Kesal karena dirinya terus-terusan dijadikan bahan ejekan, Claristapun bergegas bangkit dari duduknya setelah ia menghabiskan sarapannya. Gerakannya yang terbilang tergesa-gesa memancing tawa dari Manda juga Irwan.
"Mau ke mana kamu?" tanya Manda.
"Cari orangtua baru. Ngapain di sini juga malah dikatain mulu. Mending nyari yang baru, yang lebih kaya," balas Clarista dengan nada kesalnya yang sukses membuat Manda juga Irwan tertawa renyah.
Clarista kembali diam di dalam kamar. Duduk termenung di tepi ranjang sebari memegang ponselnya. Sesekali mata Clarista melirik ke atas layar ponselnya yang barusan ia nyalakan, pukul 05.45 pagi yang mana sebentar lagi Elvaro pasti akan sampai di rumahnya.
Mengingat kelakuan orangtuanya tadi yang senang sekali mengejek dirinya perihal bangun pagi, pastilah nanti Clarista akan kembali menjadi bahan ejekan ketika Elvaro datang.
"Gimana ya?" gumam Clarista pada dirinya sendiri.
Pendengaran Clarista teralihkan pada suara motor yang berhenti tepat di depan rumahnya. Perasaan Clarista mendadak tak karuan, ia yakin bahwa itu motor milik Elvaro.
Sesuai dugaannya, ponsel Clarista berbunyi, ada pesan masuk dari Elvaro yang memberi tahunya bahwa ia telah sampai di depan rumah.
Untuk memastikan, Clarista berjalan ke arah jendela kamar dan iapun langsung mendapati Elvaro yang tengah duduk di atas motornya.
Tanpa berniat membalas, Clarista berjalan keluar kamar, melewati Manda juga Irwan begitu saja. Di tempatnya, Manda juga Irwan saling tatap, nampak heran dengan tingkah anaknya pagi ini.
Tak lama, Clarista kembali. Namun ia tak sendiri, ada Elvaro yang berjalan di belakangnya sebari melemparkan senyum ke arah orangtua Clarista.
Seperti biasa, Elvaro menyalami tangan kedua orangtua Clarista yang langsung disambut baik oleh mereka.
"Kamu udah sarapan? Ayo sarapan dulu, itu tadi tante masak nasi goreng!" kata Manda.
"Gak usah repot-repot tante. Saya udah sarapan kok di rumah," balas Elvaro.
"Gak papa, sarapan lagi aja. Ngadepin anak om itu harus extra ngeluarin tenaga jadi mending kamu sarapan lagi sana!" timpal Irwan.
Clarista melotot tajam tatkala ia mendengar penuturan dari Sang ayah. Sedang di tempatnya, Elvaro hanya mampu tersenyum seraya menuruti perkataan Irwan untuk duduk dan makan nasi goreng yang sudah Manda ambilkan.
"Makasih, tante!" kata Elvaro yang langsung dibalas dengan senyuman oleh Manda.
"Pantes aja masih pagi-pagi buta, Rista udah siap, udah rapih ternyata mau dijemput sama kamu," goda Manda.
Hal yang dikhawatirkan Clarista akhirnya terjadi. Kesal tentu saja Clarista rasakan bahkan kedua pipinyapun sudah memerah padam pertanda malu juga kesal. Namun apalah daya, tak banyak yang bisa Clarista lakukan selain diam dan pasrah.
"Makasih ya udah bawa Clarista ke perubahan yang lebih baik. Soalnya kalau dibilangin atau diatur sama tante suka susah, gak pernah mau denger," ujar Manda.
Elvaro tersenyum sekilas sebari terus mengunyah nasi goreng yang menurutnya sangat enak. "Sama-sama tante. Lagipula saya gak berbuat apa-apa kok," balasnya.
"Maaf ya, kalau om boleh tahu. Kalian ada hubungan apa ya, kalian pacaran?" timpal Irwan yang sukses membuat Clarista juga Elvaro terkejut.
"Apa sih, yah. Gak usah nanya macem-macem deh!" jawab Clarista.
"Kenapa sih? Ayah cuma nanya aja. Gak boleh emang?" balas Irwan.
"Sekarang kita cuma temenan kok. Masih tahap pendekatan," sahut Elvaro.
Sulit dipercaya. Clarista benar-benar dibuat terkejut dengan apa yang Elvaro katakan. Bagi Clarista pagi ini rasanya begitu berat, banyak hal-hal yang tak terduga yang ia alami.
"Oh. Kalau gituh, kamu harus banyak-banyak bersabar kalau mau deketin anak om. Dia anaknya agak-agak bikin naik darah," kata Irwan.
Muka Clarista sudah memerah menahan kesal. Ingin rasanya ia langsung bergegas pergi dari sana namun sudah dipastikan Elvaro akan menegurnya.
Dari tempatnya, Elvaro sudah menyadari apa yang Clarista rasakan. Berhubung makanannya sudah berhasil ia habiskan, Elvaropun hendak berpamitan dan tentunya dengan bersalaman terlebih dahulu.
"Hati-hati ya! Makasih juga udah mau jagain anak tante!' kata Manda yang langsung dibalas senyuman oleh Elvaro.
"Heh, gue mau ngomong sama lo," ujar Clarista ketika mereka sudah sampai di luar rumah.
"Tapi gue gak mau," balas Elvaro santai yang sukses memancing kekesalan Clarista.
"Lo tuh ya ... " Amarah Clarista sudah dipuncak. Iapun bergegas mengepalkan tangannya dan hendak memukul punggung Elvaro namun sayang, Elvaro sudah menyadari pergerakan dari Clarista.
"Buruan berangkat. Nanti keburu macet," kata Elvaro.
Menurut. Claristapun diam dan bergegas naik ke atas motor Elvaro. Namun entah kenapa, perasaan aneh tiba-tiba saja muncul ke dalam hati Clarista. Setelah mendengar perkataan Elvaro tadi pada ayahnya, membuat perasaan Clarista menjadi tak karuan.
Selama dalam perjalanan, Clarista terus saja diam, enggan bersuara walau itu cuma sedikit saja, bahkan sampai motor berhentipun Clarista tak menyadarinya.
"Lo mau turun gak? Apa lo mau jadi tukang parkir aja di sini?" kata Elvaro yang sudah merasa kesal karena Clarista terus saja diam.
Masih di posisi yang sama, Clarista masih senantiasa diam tak memerdulikan panggilan dari Elvaro. Jelas Elvaro kesal dan iapun memilih turun dari motornya, meninggalkan Clarista yang masih terduduk di sana.
Tak sedikit dari orang yang berlalu lalang di sana membicarakan Clarista namun hal itu tetap saja tak kunjung membuat Clarista sadar.
Di sisi lain, Sarah nampak berjalan cepat dari arah gerbang. Ia penasaran dengan apa yang menjadi perbincangan orang-orang, hingga akhirnya ia melihat Clarista tengah duduk seperti patung di suatu motor.
"Cla!" panggil Sarah ketika ia sudah berdiri tepat di samping Clarista namun sepertinya Clarista tak menyadari kedatangan Sarah.
Kesal karena panggilannya tak dipedulikan, Sarahpun dengan cukup keras menepuk pundak Clarista. Sarah jelas tahu bahwa hal itu pasti akan memancing kemarahan Clarista namun Sarah tak ada pilihan lain.
"Aww!" rintih Clarista lalu sejurus kemudian ia langsung menoleh ke arah Sarah.
"Lo yang mukul gue? Apa-apaan sih lo?" sewot Clarista.
"Elo yang apa-apaan. Diem di sini kayak orang setres," kata Sarah.
Setelah Sarah mengatakan hal itu, Clarista langsung melotot tajam lalu turun dari atas motor Elvaro. Pandangannya menyapu sekitar, mencari keberadaan Elvaro namun tak kunjung ia temukan.
"Lo cari siapa? Terus lo ngapain juga diem di sini?" tanya Sarah meminta penjelasan.
"Cari si El. Lo lihat dia gak?" kata Clarista.
"Enggak tuh. Kenapa emang?" Sarah balik bertanya.
Tanpa berniat menjawab, Clarista berjalan meninggalkan area parkiran juga tak memerdulikan keberadaan Sarah. Bukan bermaksud tega, hanya saja Clarista masih merasa kecewa dengan apa yang ia ketahui semalam tentang Sarah.
Jelas Sarah merasa ada yang berbeda dari Clarista. Mendadak dingin dan seperti sengaja mendiamkannya. Perasaan cemas juga khawatir langsung menjalar masuk ke dalam hati Sarah, bagaimanapun juga ia tak ingin hubungannya dengan Clarista menjadi hancur.
Dirasa menerka-nerka saja tak cukup, Sarahpun berjalan mengejar langkah Clarista yang tepatnya ke dalam kelas.
"Lo kenapa? Sakit?" tanya Sarah ketika ia mendapati Clarista duduk termenung di tempatnya.
"Enggak. Gue baik-baik aja kok," balas Clarista.
KAMU SEDANG MEMBACA
TIPU DAYA CINTA [End]
RomanceKata orang cinta itu indah. Di mana kita bisa disayangi sepenuh hati, diberi perhatian tanpa pamrih juga dilindungi tanpa dipinta. Tapi tidak bagi Clarista, ia terjebak dalam sebuah permain cinta yang penuh dengan tipu daya. Diberi suka juga diberi...
![TIPU DAYA CINTA [End]](https://img.wattpad.com/cover/372983057-64-k865237.jpg)