36. Hujan

8 2 1
                                        

Sore ini, suasana jalanan cukup lenggang, tak seperti biasanya. Cuaca yang sedikit mendung mungkin menyebabkan sebagian orang untuk memllih berdiam diri di rumah sedangkan jam pulang kantor sudah lewat sejak satu jam yang lalu.

Air dari atas langit sudah mulai berjatuhan sedikit demi sedikit. Clarista mendesah kesal karena ia sudah yakin tak lama lagi hujan deras akan segera turun.

Elvaro mulai memelankan laju motornya ketika ia merasakan gemercik hujan mulai membasahi sebagian tubuhnya.

"Kenapa berhenti?" tanya Clarista.

"Hujan," balas Elvaro.

"Terus kenapa? Lo takut hujan?" ujar Clarista dengan ekspresi penuh tanya.

Elvaro menghela napasnya kasar. Pertanyaan Clarista yang terkesan meledek sedikit membuatnya tersinggung.

"Bukan gue, tapi lo. Siapa tahu lo takut hujan," balas Elvaro.

Clarista terkekeh tatkala mendengar penuturan dari Elvaro. "Gue gak selebay itu kali," katanya.

Hawa dingin sudah menyeruak masuk ke tubuh Elvaro juga Clarista. Keduanya mulai merasa kedinginan terbukti dengan kedua tangan mereka terlipat di depan dada masing-masing. Air hujanpun sudah terasa semakin deras dan dengan cepat Elvaro langsung melajukan motornya secara perlahan guna mencari tempat untuk berteduh.

Dari kejauhan, Elvaro melihat toko yang sudah tutup maka dari itu Elvaro memutuskan untuk berteduh di sana.

"Kita neduh dulu di sini," kata Elvaro seraya membuka helmnya dan diikuti oleh Clarista yang turun dari atas motor juga membuka helmnya.

"Its oke," balas Clarista lalu memilih duduk di bangku yang tersedia di depan toko itu.

Elvaro masih diam di tempatnya. Entah kenapa perasaan Elvaro saat ini sulit untuk dijelaskan. Ada rasa gugup yang entah karena apa. Perlahan Elvaro menghela napasnya guna membuat perasaannya kembali menjadi normal. Melihat hal itu, Clarista yang tengah duduk tak jauh dari tempat Elvaro menatap heran.

"Kenapa lo?" tanya Clarista.

Elvaro terkesiap membuat Clarista bertambah heran. "Sakit lo?" tebak Clarista.

"Gak papa," jawab Elvaro lalu berjalan menghampiri Clarista dan duduk di sebelahnya.

Cukup lama mereka saling diam hingga tiba waktunya Clarista sudah tidak bisa menahan rasa dinginnya terbukti dengan tubuhnya yang sedikit menggigil.

Elvaro yang duduk di sampingnya merasakan getaran pelan di tubuh Clarista membuatnya melirik khawatir ke arah Clarista.

Dilihatnya bibir Clarista sedikit pucat, badannyapun mengigil. Entah kenapa perasaan khawatir tiba-tiba saja muncul dalam hati Elvaro, refleks Elvaro membuka jaketnya lalu dipasangkannya ke atas pundak Clarista.

Clarista sedikit terkesiap, iapun melirik pelan ke arah Elvaro lalu menatapnya bingung.

"Jangan geer dulu. Gue tahu lo kedinginan. Kalau lo sakit sekarang, gue juga yang repot," kata Elvaro.

Jujur Clarista dibuat bingung dengan sikap Elvaro. Ia sering kali membuatnya nyaman, bahkan beberapa kali membuat Clarista terbawa perasaan. Tapi di samping itu Elvaro juga sering kali menyebalkan seakan ia tak punya salah apa-apa. Seperti halnya saat ini, ia membuat Clarista baper juga kesal secara bersamaan.

"Oke, thanks!" kata Clarista yang tak dijawab apapun oleh Elvaro.

Tak ada perbincangan apapun lagi setelah itu. Keduanya sama-sama sibuk dengan perasaan masing-masing yang tidak bisa dijelaskan sampai pada akhirnya ada suara yang memecahkan keheningan di antara mereka.

TIPU DAYA CINTA [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang