56. Perjuangan

8 0 0
                                        

Tian tersenyum sebari mengelus pelan bahu Elvaro. Ia memang baru mengenal Elvaro belum lama ini tetapi Tian sudah menganggap Elvaro lebih dari seorang sahabat terlebih Tian juga merasa bahwa Elvaro adalah orang baik, mungkin Elvaro melakukan semua ini semata-mata untuk menyalurkan rasa sakitnya dan mengajarkan arti saling menghargai pada Clarista.

"Kalau mau nangis, nangis aja! Gak papa kok," kata Tian ketika ia menyadari bahwa Elvaro tengah menahan tangis.

Untuk saat ini Elvaro rela menahan egonya untuk tidak memerlihatkan sisi lemahnya. Air mata Elvaro seketika tumpah membanjiri kedua pipinya.

Dari sini Tian bisa yakin bahwa Elvaro memang mencintai Clarista hanya saja kisah masa lalunya tentang Clarista yang mungkin menjadi penyebab untuk Elvaro tidak mau mengakui perasaannya.

"Semua orang berhak kecewa dan juga marah, termasuk lo. Semua orang juga pasti punya kesalahan, termasuk Clarista. Tapi semua orang juga berhak menerima kesempatan kedua, termasuk kalian," kata Tian yang sukses menarik perhatian Elvaro. Ia yang sedari awal menatap ke depan seketika menoleh ke arah Tian.

"Ya kalian berhak mendapat kesempatan kedua. Lo berhak menata kembali hati lo yang tadinya sempat kecewa bahkan mungkin benci. Dan Clarista berhak memerbaiki kesalahannya. Ya intinya kalian mencoba hidup baru, menata lembaran baru. Gak salah juga kan? Ya gue paham masa lalu keluarga lo sama Clarista kayak gimana. Tapi apa salahnya kan mencoba menerima kenyataan untuk menata hidup yang lebih baik? Terkadang ya, buat mencapai bahagia kita harus sedikit terluka," jelas Tian.

Elvaro sedikit merenung. Penjelasan dari Tian membuat pikiran Elvaro sedikit terbuka. Selama ini memang hati Elvaro dipenuhi dengan rasa amarah dan sepertinya hari ini amarahnya sudah mulai mereda.

"Makasih ya!" kata Elvaro sebari tersenyum.

"Sama-sama!" balas Tian seraya ia beranjak dari duduknya. "Semangat. Perjuangin cinta lo!' lanjutnya.

"Sekali lagi makasih ya!" ujar Elvaro.

Tian lekas tersenyum sebari berjalan ke arah motornya. "Gue duluan. Jangan lama-lama di sini takut dipepet ani-ani!" ujar Tian.

Elvaro terkekeh pelan seraya melambaikan tangan ke arah Tian yang perlahan menjauh dari pandangannya.

Lagi-lagi Elvaro terdiam namun bukan karena sedih melainkan Elvaro mencoba berpikir bagaimana caranya untuk ia memerbaiki hubungannya dengan Clarista.

Hari sudah semakin malam dan Elvaro merasa badannya sudah tidak enak karena memang Elvaro tidak terlalu kuat dengan udara malam dan alhasil Elvaro memilih untuk pulang.

**

Kenyataan yang Clarista dapat tadi siang sukses membuat hidupnya seketika hancur. Di saat dirinya mulai merasakan apa itu cinta? Bagaimana rasanya dicintai? Namun di saat bersamaan Clarista harus dikecewakan dengan cinta pula.

Ini memang salahnya tetapi rasanya Clarista belum siap dengan semua kenyataan yang ia dapat saat ini.

Clarista merutuki dirinya sendiri karena sikapnya di masa lalu membuat hidupnya saat ini hancur. Clarista saat ini sadar bahwa dirinya tengah menerima hukum tabur tuai. Apa yang Clarista perbuat di masa lalu berdampak pada kehidupannya saat ini.

Sepulang dari sekolah tadi, Clarista menghabiskan waktunya di dalam kamar tanpa ada niatan untuk keluar barang sekedar mandi ataupun makan.

Berkali-kali Manda memanggilnya namun tidak ada tanggapan apapun dari anaknya itu alhasil Manda memilih membiarkannya saja.

"Pantes aja waktu pertama kali aku ngelihat kamu tuh kayak gak asing ternyata ini jawabannya," gumam Clarista dibarengi dengan air mata yang membasahi kedua pipinya.

Bayang-bayang kebersamaan antara dirinya dan juga Elvaro terus saja berputar di pikiran Clarista. Memang kebersamaan mereka terbilang singkat namun itu mampu membekas di hati juga pikiran Clarista.

