27. Saling Memahami

10 2 1
                                        

"Lo punya otak kan?"

Mendengar pertanyaan dari Elvaro itupun sedikit membuat Clarista tersinggung. Claristapun mengerutkan keningnya dan menatap tajam ke arah Elvaro.

Di tempatnya, Elvaro sadar bahwa Clarista tengah kesal namun ia tak memerdulikan itu dan malah tersenyum tipis.

"Maksud lo apa?" tanya Clarista meminta penjelasan.

"Ya kalau lo punya otak harusnya lo tahu apa yang mestinya lo lakuin. Hal kecil aja lo gak bisa mikir apalagi kalau hal besar," kata Elvaro.

Clarista mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Ia jelas kesal dan rasanya ingin menghabisi Elvaro saat itu juga.

"Kalau sekiranya lo gak bisa bantu dan gak mau ngasih pendapat lo gak usah ngatain gue juga," kesal Clarista.

Elvaro tersenyum tipis sembari menatap ke arah Clarista yang pada saat itu tengah menampilkan wajah kesalnya.

"Iya, gue minta maaf. Soalnya kan tadi lo sendiri yang bilang kalau lo belum mau dengerin penjelasan dari Sarah. Jadi, gimana caranya lo bisa tahu sebenarnya apa yang terjadi? Ya bisa aja apa yang lo pikirin tuh gak sesuai. Jadi sebelum lo nuduh-nuduh dan malah nambah dosa mendingan lo tanya sama dia apa alasannya, pinta penjelasannya!" ujar Elvaro.

Memilih diam tanpa berkomentar karena yang dikatakan Elvaro ada benarnya juga. Mungkin selama ini memang Clarista cukup egois, ingin dimengerti tanpa mengerti orang lain. Selalu melihat kesalahan orang lain tanpa menyadari kesalahannya sendiri.

Mencoba merenung, memikirkan banyak kesalahan yang selama ini telah ia perbuat. Beberapa waktu Clarista telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan berubah namun nyatanya sekarang Clarista tak memenuhi janjinya itu.

"Tapi kalau Sarah gak mau maafin gue gimana? Atau gimana kalau Sarah gak jujur, penjelasannya nanti juga termasuk kebohongan dia?" kata Clarista.

"Ya coba aja dulu, urusan dimaafin atau enggak ya urusan nanti. Terus mulai sekarang, lo jangan biasain suudzan sama orang. Gak baik," ujar Elvaro.

"Baiklah!" balas Clarista singkat.

Dirasa waktu yang dihabiskan sudah terlalu lama, Elvaropun bergegas bangkit dari duduknya dan mengajak Clarista untuk segera turun dan kembali ke kelas.

Tanpa mengatakan apapun, Claristapun menurut dan mengikuti langkah Elvaro dari belakang. Setelah keduanya sampai di lorong kelas, Elvaro menyuruh Clarista untuk berjalan lebih dulu dan masuk ke dalam kelasnya karena Elvaro takut Clarista akan melakukan hal-hal yang melanggar aturan, bolos misalnya.

Setelah dipastikan Clarista masuk dengan aman, Elvaropun melangkah menuju kelasnya lalu kembali mengikuti pembelajarannya dengan baik.

*****

Bel tanda pulang sekolah sudah berbunyi. Semua siswa-siswipun langsung sibuk membereskan alat tulisnya ke dalam tas masing-masing. Namun lain halnya dengan Clarista, ia masih senantiasa diam dan malah cenderung melamun.

Guru yang tadi sempat mengajarpun sudah pamit keluar kelas disusul dengan beberapa warga kelas yang lain.

Di tempatnya, Sarah nampak mengamati Clarista dengan ujung matanya. Ia belum berani melirik ataupun bertanya, ia takut tindakannya malah menambah masalah.

"Gue mau denger penjelasan dari lo!"

Kalimat itu akhirnya keluar dari mulut Clarista dan Sarah yang duduk di sampingnya nampak terkejut dan bahkan tak percaya.

"Lo udah maafin gue?" tanya Sarah dengan ekspresi girangnya.

"Lo denger kan tadi gue ngomong apa?" ketus Clarista.

Sarah sedikit panik namun ia masih bisa menampilkan eskpresi bahagianya. "Iya-iya biar gue jelasin ya!" katanya.

Suasana sedikit hening karena memang Sarah sedang memikirkan dari mana ia akan memulai penjelasannya.

"Yang tadi lo denger itu bener. Gue sama Tian emang pacaran dari 3 bulan yang lalu. Sebelumnya gue juga mau minta maaf sama lo karena sebenarnya dulu yang nyuruh Tian buat nyulik lo itu gue ... "

Kalimat Sarah terhenti ketika ia mendapat lirikan tajam dari Clarista. Lirikan itu mengisyaratkan kemarahan juga kekecewaan.

"Tapi gue punya alasan yang kuat buat ngelakuin itu," kata Sarah.

"Alasan apa?" tegas Clarista.

"Gue mau bikin lo jadi orang yang lebih baik. Gue mau lo belajar hargai perasaan orang terutama cowok. Gue udah berkali-kali buat nyoba ingetin lo tapi tetep gak bisa. Jadi dengan terpaksa gue ambil cara itu dengan berharap lo bisa berubah walaupun cuma sedikit," kata Sarah.

"Cara apa maksud lo? Cara supaya gue dilecehin. Gituh?" tanya Clarista dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

"Enggak gituh. Tian itu orang baik, dia gak bakal berani macem-macem sama lo. Dia ngelakuin itu juga karena gue yang suruh dengan maksud cuma buat ngegretak lo aja, biar lo gak lagi-lagi seenaknya sama orang. Tapi kalau semua itu menurut lo salah gue minta maaf," balas Sarah.

Kecewa juga sakit hati pastilah ada di dalam hati Clarista. Namun tak dapat dipungkiri bahwa sebenarnya ia tidak bisa berlama-lama marah pada Sarah karena bagaimanapun juga Sarah melakukan semua itu demi kebaikannya.

"Apa lagi yang lo sembunyiin dari gue selain masalah ini?" tegas Clarista.

"Enggak ada," balas Sarah.

"Yakin? Sampai gue tahu ternyata lo masih nyimpen rahasia, gue gak bakal mau maafin lo lagi. Inget itu!" kata Clarista lalu iapun mulai membereskan alat tulisnya ke dalam tas.

Mendengar perkataan dari Clarista, Sarah langsung melirik Clarista dengan tatapan tak percaya bahkan tanpa sengaja bibirnya membentuk sebuah senyuman bahagia membuat Clarista ikut tersenyum dalam hati.

"Jadi lo mau maafin gue sekarang?" tanya Sarah memastikan.

"Tapi lo jangan pernah bohongin gue lagi. Kalau masih ada yang lo sembunyiin, kasih tahu gue sekarang!" ujar Clarista.

"Enggak ada. Gak ada yang gue sembunyiin lagi kok. Lo tenang aja!" kata Sarah lalu dengan sigap ia langsung memeluk Clarista membuat sang empunya berontak.

"Lepasin gue ah. Gak usah lebay!" titah Clarista.

Suasana kembali mencair, Clarista juga Sarah kembali berpelukan saling meminta maaf, intropeksi diri juga kembali saling memahami karena saling menyalahkan tidak akan menyelesaikan masalah.

"Pulang yu!" ajak Sarah yang langsung diangguki oleh Clarista.

Keduanya berjalan bersisian keluar dari kelas. Tak lupa juga dengan tangan mereka yang saling merangkul seakan saling menyalurkan kekuatan dan hal itu pula yang membuat semua orang yang mereka lalui menatapnya heran.

Clarista sadar betul bahwa kini dirinya tengah jadi pusat perhatian bahkan ia bisa mendengar bahwa tak sedikit dari mereka yang tengah membicarakannya.

"Bentar lagi kita bakal kayak nih, Sar," celetuk Clarista dengan nada bicara yang cukup tinggi.

"Maksud lo apa?" tanya Sarah heran.

"Kita kan sekarang udah jadi seleb, Sar. Lo gak nyadar apa?" ujar Clarista dengan maksud menyindir.

Paham dengan apa yang dimaksud oleh sahabatnya itu, Sarah langsung tersenyum miring, "oh iya gue lupa. Bentar lagi kita bakal dapat banyak job nih. Lo udah siap kan?"

"Siap dong!" balas Clarista diselingi dengan lirikan tajam ke arah orang yang terus saja membicarakannya.

Tepat di depan gerbang sekolah, mereka berpapasan dengan Elvaro yang nampaknya tengah berjalan ke arah parkiran.

Pandangan Clarista juga Elvaro tak sengaja saling bertabrakan. Keduanya saling diam lalu sedetik kemudian mereka melemparkan pandangannya satu sama lain.

"Makasih ya buat yang tadi," kata Sarah pada Elvaro yang langsung dibalas dengan kedua halis yang ia taikan.

TIPU DAYA CINTA [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang