakin kalau Elvaro tengah ada masalah tetapi ia tak ingin bertanya lebih karena dikhawatirkan akan membuat Elvaro tak nyaman.

"Ya udah kalau gituh mamah tinggal ya!" kata Rena yang langsung di'iya' kan oleh Elvaro.

Dalam hati Elvaro mengaku kalau dirinya memang mencintai Clarista, tetapi di saat ia berniat menerima kenyataan, menerima perasaannya pada Clarista entah kenapa bayang-bayang itu selalu saja muncul. Bayangan menyakitkan tentang penderitaan Aldrian membuatnya terpaksa menutup hatinya pada Clarista.

Teriakan, tangisan, jeritan rasa sakit juga ketakutan yang Aldrian alami selalu saja berputar di pikiran Elvaro di saat ia menatap wajah Clarista. Seperti halnya saat ini, saat dirinya tengah memikirkan Clarista di saat bersamaan juga bayang-bayang Aldrian hadir.

"Ah jangan-jangan!"

"Tolong lepasin! Lepasin aku! Jangan!"

"Stop, sakit! Sakit, tolong!'

"Enggak! Aku gak salah! Jangan!"

Racauan itu terus saja keluar dari mulut seorang laki-laki yang bernama Aldrian itu. Aldrian tengah terduduk sebari menekuk lutut di pojok kamar. Ia terus saja meracau sebari menangis juga kedua tangan yang ia gunakan untuk menutup wajahnya seolah-olah menahan serangan dari orang lain.

Mendengar suara racauan dari arah kamar Aldrian, buru-buru Elvaro juga Rena datang menghampiri. Ini bukan kali pertama tetapi rasanya masih sangat sakit untuk mereka terima keadaan Aldrian saat ini.

Dengan penuh kesedihan, Elvaro juga Rena langsung memeluk Aldrian dengan penuh kasih sayang.

"Al, sadar! Ini mamah, kamu harus sadar!" kata Rena dengan nada bicara yang begitu lembut berharap itu akan menyadarkan Aldrian.

"Clarista! Kamu mau nolongin aku? Apa itu artinya kamu mau nerima cinta aku? Mau kan?"

Bukannya sadar, Aldrian malah bertambah meracau yang sukses membuat Elvaro juga Rena bertambah bingung.

"Ini mamah, Al bukan Clarista!" kata Rena.

"Iya, Cla! Aku juga cinta sama kamu. Kamu bilang sama mereka kalau aku pantes buat kamu, bilang sama mereka jangan ganggu aku terus. Mereka harus tahu kalau cinta aku tuh bisa terbalaskan!"

Air mata Elvaro juga Rena seketika langsung tumpah. Sudah dua minggu lebih keadaan Aldrian seperti ini dan mereka belum tahu apa penyebabnya tapi saat ini Elvaro bisa menyimpulkan semuanya dan saat ini pula Elvaro mulai mencari tahu siapa Clarista yang dimaksud oleh kakaknya itu.

Lagi-lagi bayangan kejadian itu kembali hadir di pikiran Elvaro. Kejadian menyakitkan yang membuatnya dilema dengan perasaannya saat ini.

Tak ingin terus terkurung dengan rasa sakitnya, Elvaro memilih untuk keluar dari kamarnya guna mencari suasana baru.

"El! Kamu mau ke mana malam-malam gini?" tanya Rena yang tengah membereskan bekas makan malamnya.

"Keluar sebentar, mah. Cari angin," balas Elvaro.

Rena tak banyak bertanya. Terlihat sangat jelas di mata Rena bahwa anaknya itu tengah mengalami masalah tetapi Rena tak ingin terlalu ikut campur, bukan bermaksud tak peduli hanya saja Rena tipikal ibu yang memantau secara diam.

Di malam yang terasa begitu sunyi, Elvaro mengendarai motornya menyusuri jalan tanpa tujuan yang jelas. Masih dengan pikiran yang sama tetapi di tempat yang berbeda, Elvaro berharap ia mendapat solusi untuk situasinya saat ini.

Di persimpangan jalan, Elvaro tidak memerhatikan sekitar sampai ia tak menyadari ada seorang kucing yang tengah melintas dan sukses membuatnya terkejut bahkan juga sampai terjatuh.

"Argh!" teriak Elvaro karena ia merasa harinya saat ini benar-benar kacau.

Elvaro duduk di tepi jalan dan membiarkan motornya tergeletak begitu saja. Keadaan ini benar-benar di luar dugaannya dan Elvaro benci dengan keadaannya yang seperti ini.

Ini akibat dari tindakannya sendiri dan bahkan ini juga keinginannya sejak awal tetapi dengan kejadiannya tadi membuat Elvaro seakan menyesal dengan apa yang sudah ia perbuat.

Tanpa Elvaro sadari, air matanya jatuh membasahi kedua pipinya. Untuk pertama kalinya, Elvaro menangis karena cinta, terlebih rasa cintanya jatuh pada orang yang sama dengan orang yang membuat kakanya sakit karena cinta.

"El!"

Panggilan itu seketika membuyarkan lamunan Elvaro dan iapun buru-buru mengusap air matanya yang tadi sempat jatuh.

Elvaro menolehkan pandangannya ke arah sumber suara lalu iapun sedikit melemparkan senyuman ke arah orang itu.

"Eh, elo!" kata Elvaro.

Terlihat sangat jelas di mata Tian bahwa Elvaro tadi sempat menangis. Namun pandangan Tian tertarik ke arah motor Elvaro yang masih tergeletak di pinggir jalan.

"Lo abis jatoh?" tanya Tian memastikan.

"Iya. Tadi ngehindarin kucing karena kaget jadinya jatoh," balas Elvaro.

"Oh, tapi lo gak papa kan? Kenapa motornya dibiarin gituh aja? Motornya rusak apa lonya yang luka parah?" cerocos Tian.

"Enggak kok gak papa, aman kok. Semuanya aman," ujar Elvaro.

Tian mengangguk paham sebelum akhirnya ia ikut terdiam. Tian bukan sekedar diam, ia tengah memikirkan dari mana memulai pembicarannya dengan Elvaro untuk membahas permasalahannya dengan Clarista. Bukan maksud untuk ikut campur hanya saja Tian ingin membantu sebagai teman.

"Lo abis dari mana?" Elvaro balik bertanya.

"Ini tadi gue abis beli stok cemilan di minimarket. Pas lewat sini gak sengaja lihat lo jadinya gue berhenti deh!" jawab Tian.

Elvaro tak menanggapi lagi, ia kembali diam seperti halnya tadi.

Dirasa suasana sedikit canggung, Tianpun beranjak dari duduknya lalu berjalan ke arah motornya terparkir yang terletak tak jauh dari tempat mereka.

Tian membawa dua kaleng minuman soda bermaksud untuk memberikan satunya kepada Elvaro guna menenangkan pikiran Elvaro walau hanya sekejap.

"Diminum dulu, El biar agak tenangan!" kata Tian sebari menyodorkan minuman itu.

Walau di awal sempat ragu, Elvaro tetap menerima pemberian Tian tadi karena tak dapat dipungkiri Elvaro juga merasa sedikit haus.

"Sebelumnya maaf, El! Gue tahu kok permasalahan antara lo sama Clarista, pasti itu kan yang buat lo kepikiran sekarang?"

Elvaro sedikit tertegun mendengar perkataan yang keluar dari mulut Tian. Tapi memang wajar, Elvaro sendiri tahu bahwa Tian adalah pacarnya Sarah, yang mana Sarah adalah sahabat dari Clarista. Jadi memang sepantasnya mereka sama-sama tahu.

"Lo benci sama gue?" tanya Elvaro sebari memasang senyuman miris.

"Benci? Buat apa dan kenapa?" Tian kembali bertanya lalu dilanjut dengan meneguk minuman itu sampai habis.

"Ya karena gue udah mempermainan perasaan sahabat pacar lo," balas Elvaro.

TIPU DAYA CINTA [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang