33. Bingung

10 2 1
                                        

"Hah? Gak tahu?" pekik Sarah.

"Iya, gue gak tahu. Gue gak ngerti sama perasaan gue sendiri. Gue gak ngerti perasaan apa yang gue rasaian karena lo sendiri kan tahu gue gak pernah ngalamin suka-sukaan apalagi cinta-cintaan," jelas Clarista.

Sarah mengubah posisi duduknya menjadi duduk di tempat tidur Clarista, tepatnya di samping Clarista. Terlebih dahulu Sarah menyapu pandangannya ke arah sekitar guna memastikan situasi di sana aman, tanpa ada gangguan.

"Emang yang lo rasain kayak gimana?" tanya Sarah.

"Setiap gue deket sama El, gue selalu ngerasa nyaman dan aman. Dia emang nyebelin tapi dia juga selalu bisa bikin gue happy, kagum juga gue ngerasa diratukan sama dia. Dia seakan ngerti apa yang gue mau, apa yang gue rasakan, apa yang gue pikirin. Tapi ya itu, gue gak tahu itu tuh nyaman sebagai teman atau cinta," jelas Clarista.

Sarah nampak bergeming. Memang sedikit rumit untuk memahami perasaan seseorang. "Ya makannya lo tuh jangan kegedean gengsi apalagi kasar sama cowok jadi sekalinya lo deket sama cowok bingung sendiri kan," ujar Sarah.

Bantal yang sedari tadi Clarista gunakan untuk bersandar melayang begitu saja ke wajah Sarah membuat si empunya mendengus sebal. "Lo apa-apaan sih?" kesalnya.

"Kalau lo gak bisa ngasih solusi seenggaknya lo gak usah ngatain!" kata Clarista.

"Tapi Cla, lo beruntung tahu," ujar Sarah.

"Kenapa?" tanya Clarista.

"Lo beruntung si El bisa suka sama lo. Banyak tahu yang deketin tapi gak pernah direspon sama si El dan sekarang si El sendiri yang deketin lo. Ajaib gak tuh," ujar Sarah.

Clarista menghela napasnya kasar lalu ia kembali mengambil alih bantal yang tadi sempat ia lempar pada Sarah. "Gue pikir apaan. Tapi lo juga harus tahu kalau El juga beruntung tahu bisa deket sama gue karena lo sendiri tahu kan kalau gue gak pernah mau deket-deket sama cowok."

"Iya deh iya si paling oke," ujar Sarah lebih memilih mengalah.

"Jadi menurut lo, gue harus gimana?" tanya Clarista.

Sarah diam sejenak, mencoba memikirkan saran apa yang harus ia berikan pada Clarista. Memang sedikit sulit tetapi Sarah bertekad harus menemukan solusinya demi kebaikan masa depan sahabatnya.

"Ya menurut gue sih lo jalani dulu aja kedekatan lo sama El terus lo coba rasain apa bener lo ngerasa nyaman sama dia apa enggak. Terus kalau misalkan lo gak lagi sama dia, apa lo kepikiran dia enggak. Kalau hari-hari lo ngerasa hampa tanpa dia ya berarti lo beneran cinta sama dia. Tapi lo jangan bahas tentang perasaan dulu sama El selagi dia gak bahas atau dia tanya. Nanti kalau dia udah ngungkapin secara serius dan nanya lo mau apa enggak jadi pacarnya, lo jawab aja sesuai iso hati lo," jelas Sarah.

Clarista nampak diam layaknya orang yang tengah kebingungan. Bola matanya memutar seperti tengah memikirkan sesuatu, "ribet juga ya memahami cinta," katanya.

"Halah! Lebay lo!" ledek Sarah lalu iapun memilih turun dari atas tempat tidur Clarista, "ayo balik ke kelas ah. Gue kira lo beneran sakit ternyata lo cuma kena penyakit cinta," lanjutnya sebari menarik Clarista agar segera ikut turun.

******

Di dalam kelas Ipa 3 ada seorang laki-laki yang tengah duduk seorang diri di bangku belakang. Ia nampak fokus pada soal-soal yang ada di hadapannya.

Memang guru yang tengah mengajar di sana memutuskan untuk mengadakan ulangan harian yang soalnyapun tak banyak, hanya 5 soal namun berharap itu bisa melatih kerja otak anak didiknya.

Semua soal sudah Elvaro kerjakan namun ia masih senantiasa duduk di tempatnya tanpa berniat mengumpulkannya ke depan. Ia masih senantiasa duduk, memikirkan kejadian tadi di rooftop bersama Clarista.

Dalam hati ia berpikir apakah langkah yang tadi ia lakukan sudah tepat atau belum. Jika memang hal itu harus Elvaro lakukan lantas mampukah ia menyelesaikannya sesuai dengan rencana atau justru nanti Elvaro malah termakan dengan jebakannya sendiri?

Tak ingin terus menerka-nerka perihal kemungkinan yang belum tentu terjadi, Elvaropun memutuskan untuk beranjak dari tempat duduknya guna mengumpulkan hasil ujian hariannya.

"Kamu boleh tunggu di luar ya. Jangan dulu pulang sebelum bel pulang berbunyi!" kata guru itu.

Elvaro mengangguk sebagai jawaban lalu iapun berjalan keluar dan duduk di bangku yang ada di sana.

Cukup lama Elvaro duduk termenung seorang diri, bahkan pikirannya sudah berkecamuk memikirkan yang sebenarnya tak perlu dipikirkan.

Dari kejauhan, pandangan mata Elvaro tertuju pada dua orang perempuan yang tengah berjalan bersisian.

Langkahnya semakin mendekat dan dugaan Elvaro benar, mereka adalah Clarista juga Sarah.

"Pulang sekolah nanti lo ada acara gak?" tanya Sarah.

"Gak ada sih. Kenapa? Lo mau traktir gue? Ayo ajalah itu mah," kata Clarista.

Sarah berdecak kesal membuat Clarista tertawa pelan. "Makan aja yang lo pikirin. Gue bosen di rumah sendirian mulu. Ke rumah gue yu, temenin gue!" katanya.

"Selagi stok kulkas aman sih ya ayo aja!" balas Clarista.

"Gue tahu lo bakal ngomong gituh makannya semua udah gue siapin sebelum ngajak lo," kata Sarah.

Clarista tertawa lebar lalu setelah itu, iapun merangkul pundak Sarah, "emang terbaik sahabat satu-satunya gue ini," ujarnya.

"Cla!"

Panggilan itu membuat Clarista juga Sarah menghentikan langkahnya. Tanpa sadar mereka tak menyadari bahwa ada seseorang yang tengah memerhatikannya di samping mereka.

"El?" pekik Clarista merasa terkejut, "lo ngapain di sini?" lanjutnya.

"Kelas gue lagi ngadain ujian harian dan gue udah selesai jadinya nunggu di sini," balas Elvaro sedang di tempatnya, Clarista nampak diam seperti tengah memikirkan sesuatu. "Lo sendiri abis dari mana? Bukannya masih jam pelajaran," lanjutnya.

"Abis dari UKS. Nih anak katanya pusing, kirain pusing beneran tahunya pusing mikirin cinta," sahut Sarah.

Mata Clarista melotot, pandangannya mengarah tajam ke arah Sarah. Bukannya takut atau merasa bersalah, Sarah justru tersenyum meledek membuat Clarista semakin kesal dibuatnya.

"Cinta kok dipikirin. Masa depan lo pikirin, belajar yang bener. Bela-belain bolos kelas cuma buat mikirin yang gak penting," omel Elvaro.

Mata Clarista semakin melotot tajam. Ia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Elvaro. Tak hanya Clarista, Sarahpun menatap bingung ke arah sahabatnya itu.

"Kita duluan ya, El!" pamit Sarah sebari memegang kedua bahu Clarista, menggiringnya ke arah kelas karena ditakutkan pikiran Clarista semakin kacau.

"Clarista, kamu udah gak papa?" tanya guru yang tengah mengajar tadi.

"Gak papa kok, bu. Udah aman," balas Clarista dan guru itupun menyuruh Clarista juga Sarah untuk segera duduk.

Pembelajaran kembali berlangsung dan sebisa mungkin Clarista berusaha untuk fokus karena ia tak ingin kembali ditegur oleh guru.

15 menit telah berlalu, jam pembelajaran telah usai dan waktu pulang sudah tiba. Tak seperti biasanya, Clarista yang selalu menyambut jam pulang dengan penuh semangat berbanding terbalik dengan saat ini yang nampak terduduk diam di bangkunya.

"Lo kenapa?" tanya Sarah yang sudah mulai pusing dengan sikap Clarista yang akhir-akhir ini banyak perubahan. Terkadang nyenengin juga terkadang nyebelin.

"Gue bingung sama sikap si El!" jawab Clarista.

"Bingung kenapa?" Sarah kembali bertanya.

"Ya lo denger kan tadi dia bilang apa? Nyebelin banget kan omongannya, padahal jelas-jelas dia yang bikin gue pusing tapi dia malah ngatain gue. Mana lagaknya kayak orang gak punya salah apa-apa lagi," cecar Clarista.

"Emang dia beneran bilang suka sama lo sebagai pacar gituh? Lo gak salah denger?" ujar Sarah.

"Gue serius. Ini kuping gue tuh masih normal kali," balas Clarista.

Di tengah perdebatan mereka, tanpa mereka sadari, di luar kelas nampak seseorang tengah memerhatikan mereka sebari tersenyum miring.

TIPU DAYA CINTA [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang