Jam pembelajaran telah berakhir dan kini tiba waktunya untuk pulang. Masih dengan raut wajah yang sama, Clarista masih tampak bingung karena ia belum memilih keputusan apa yang akan ia ambil.
Di sampingnya, Sarah senantiasa diam sedari tadi, tak ada niatan untuk menyapa ataupun bertanya pada sahabatnya itu karena Sarah sudah termakan perasaan kesal pada Clarista.
Satu persatu warga kelas sudah meninggalkan ruangan dan tinggal tersisa Clarista juga Sarah.
Sepuluh menit sudah berlalu dan Sarah masih diam bergeming. Rasanya ia sudah benar-benar kesal karena menunggu Clarista membuka suara. Bahkan untuk menanyakan kondisi Sarah ataupun sekedar meminta maaf saja tidak.
Tak ingin terus berharap pada hal yang tak pasti, Sarah memilih bangkit dari duduknya dan berniat meninggalkan Clarista seorang diri.
Clarista yang sedari tadi melamun, terperanjat kaget ketika mendengar suara langkah kaki yang menghentak cukup kencang. Pandangan mata Clarista tertuju pada Sarah yang tengah berjalan sebari menahan kesal. Tak tinggal diam, Clarista langsung bangkit dari duduknya lalu berlari mengejar langkah Sarah.
"Sarah tunggu! Kok lo ninggalin gue sih?" ujar Clarista.
"Gue ninggalin lo? Yang ada lo kali yang tadi ninggalin gue, mana kayak gak ada rasa bersalah lagi," balas Sarah kelewat kesal.
Clarista tak membantah karena ia sadar dengan sikapnya tadi. Terlalu memikirkan Elvaro membuat pikiran Clarista sedikit kalut dan bahkan sampai saat ini, Clarista tidak tahu harus mengambil keputusan apa.
"Lo mau gak bantuin gue?" tanya Clarista.
Alih-alih menjawab, Sarah justru malah melemparkan tatapan kesal pada Clarista. Sadar akan tatapan itu, Clarista langsung membalasnya dengan cengiran lebar. "Gue tahu lo masih kesel sama gue. Tapi gue janji, sekarang gue gak akan bikin lo kesel lagi. Mau ya bantuin gue?" ujar Clarista dengan wajah memelas.
Melihat ekspresi Clarista yang penuh harap itu membuat Sarah sedikit iba. Walaupun Clarista hari ini sukses membuatnya kesal tetapi tetap saja rasa peduli Sarah terhatap sahabatnya itu cukuplah besar.
"Bantuin apa?" tanya Sarah dengan nada bicara terbilang sedikit ketus.
"Temenin gue ke rumah El!" pinta Clarista.
Kedua mata Sarah melotot tajam. "Demi apa lo?"
"Ayolah, Sar! Gue khawatir banget sama dia, mau gue telepon takut gak direspon jadi mending langsung aja ke sana," kata Clarista.
Jujur Sarah cukup terkejut mendengarnya. Clarista yang saat ini ada di dekatnya seperti bukan Clarista pada biasanya. Sarah sendiri tahu bahwa sahabatnya ini tengah merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya tetapi ia tidak menyangka bahwa efeknya akan seperti ini.
"Lo yakin?" tanya Sarah memastikan.
"Iya gue yakin," balas Clarista penuh penekanan.
"Ya udah bentar gue pesen taxi dulu," kata Sarah yang langsung diangguki oleh Clarista. "Perumahan Rancamaya kan?" lanjut Sarah dah lagi-lagi Clarista hanya mengangguk.
**
Setibanya di depan gerbang perumahan yang mereka tuju, Clarista juga Sarah turun dari dalam taxi yang mereka tumpangi.
Tepat di dekat gerbang itu, terdapat pos satpam yang kebetulan tengah ada yang berjaga. Clarista berjalan menuju pos satpam itu diikuti oleh Sarah di belakangnya.
"Permisi pak! Maaf, mau nanya. Apa benar di sini ada yang tinggal namanya Elvaro?" tanya Clarista.
"Kalau boleh tahu nama lengkapnya siapa?" Satpam itu balik bertanya.
Clarista diam. Ia sendiri tidak tahu nama lengkap Elvaro, "kalau nama lengkapnya saya kurang tahu pak, tapi dia satu sekolah sama saya. Ini nih baju seragamnya," kata Clarista sebari memperlihatkan seragam sekolahnya.
Satpam itu nampak meneliti seragam yang dikenakan Clarista dan sepertinya satpam itupun tahu siapa yang dimaksud oleh Clarista.
"Oh El anaknya Pak Rizal kali ya. Itu rumahnya di Blok E 5. Dari sini tinggal lurus terus belok kanan lurus lagi mentok belok kiri," kata satpam itu.
"Terima kasih, pak!" kata Clarista dan setelah itu iapun menarik Sarah untuk segera berjalan ke tempat yang sudah satpam itu arahkan.
Langkah Clarista juga Sarah terhenti ketika mereka sampai di depan rumah yang bertanda Blok E 5. Rumah itu nampak bersih namun terlihat sepi. Banyak sepatu berjejer rapi di dalam rak sepatu dan salah satu di antaranya, Clarista mengenali sepatu itu.
"Ini sepatu si El. Berarti bener ini rumahnya," kata Clarista.
"Rajin bener lo sampai merhatiin sepatunya si El," celetuk Sarah.
"Bukan rajin tapi gak sengaja pernah merhatiin," balas Clarista.
Memilih untuk diam. Sarah menghela napasnya kasar dan membiarkan Clarista melakukan apapun yang ingin ia lakukan, seperti contohnya ; mondar-mandir di depan pintu.
Jujur saja Sarah risih namun ia sedang tidak ingin berdebat dengan Clarista yang tengah dilanda jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Sudah lima menit berlalu dan Clarista masih di posisi yang sama, tidak ada perubahan sedikitpun. Sedang di sisi lain, Sarah nampak asyik memainkan ponselnya sebari berdiri dengan menyender ke tembok.
Mata Clarista melotot tajam tatkala sialnya ia tak sengaja memencet bel rumah. Mendengar akan hal itu Sarah sedikit bernapas lega karena pada akhirnya penantian Sarah akhirnya berakhir juga.
Seluruh tubuh Clarista mengeluarkan keringat dingin. Perasaannya mendadak cemas ketika perlahan pintu rumahnya mulai terbuka.
"Kalian cari siapa?" tanya Rena setelah ia berhasil membuka pintu secara keseluruhan.
Alih-alih menjawab, Clarista justru diam seribu bahasa membuat Rena terheran-heran. Gemas dengan sikap sahabatnya itu, Sarah yang sedari tadi hanya asyik menontonpun mulai melancarkan aksinya.
"Kami cari Elvaro, tan. Kami teman sekolahnya El," kata Sarah.
"Oh temennya, El. Ya udah yu masuk!" ajak Rena sebari mempersilahkan Clarista juga Sarah masuk, tak lupa juga dibarengi dengan senyuman.
Clarista membeku di tempatnya, ia masih tak percaya dengan apa yang Sarah katakan tadi. Berbanding terbalik dengan Clarista yang masih diam di tempat, Sarah justru malah sudah berjalan masuk tanpa menyadari Clarista tertinggal.
"Kalian tunggu sini ya. Tante panggil dulu El!" kata Rena.
Sarah menatap takjub pada ruang tamu yang kini sedang ia tempati, elegant juga tertata rapi. "Bagus ya interior rumahnya!" kata Sarah namun sudah 5 menit berlalu tak kunjung ada respon dari arah belakang.
Kesal, Sarahpun memutuskan untuk berbalik badan dan saat itu juga mata Sarah melotot tajam, Clarista tak ada di belakangnya.
Sebari menghela napas kesalnya, Sarah melangkahkan kakinya ke arah luar. Di ambang pintu, Sarah melihat Clarista yang masih senantiasa diam dengan tatapan kosong. Tanpa mengucapkan satu katapun, Sarah menarik lengan Clarista dan membawanya masuk ke dalam rumah Elvaro.
Mendapatkan serangan yang cukup mendadak, Claristapun merasakan detak jantungnya berpacu begitu cepat. Tak hanya itu, napasnyapun terasa terengah-engah membuat Sarah menahan tawa.
"Lo mau bikin gue mati ya?" tuding Clarista.
"Halah! Lebay lo," balas Sarah.
Terdengar suara langkah kaki dari arah belakang membuat Clarista juga Sarah menoleh ke arah sumber suara. Ada rasa yang tak bisa dijelaskan dalam hati Clarista ketika ia melihat Elvaro tengah berjalan ke arahnya. Wajahnya sedikit pucat juga badannya terlihat begitu lemas. Entah itu khawatir atau merasa bersalah yang jelas dada Clarista sedikit merasa sesak ketika melihat keadaan Elvaro seperti itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
TIPU DAYA CINTA [End]
RomansaKata orang cinta itu indah. Di mana kita bisa disayangi sepenuh hati, diberi perhatian tanpa pamrih juga dilindungi tanpa dipinta. Tapi tidak bagi Clarista, ia terjebak dalam sebuah permain cinta yang penuh dengan tipu daya. Diberi suka juga diberi...
![TIPU DAYA CINTA [End]](https://img.wattpad.com/cover/372983057-64-k865237.jpg)