38. khawatir

23 1 0
                                        

"Lo Clarista kan? Ngapain lo di sini?"

Pertanyaan itu membuat Clarista terdiam. Sejenak ia berpikir, jawaban apa yang harus ia berikan. Berbohong atau jujur, hanya itu pilihannya.

Tetapi, untuk menuntaskan rasa penasarannya, sepertinya Clarista memang harus jujur supaya ia tidak terus menerka-nerka dan dilanda rasa penasaran.

"Gue mau nyari Elvaro," jawab Clarista.

Sarah yang sedari tadi memang tidak mengetahui maksud dan tujuan Clarista akhirnya merasa tercengang ketika mendengar jawaban dari Clarista.

Dalam diam Sarah tersenyum, perkiraannya memang tidak salah bahwasannya Clarista belakangan ini sedangkan merasakan jatuh cinta, hanya saja ia tidak menyadarinya.

"Si El gak masuk, katanya dia sakit," kata perempuan itu.

Clarista merasa terkejut bahkan tanpa sadar ia merasa cemas. "Sakit apa?" tanyanya khawatir.

"Ya mana gue tahu," balas perempuan itu lalu berlalu pergi.

Raut kecemasan semakin jelas terlihat di wajah Clarista. Iapun bergerak gelisah dan tiba-tiba saja Clarista teringat akan kejadian kemarin.

"Lo kenapa sih? Khawatir lo?" tanya Sarah.

"Ya jelas khawatirlah. Si El sakit pasti gara-gara gue kemarin," balas Clarista.

Kening Sarah semakin mengernyit heran. Baru kali ini ia melihat Clarista sepeduli serta sekhawatir itu pada laki-laki.

"Emang kemarin kalian abis ngapain?" ujar Sarah.

Alih-alih menjawab, Clarista justru berdecak kesal dan nampak gelisah. Ingin rasanya Clarista menemui Elvaro namun sayang, ia tidak mengetahui tempat tinggal Elvaro.

Sarah menganga lebar ketika ia mendapati Clarista berlalu begitu saja meninggalkan dirinya tanpa sepatah kata. Dengan menahan kekesalan, Sarah menggeleng pelan sebari berlari kecil mengejar langkah Clarista.

"Jatuh cinta sih jatuh cinta tapi harus inget sama orang sekitar," dumel Sarah.

Di sisi lain, Clarista terus berjalan cepat tanpa memerdulikan keadaan sekitar. Berkali-kali ia menyenggol orang lain membuat mereka merutuk kesal namun Clarista tak memerdulikannya.

Cukup bingung memang bagi Clarista untuk menanyakan tentang Elvaro karena setahunya, laki-laki yang kini ia khawatirkan ini tidak memiliki teman dekat di sekolah.

Namun seingat Clarista, ia sering kali mendapati Elvaro tengah berbincang dengan penjaga sekolah dan itu terlihat begitu dekat di mata Clarista. Sebenarnya, bisa saja Clarista bertanya pada teman sekelas Elvaro, hanya saja Clarista tak mau mereka banyak bertanya dan mengulik lebih jauh tentang dirinya juga Elvaro.

"Cla, lo mau ke mna sih?" tanya Sarah yang sudah merasa sangat penasaran ketika Clarista berjalan menuju pos satpam.

"Ini masih jam sekolah? Lo mau ke mna? Lo mau bolos ya? Jangan ngaco deh lo!" cerocos Sarah namun Clarista tak memedulikannya. Ia terus berjalan dan masuk ke dalam pos satpam itu.

"Permisi, pak!" kata Clarista.

Laki-laki paruh baya yang mengenakan seragam satpam serta name tag bertuliskan 'Baron' Itupun terperanjat kaget. Ia yang sedari tadi tengah menyaksikan acara bola di layar ponselnya itupun langsung bangkit dari duduknya.

"Eh iya! Ada keperluan apa?" tanya Baron.

Clarista terdiam, ia tak langsung menjawab membuat Sarah kesal dan dengan teganya ia mencubit gemas lengan sahabatnya.

Mata Clarista melotot tajam ke arah Sarah seakan bertanya, apa maksud perlakuannya itu.

"Itu ditanya, jawab dong bukan malah bengong!" bisik Sarah.

Di tempatnya, Pak Baron menatap heran ke arah dua anak gadis di hadapannya itu. Namun meskipun begitu, ia tak berniat bertanya lagi, memilih mendiamkan dan membiarkan mereka bicara dengan sendirinya.

"Ini pak, saya mau nanya," kata Clarista.

"Nanya apa?" tanya Pak Baron sebari melempar senyum.

"Bapak kenal Elvaro?" tanya Clarista dengan perasaan gugup.

Pak Baron diam sejenak, ia nampak berpikir serta memastikan orang yang tengah ditanyakannya itu. "Oh Elvaro anak Ipa 1 ya?"

"Iya itu, pak. Bapak kenal?" ujar Clarista.

"Kenal kok, saya cukup kenal. Emang ada apa ya?" Pak Baron balik bertanya.

"Bapak tahu alamatnya di mana?"

Lagi-lagi Pak Baron terdiam. Kali ini bukan kegugupan yang Clarista rasakan tetapi kekhawatiran kalau saja Pak Baron tidak mengetahui tempat tinggal Elvaro. Memang ini sedikit nekad namun entah kenapa Clarista sendiri tidak tahu kenapa ia bisa melakukan hal ini.

"Kalau gak salah di Perumahan Rancamaya tapi saya gak tahu Blok apa," balas Pak Baron.

Akhirnya Clarista bisa sedikit bernapas lega setelah mendengar jawaban dari Pak Baron. "Makasih ya, pak!" ujarnya lalu melangkah pergi dan lagi-lagi meninggalkan Sarah.

Mendapati hal itu, tentu saja Sarah berdecak kesal. Iapun mendengus sebal lalu berpamitan pada Pak Baron.

Langkah Clarista begitu cepat alhasil Sarahpun tidak mengetahui Clarista berjalan ke arah mana. Namun, Sarah tak ingin mengambil pusing karena Sarah sudah terlanjur kesal pada sahabatnya itu.

Di pertigaan lorong kelas 10, langkah Sarah terhenti. Iapun merasakan ada seseorang yang tengah memegang lengannya dari arah belakang.

Bibir Sarah membentuk sebuah senyuman yang begitu manis ketika ia mencium aroma parfum yang familiar di penciumannya.

"Kamu ngapain sih sayang? Mau ngeprank aku ya?" kata Sarah ketika ia membalikan badannya dan langsung berhadapan dengan Tian.

"Kok kamu bisa tahu sih kalau ini aku?" tanya Tian diselingi dengan senyuman tipisnya.

"Ya tahu dong. Kamu lupa ya, kalau cinta itu buta. Jadi tanpa aku ngelihatpun bisa tahu kalau itu kamu atau bukan," ujar Sarah dengan ekspresi malu-malunya sedang Tian yang mendengarnya hanya bisa terkekeh.

"Kamu ini, bisa aja," kata Tian sebari mencubit gemas pipi Sarah.

Sarah tersipu malu, terbukti dari kedua pipinya yang memancarkan rona merah dan hal itu membuat Tian ikut tersenyum.

"Oh iya, kok kamu tumben sendiri? Clarista ke mana?" tanya Tian.

Perasaannya yang tadi sempat berbunga-bunga hilang seketika dan tergantikan dengan perasaan kesal. Entah kenapa mengingat sikap Clarista tadi sukses membuat mood Sarah berubah drastis.

"Dia lagi jatuh cinta, jadinya nyebelin," dumel Sarah.

Dari raut wajah Sarah, Tian tahu betul bahwa kekasihnya itu tengah merasa kesal. Perlahan tangannya ia simpan di pucuk kepala Sarah lalu dielusnya dengan begitu lembut berharap itu bisa membuat hati Sarah menjadi lebih baik.

"Udah makan belum?" tanya Tian lembut.

"Belum," balas Sarah.

"Ya udah kita ke kantin yu beli makan, masih ada waktu 15 menit lagi. Tapi paling beli cemilan aja, snack atau roti gituh. Kalau beli makanan berat takut gak keburu," ujar Tian mempertimbangkan.

"Iya boleh," jawab Sarah dibarengi dengan senyuman manisnya karena memang sikap juga perhatian Tian selalu saja membuat Sarah merasa senang.

******

Di tempat duduknya, Clarista diam sebari memandangi ponselnya. Dalam hati Clarista memiliki keinginan yang begitu besar untuk menghubungi Elvaro guna bertanya tentang keadaannya. Namun di samping itu, Clarista juga merasa takut kalau tindakannya membuat Elvaro tak nyaman yang nantinya malah menjauh.

Memang Clarista sendiri tahu akan pepatah 'Tak dicoba maka tak tahu' tapi tetap saja Clarista masih merasa ragu tentang keputusan apa yang harus ia ambil.

Bel tanda istirahat telah berakhirpun berbunyi dan Clarista baru menyadari bahwa dirinya belum sempat makan dan bahkan Clarista baru menyadari bahwa Sarah tak ada di sisinya.

"Oh iya, gue lupa kalau tadi gue udah ninggalin Sarah," kata Clarista.

TIPU DAYA CINTA [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang