30. Tentang Bubur

6 2 1
                                        

Terlihat dengan jelas senyum ledekan yang dikeluarkan Manda juga Rizal. Tentu saja hal itu membuat Clarista tak suka juga kesal. .

"Caelah mau breakfeast berdua kayaknya tuh, pah!" celetuk Manda.

"Jadi inget waktu kita muda dulu ya, mah," sahut Rizal.

Semburat merah sudah nampak di kedua pipi Clarista. Rasanya ia ingin sekali kabur dari sana karena Clarista sudah tak sanggup menjadi bahan candaan kedua orangtuanya lagi.

"Mah! Pah!" lirih Clarista berharap kedua orangtuanya paham.

"Iya-iya papah paham kok," kata Rizal membuat Clarista sedikit lebih tenang. "Kamu udah gak sabar kan pengen jalan sama El. Ya udah sana cepet jalan tapi hati-hati ya El. Jagain Rista!" lanjutnya.

Mata Clarista melotot tajam, ternyata dugaannya salah. Dalam hati Clarista merasa heran kenapa orangtuanya senang sekali membuat dirinya sebagai bahan candaan.

Sesampainya di luar rumah, ekspresi Clarista nampak ditekuk seakan tidak bersemangat. Walau sebenarnya dalam hati Clarista ada sedikit merasa senang dengan pernyataan Elvaro tadi, namun tetap saja Clarista masih kesal dengan kelakuan ayahnya tadi.

"Kenapa? Lo gak suka ya gue jemput? Atau lo gak suka gue ajak sarapan bareng?" tanya Elvaro.

"Eh enggak-enggak kok. Gue suka kok. Cuma gue kesel aja sama mamah sama papah, mereka tuh seneng banget cengcengin gue," balas Clarista.

"Oh ya udah sih gak papa, namanya juga orangtua. Malah baguslah gak kaku, itu tandanya mereka tuh peduli, sayang sama lo jadi mau nyiptain suasana antara orangtua sama anak tuh happy, gak canggung," kata Elvaro.

Sejenak Clarista terdiam, mencoba mencerna apa yang Elvaro katakan. Memang benar, seharusnya ia bersyukur karena memiliki keluarga yang harmonis juga perhatian pada dirinya.

"Ayo naik!" titah Elvaro.

Tanpa banyak bicara, Claristapun bergegas naik lalu Elvaro mulai melajukan motornya.

Hari masih pagi, jalananpun masih terbilang cukup sepi. Elvaro memacu motornya dengan kecepatan cukup lambat membuat Clarista menjadi bertanya-tanya.

"Lo lagi cari sesuatu?" tanya Clarista.

"Enggak. Kenapa emang?" Elvaro balik bertanya.

"Enggak papa. Soalnya lo bawa motornya pelan banget kayak lagi nyari sesuatu," balas Clarista.

"Oh. Ya gue cuma mau nikmatin waktu berdua aja," kata Elvaro dengan santai, beda halnya dengan Clarista yang nampak tertegun seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar.

Dari pantulan kaca spion, Elvaro bisa melihat raut wajah Clarista yang nampak tersipu malu dan sontak bibir Elvaro membentuk sebuah senyuman namun bukanlah senyuman manis melainkan senyuman miring.

"Kita turun dulu di sini," kata Elvaro seraya menepikan motornya di dekat sebuah taman.

Walau masih dengan perasaan yang sulit dijelaskan, Claristapun bergegas turun dan mengikuti langkah Elvaro yang berjalan memasuki area taman.

Di sebuah kursi panjang, mereka duduk bersebelahan dengan isi pikiran mereka yang berbeda.

"Nih makan!" ujar Elvaro sehari menyodorkan satu bungkus Bubur Ayam.

"Makasih!' balas Clarista menerimanya dengan baik.

Mata Clarista terbelalak heran. Ia tertegun ketika membuka bungkus Bubur Ayam. Perlahan matanya melirik ke arah Elvaro seakan meminta penjelasan.

"Kenapa? Gak suka? Apa ada yang salah?" tanya Elvaro.

"Enggak. Kok lo bisa tahu sih requestan gue kalau beli bubur. Tanpa bawang, kecapnya banyakin tapi dipisah, pake sate ati 2 tusuk," ujar Clarista.

"Oh iya gituh? Kebetulan aja kali. Tadi gawangnya emang lagi abis terus kalau di situ kecapnya emang dipisah biar sesuai selera katanya terus kalau ati, emang gue juga suka ati. Tuh sama kan sama punya gue?" ujar Elvaro yang menunjukan penampilan buburnya sama dengan milik Clarista karena ia memang sengaja memesan dengan requestan yang sama.

Clarista mengangguk paham setelah melihat bubur milik Elvaro. Walau begitu, Clarista tetap merasa ada yang aneh. Akhir-akhir ini Clarista memang sering kali mendapatkan kejanggalan dalam hari-harinya. Dari mulai mendapatkan kiriman soto ayam kesukaannya, kedatangan kucing yang tiba-tiba ditambah dengan kejadian sekarang.

"Dimakan dong!" pinta Elvaro karena Clarista masih senantiasa diam.

Sepuluh menit sudah berlalu, sarapan keduanyapun sudah termakan habis. Elvaro kembali mengajak Clarista untuk melanjutkan perjalannya dan tak lama merekapun sudah sampai di area parkiran sekolah.

"Asyik banget nih yang udah sarapan bareng!"

Clarista tercengang ketika pendengarannya mendapati suara seseorang dari arah belakangnya. Sontak iapun bergegas menoleh dan pandangannya mendapati Sarah tengah berdiri di sana bersama dengan Tian.

"Kenapa lo? Kaget ya karena gue tahu?" tebak Sarah sehari melemparkan senyuman meledek.

Lain halnya dengan Clarista, di sampingnya Elvaro nampak biasa saja dan bahkan seperti tidak peduli dengan apa yang dikatakan Sarah. Cepat Elvaropun melangkah pergi tanpa mengatakan apapun pada Clarista.

Tentu saja Clarista kesal namun tidak mungkin jika ia harus mengejar langkah Elvaro yang mana itu nanti akan  menjadi bahan ledekan Sarah lagi.

"Lo tahu dari mana?" tanya Clarista meminta penjelasan.

"Gue lihat sendiri. Tadi pas berangkat gue lewat situ eh gak sengaja ngelihat kalian lagi duduk bareng sambil makan bareng. Gemes ya, apa jangan-jangan lo udah jadian  ya sama dia?" kata Sarah.

"Sembarangan," bantah Clarista seakan tak terima dengan perkataan  Sarah walau dalam hati ia seperti menginginkan hal itu.

"Ih emang kenapa sih? Lagian si El kan ganteng, baik sama perhatian juga sama lo," ujar Sarah.

"Tapi kalau dianya gak mau sama gue ya sama aja bohong dong," balas Clarista.

"Berarti lo mau dong sama dia," timpal Sarah.

Mata Clarista terbelalak kaget. Sepertinya ia telah salah berucap. Tak ingin semuanya semakin kacau, Claristapun memilih pergi dari sana meninggalkan Sarah juga Tian yang masih terdiam di tempat.

"Hari ini temenmu agak aneh," kata Tian.

"Biasalah orang lagi jatuh cinta," balas Sarah.

"Oh iya lupa. Dulu juga kamu sama anehnya pas pertama kali jatuh cinta sama aku," ujar Tian sehari menaikan kedua halisnya.

"Au ah," kata Sarah lalu melenggang pergi, meninggalkan Tian seorang diri.

*****

Bel istirahat sudah berbunyi, Clarista yang memang sudah merasa lapar itupun bergegas membereskan alat tulisnya ke dalam tas dan bergegas beranjak dari tempat duduknya. Namun belum sempat kaki Clarista melangkah, ponselnya sudah lebih dulu berbunyi.

Ada pesan masuk yang dikirimkan oleh Elvaro. Dalam hati Clarista sedikit kesal karena untuk saat ini Clarista sedang tidak ingin diganggu, yang ia inginkan saat ini hanyalah pergi ke kantin lalu makan. .

"Ayo buruan! Laper gue!" kata Clarista sembari melenggang pergi keluar kelas tanpa berniat membuka pesan yang Elvaro kirimkan.

Melihat hal itu, Sarah hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan sehari berjalan mengikuti langkah sahabatnya itu.

"Aduh!" ringis Sarah ketika kepalanya tak sengaja menabrak punggung Clarista karena Clarista tiba-tiba menghentikan langkahnya. "Lo kenapa sih tiba-tiba berhenti? Jadi nabrak kan gue," lanjutnya.

Lama tak ada jawaban dari Clarista dan itu cukup membuat Sarah kesal. Tak pikir panjang, Sarahpun langsung mengubah posisinya menjadi di samping Clarista.

Helaan napas kesal keluar dari diri Sarah dan itu bisa didengar oleh Clarista. "Pantes aja," kata Sarah.



TIPU DAYA CINTA [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang