53. Kecewa dan Dilema

9 0 0
                                        

Malam ini Clarista dipenuhi dengan rasa gelisah. Hilangnya kabar Elvaro membuat hatinya tak tenang. Sudah hampir memasuki pukul 12 malam namun Clarista masih belum bisa tidur dikarenakan ponsel Elvaro masih saja belum aktif.

Segala kemungkinan-kemungkinan buruk memenuhi pikiran Clarista. Ia tidak tahu harus berbuat apa, hari sudah larut malam bahkan hampir memasuki pagi hari tidak mungkin juga jika ia harus berkunjung ke rumah Elvaro sekarang guna memastikan keadaan Elvaro.

Dengan geram, Clarista mengacak rambutnya prustasi dan ia mencoba menutup mukanya menggunakan bantal berharap dengan begitu ia bisa tertidur.

**

Suara kumandang adzan berhasil membangunkan Elvaro dari tidurnya. Ia menggeliat sejenak sebelum akhirnya ia beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah kamar mandi berniat untuk mandi.

15 menit berlalu Elvaro sudah selesai mandi juga sudah menyelesaikan ibadahnya. Teringat akan sesuatu, Elvaro beranjak dari atas sejadahnya lalu berjalan menuju nakas yang berada di samping tempat tidur.

Elvaro mengambil ponselnya lalu kembali menyalakannya. Ada banyak notifikasi pesan masuk juga beberapa panggilan tak terjawab dari Clarista.

[Hai! Selamat!]
[Kok gk aktif? Kamu di mana?]
[Kok gk ada kabar? Kamu gak papa kan?]
[Panggilan suara tak terjawa 3x]

Ada rasa penyesalan dalam hati Elvaro karena sudah membuat Clarista menunggu dan mungkin juga khawatir. Padahal ini adalah tujuan awal Elvaro, membuat Clarista terluka tetapi entah kenapa sekarang Elvaro malah terjebak dalam permainannya sendiri.

Elvaro berniat untuk menelpon balik Clarista namun di tengah-tengah Elvaro mengurungkan niatannya itu. Ia memilih menyimpan kembali ponselnya dan berjalan keluar kamar guna membantu ibunya menyiapkan sarapan berharap dengan begitu Elvaro bisa melupakan kegelisahan hatinya walau hanya sejenak.

Di sisi lain, Clarista baru saja terbangun dari tidurnya dan Clarista merasakan sakit di bagian depan kepalanya mungkin karena efek kurang tidur.

Dengan tertatih-tatih, Clarista beranjak dari tempat tidurnya lalu bergegas menuju kamar mandi.

Singkat cerita, Clarista sudah menyelesaikan segala urusannya begitu juga dengan urusannya bersama Tuhan.

Lagi-lagi Clarista mengecek ponselnya, ada rasa bahagia ketika ia melihat pesan yang ia kirimkan pada Elvaro sudah terbaca namun lagi-lagi Clarista kecewa karena Elvaro tak kunjung membalasnya ataupun menelpon balik.

Hati Clarista mendadak sakit bahkan ia hampir menangis namun Clarista berusaha menahannya. Clarista harus kembali kuat seperti dulu, jangan sampai ia menangis karena laki-laki. Di sekolah nanti Clarista akan bertanya langsung pada Elvaro apa maksud semua ini.

**

Dengan penuh kelesuan, Clarista berjalan menunduk menyusuri koridor. Nyatanya sampai saat ini Clarista belum mendapat kabar apapun dari Elvaro, pesannya dibiarkan begitu saja.

Samar-samar Clarista mendengar bisikan dari orang-orang yang ia lewati. Tak sedikit dari mereka yang membicarakan Clarista namun Clarista sedang tidak ingin menimpali.

"Eh lihat tuh, baru aja kemarin dia bucin parah sekarang kelihatan lesu gituh. Pasti putus tuh sama El!"

"Ya iyalah lagian mana cocok si El sama si Clarista. Cewek kasar begitu mana pantes sama si El yang cool!"

"Lagian dia songong banget sama cowok lain giliran dideketin sama si El, udah ganteng, pinter, teladan baru mau. Kelihatan banget ganjennya!"

Masih banyak celeutukan-celetukan lain yang sukses membuat Clarista sakit hati namun Clarista berusaha untuk tetap tegar. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang lain tetapi Clarista juga sedang tidak ingin berdebat.

Sesampainya di kelas, Clarista langsung duduk termenung di tempatnya. Rasanya ia ingin menangis sekencang mungkin namun itu tidak mungkin. Padahal baru kemarin siang hubungan dirinya bersama Elvaro masih baik-baik saja bahkan ketika mereka berpamitan tidak ada masalah apapun dan Clarista tidak mengerti kenapa sekarang jadi seperti ini.

Tak lama Sarah datang. Ia mengernyit heran ketika mendapati Clarista tengah duduk termenung. Sarahpun berjalan mendekat lalu duduk di tempatnya.

"Lo kenapa?" tanya Sarah dengan raut bingung.

Clarista tak menjawab, ia hanya menghela napasnya gusar guna menandakan bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.

"Lo lagi ada masalah?" Sarah mencoba kembali bertanya berharap ia mendapat jawaban.

Sejujurnya Clarista tengah malas  untuk mengucap kata namun rasanya ia memang membutuhkan pendengar juga teman cerita.

"Kenapa ya? Baru juga gue ngerasain jatuh cinta tapi sekarang gue harus ngerasain kecewa?" kata Clarista.

Sarah semakin bingung dibuatnya. Ia benar-benar tidak mengerti dengan arah pembicaraan sahabatnya. Baru saja kemarin Sarah melihat Clarista begitu bahagia tetapi lainnya halnya dengan hari ini.

"Maksudnya?" ujar Sarah meminta penjelasan.

"Padahal kemarin gue sama si El gak kenapa-kenapa. Semuanya baik-baik aja sampai nganterin gue pulang juga masih baik-baik aja tapi anehnya dari semalam dia hilang kabar bahkan hpnyapun gak aktif. Gue coba positif aja ya, mungkin hpnya lowbat tapi pas tadi pagi gue cek, hpnya udah aktif pesan guepun cuma dibaca doang sampai sekarang. Kenapa ya? Apa dia nyesel udah jadiin gue pacarnya? Segak layak itu kah gue ngerasain cinta?"

Mendengar penjelasan dari Clarista saat ini membuat hati Sarah tersentub. Ia juga bisa merasakan sakit yang Clarista rasakan.

Sarah tidak mampu berkata apa-apa lagi dikarenakan ia tidak tahu harus berkata apa, yang pasti Sarah juga ikut merasa sedih. Sebari pura-pura tersenyum, Sarah membawa Clarista ke dalam pelukannya, hanya itu yang saat ini bisa Sarah lakukan.

Melihat keadaan Clarista yang seperti ini membuat Sarah mengurungkan niatannya untuk menunjukan foto yang kemarin ia temui di taman karena ditakutkan itu akan menambah beban pikiran Clarista. Mengingat orang yang ada di foto bersama Elvaro adalah orang yang dulu sempat berseteru dengan Clarista.

"Ya udah lo sabar dulu aja, jangan mikirin yang bukan-bukan biar nanti gue sama Tian bantu cari tahu ya!" kata Sarah berusaha menenangkan.

"Makasih ya!" balas Clarista dengan nada sendu.

Bel tanda masuk sudah berbunyi, satu persatu warga kelaspun sudah mulai berdatangan dibarengi dengan guru yang hendak mengajar.

Di tempatnya, Clarista berusaha menata hatinya untuk bersikap tenang karena ia tidak ingin mencampur adukan masalah keluarga dengan masalah pribadinya.

****

Tak hanya Clarista yang kehilangan semangat. Di sisi lain Elvaro juga merasakan hal yang sama, ia dilema dengan perasannya sendiri dan tidak tahu harus mengambil keputusan apa.

Memang di awal Elvaro tidak pernah menaruh rasa pada Clarista dan hanya berniat membalaskan rasa sakit hatinya tetapi seiring berjalannya waktu tanpa sadar rasa itu tumbuh dengan sendirinya walau awalnya Elvaro tidak mau mengakui hal itu.

Tepat di belakang sekolah, Elvaro duduk seorang diri sebari berusaha mencari jalan keluarnya.

Tak terasa jam istirahatpun sudah habis yang artinya Elvaro sudah terduduk di sana kurang lebih 30 menit lamanya. Memang Elvaro memutuskan menghabiskan waktu istirahatnya untuk berdiam di sana guna menghindar dari Clarista.

Dengan setengah sadar Elvaro berjalan menyusuri koridor sampai akhirnya ia bertabrakan dengan seseorang yang mana langsung membuatnya tersadar.

"Sorry-sorry!" kata Elvaro.

"El? Lo kenapa?"

Mendengar pertanyaan itu, Elvaro langsung mengangkat pandangannya dan menatap keberadaan Tian di hadapannya.

"Gak papa kok," kata Elvaro.

Tian bisa melihat dengan jelas ada yang tengah dipikirkan oleh Elvaro. Sejujurnya Tian ingin bertanya lebih tapi rasanya itu tidak mungkin.

"Kalau gituh gue duluan ya!" pamit Elvaro meninggalkan Tian dengan penuh rasa penasaran.

TIPU DAYA CINTA [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang