Setelah memastikan sarapan untuk Elvaro aman, Clarista bergegas menggantikan pakaiannya menjadi pakaian seragam sekolah. Bukan hanya mengganti pakaian, Clarista juga melanjutkan untuk merias wajahnya serta menata rambutnya menjadi lebih rapih.
Sedang di sisi lain, Manda masih sibuk mempersiapkan sarapannya sedangkan Irwan tengah bersiap-siap untuk berangkat kerja.
Pagi ini Manda terbilang cukup rajin karena menu sarapan pagi ini adalah soto ayam karena memang Manda baru saja mendapat setoran dari Sang suami alhasil Manda ingin membuat menu makanan yang special.
Tak lama Irwan datang dengan pakaian kerjanya di susul dengan kedatangan Clarista yang menarik perhatian orang tuanya.
"Kenapa ngelihatin Rista kayak gituh?" tanya Clariista seraya ia duduk di kursi tempat makan.
"Wangi dan rapih banget kamu. Tumben amat," celetuk Irwan lalu iapun ikut duduk.
Manda menatap heran ke anaknya itu sebari menghidangkan makanan yang baru saja ia masak. Jujur Clarista merasa tak nyaman dengan tatapan kedua orangtuanya namun bagaimanapun Clarista tetap harus menghadapi semua itu.
"Tadi kamu abis masak? Buat siapa? Kok gak dimakan?" tanya Irwan yang tidak tahu bahwa masakan Clarista tadi dimasukan ke dalam kotak beukal.
"Diumpetin, gak tahu buat siapa. Anak kamu lagi aneh tuh," celetuk Manda yang sukses membuat Clarista gelagapan.
"Kamu lagi nyembunyiin sesuatu dari mamah sama papah?" tanya Irwan.
Clarista menatap canggung ke arah Irwan sebari terus mengunyah makanannya. Ia memang berniat untuk cerita tentang hubungannya sekarang bersama Elvaro tetapi Clarista tidak tahu harus memulainya dari mana juga ia belum siap mendapat segala ejekan dari orangtuanya.
"Enggak kok, pah. Rista gak nyembunyiin apa-apa. Rista tadi masak buat beukel makan siang Rista aja nanti di sekolah," balas Clarista.
"Emang iya? Tumben banget mau bawa beukeul, kenapa?" cecar Manda.
"Ya gak papa, Rista males aja desek-desekan ke kantin soalnya suka keburu-buru makannya," balas Clarista.
Tak ada tanggapan apa-apa lagi baik dari Manda maupun dari Irwan. Mereka hanya diam membiarkan anaknya menikmati masa mudanya. Tidak bisa dipungkiri bahwa mereka juga tahu bahwa anaknya tengah berbohong dan sibuk mencari-cari alasan. Manda juga Irwan memilih membiarkan anaknya berbohong bukan karena tak sayang melainkan mereka ingin memberikan ruang privasi bagi anaknya dan membiarkan anaknya memilih waktunya sendiri untuk bercerita.
Tak lama ponsel Clarista berbunyi, ada pesan masuk yang dikirimkan oleh Elvaro dan hal itu membuat Clarista mengalihkan perhatiannya.
[Aku udh di dpn ya!]
Begitulah isi pesan yang Elvaro kirimkan dan beruntungnya Clarista sudah menyelesaikan sarapannya lalu iapun bergegas berjalan ke luar rumah membuat Manda juga Irwan bertanya-tanya.
Dengan senyuman manisnya, Elvaro menyambut kedatangan Clarista yang pada saat itu juga tengah tersenyum.
"Masuk dulu!" pinta Clarista.
"Boleh," balas Elvaro seraya turun dari motornya.
Melihat kedatangan Elvaro seakan memberi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang ada di benak orangtua Clarista.
Dengan sopan Elvaro menyalami tangan Manda juga Irwan secara bergantian.
"Aku ambil tas dulu!" kata Clarista yang diangguki oleh Elvaro.
Sementara itu Elvaro dipersilahkan duduk oleh orangtua Clarista bahkan dipersilahkan untuk ikut sarapan namun Elvaro menolak dengan alasan sudah sarapan di rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
TIPU DAYA CINTA [End]
RomanceKata orang cinta itu indah. Di mana kita bisa disayangi sepenuh hati, diberi perhatian tanpa pamrih juga dilindungi tanpa dipinta. Tapi tidak bagi Clarista, ia terjebak dalam sebuah permain cinta yang penuh dengan tipu daya. Diberi suka juga diberi...
![TIPU DAYA CINTA [End]](https://img.wattpad.com/cover/372983057-64-k865237.jpg)