**

Pagi yang terasa sepi. Clarista berjalan lesu menyusuri koridor sekolah. Rasanya tidak ada alasan lagi untuk ia selalu bersemangat di setiap harinya.

Dunia terasa kejam walau Clarista sendiri tahu betapa kejamnya ia dulu. Samar-samar Clarista merasakan ada seseorang yang tengah memerhatikannya dari arah belakang alhasil iapun mencoba menoleh namun Clarista tidak menemukan apapun. Mungkin hanya perasaannya saja.

Suasana masih terbilang sepi karena memang Clarista berangkat lebih pagi dari biasanya guna menghindari pertanyaan beruntun dari orangtuanya.

Mata Clarista terasa agak berat dikarenakan tidur yang sangat kurang, masalahnya dengan Elvaro sukses menyita semua isi pikiran Clarista. Sesampainya di tempat duduknya, Clarista langsung menumpahkan kepalanya di atas meja lalu dengan sekejap Clarista langsung berada di alam mimpinya.

Dari arah luar kelas nampak Elvaro yang tengah memerhatikan Clarista secara diam-diam. Sama halnya dengan Clarista, Elvaro juga merasakan apa yang Clarista rasakan. Sedih, bimbang dan juga ... rindu.

Tepat jam 6 pagi, Elvaro sudah memantau kediaman Clarista guna melihat kondisi Clarista. Elvaro ingin memastikan apakah perempuan yang ia cintai saat ini juga benar-benar mencintainya. Dan juga apakah Clarista juga merasa terpukul seperti halnya yang ia rasakan?

Walau hanya memantaunya dari kejauhan tetapi Elvaro bisa melihat dengan jelas bahwa kondisi Clarista tidak baik-baik saja. Ada kesedihan yang sangat mendalam di dalam hatinya, ada kerinduan yang terpancar dari balik matanya dan juga ada kekecewaan di setiap langkahnya. Apa yang dikatakan Tian semalam benar-benar harus Elvaro lakukan? Mencoba memerbaiki semuanya dan memulai kehidupan baru?

Tapi saat ini yang menyita pikiran Elvaro adalah ... apa Clarista mau?

"El!"

Elvaro terperanjat ketika namanya dipanggil. Rupanya ada Sarah juga Tian yang sudah berdiri di sampingnya, entah sejak kapan, Elvaro baru menyadarinya.

"Lo udah coba pikirin apa yang gue bilang semalam kan?" ujar Tian.

Walau sedikit gugup tetapi Elvaro berusaha bersikap tenang. "Udah kok," balas Elvaro.

"Lo gak usah khawatir, Clarista pasti nungguin lo kok," kata Sarah karena ia sudah mendengar semua cerita dari Tian.

"Makasih ya! Kalau gituh gue ke kelas dulu!" kata Elvaro.

"Mudah-mudahan masalah mereka bisa cepat selesai ya!" kata Tian yang langsung di 'aamiini' oleh Sarah.

"Aku masuk dulu ya!" pamit Sarah yang langsung diangguki oleh Tian.

Setelah berada di samping Clarista, Sarah menatap lekat wajah sahabatnya itu. Terlihat sangat kusut dan memprihatinkan.

"Cla!" panggil Sarah sebari menepuk pelan bahu Clarista.

Clarista langsung terperanjat kaget dan pandangannya langsung mendapati Sarah yang sudah duduk di sampingnya.

"Are u oke?" tanya Clarista memastikan.

Sebelum menjawab, terlebih dahulu Clarista mencoba mengusap matanya yang terasa sedikit berair. "Ya begitulah."

Tak bertanya lebih jauh lagi karena ditakutkan itu akan membuka kembali luka di hati Clarista, Sarah memilih mengambil kotak beukal di dalam tasnya lalu ia berikan pada Clarista karena dikhawatirkan sahabatnya itu mogok makan di rumah.

"Ini gue bawain beukal. Lo makan ya, gue yakin di rumah pasti lo gak makan kan?" kata Sarah.

Ada rasa bahagia di dalam hati Clarista melihat betapa perhatiannya Sarah. Sebari menangis, Clarista memeluk erat tubuh Sarah membuat Sarah sedikit terkejut dibuatnya.

"Eh kenapa lo? Kok malah nangis?" ujar Sarah setengah panik.

"Makasih ya karena lo selalu ada buat gue," kata Clarista.

"Udah lo gak usah nangis, gak usah lebay kayak gini, malu tuh dilihatin orang-orang. Ayo buruan makan!" ujar Sarah dan Claristapun lekas tersenyum membuat hati Sarah sedikit lebih tenang.

TIPU DAYA CINTA [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang