"Gue chat kenapa gak dibuka?" tanya Elvaro.
"Buru-buru. Gue laper, mau ke kantin," balas Clarista dan hendak bergegas pergi namun tangan Elvaro sudah lebih dulu menahannya.
"Ikut gue!" kata Elvaro.
Seketika Clarista berontak meminta dilepaskan namun cekalan tangan Elvaro cukup kuat di tangannya. "Apaan sih? Lepas! Gue laper, mau makan!"
"Ya udah makannya ikut gue!" ujar Elvaro.
"Ya tapi mau ke mana? Kantin kan ke sana bukan ke sini," ujar Clarista ketika Elvaro membawanya ke lain arah.
Kening Sarah mengenyit heran, ia cukup terkejut dengan apa yang dilihatnya barusan. Clarista yang biasanya kasar terutama pada laki-laki menjadi berbanding terbalik ketika berhadapan dengan Elvaro. Sepertinya Elvaro memang bisa merubah sisi buruk Clarista menjadi lebih baik. Begitulah pikir Sarah.
"Lah terus gue jadi sendirian dong? Sialan banget mereka, ninggalin gue gituh aja tanpa permisi," dumel Sarah.
Sesekali Sarah menghela napas gusar sebari berjalan ke arah kantin. Suasana di sana cukup ramai dan Sarah sudah menduga akan hal itu.
"Ih aku panggilan dari tadi main jalan gituh aja."
Suara itu sontak membuat Sarah terkejut dan bahkan hampir terjatuh namun dengan sigap Tian menahannya sebari melemparkan senyum ke arah kekasihnya.
"Kamu ini ngagetin aku aja," protes Sarah.
"Ya maaf, abisnya kamu dipanggil-panggil dari tadi susah banget," kata Tian.
"Iya gituh? Maaf ya gak kedengeran soalnya kan berisik," ujar Sarah dan Tian hanya mengangguk sebagai jawaban.
Tanpa banyak bicara, mata Tian langsung menyapu area kantin, mencari bangku kosong yang hendak mereka tempati. Setelah apa yang dicari ia dapatkan, Tian langsung menggandeng tangan Sarah dan menyuruhnya duduk.
"Kamu mau pesan apa? Biar aku yang pesen," tanya Tian.
"Samain aja sama kamu. Terserah kamu maunya apa," balas Sarah.
"Mie ayam mau?" tanya Tian lagi.
"Boleh," jawab Sarah.
*****
"Lo mau ngapain bawa gue ke sini? Udah tahu gue laper malah dibawa ke sini. Aneh lo!" cerocos Clarista ketika mereka sampai di rooftop sekolah.
"Ya udah sih jangan kebanyakan ngomel entar cepet tua!' balas Elvaro dengan santai lalu berjalan meninggalkan Clarista.
Melihat Elvaro berlalu begitu saja dan duduk dengan tenang di bangku yang ada di sana membuat Clarista menggerutu sebal.
"Lo mau sampai kapan diem di situ? Ngarep digendong sama gue?" tanya Elvaro.
Mata Clarista melotot tajam. Jujur Clarista kesal dan bahkan mungkin marah namun tak ada yang bisa Clarista lakukan saat ini selain menahan kekesalannya dan berjalan menghampiri Elvaro.
"Lo kenapa sih nyebelin banget? Gue laper, mau makan," kata Clarista setelah ia berhasil duduk di samping Elvaro.
Tanpa Clarista sangka, Elvaro memberikannya mangkong berisi Mie ayam juga satu gelas berisi jus jeruk. Alih-alih menerimanya, Clarista justru malah diam, menatap heran membuat Elvaro mendelik kesal.
"Katanya laper malah bengong. Ambil dong, pegel tahu!" dumel Elvaro.
"Eh iya-iya!" balas Clarista lalu mulai mengambil alih mangkong beserta gelasnya.
Dalam hati Clarista merasa senang bahkan ada perasaan yang Clarista sendiri tidak tahu itu apa karena sebelumnya Clarista tak pernah merasakan itu.
Katakanlah mungkin itu cinta. Tetapi Clarista sendiri tidak bisa menyimpulkannya secepat itu karena menurutnya ini terlalu cepat terlebih Clarista belum berpengalaman akan hal ini.
Di tengah aktivitas makannya, sesekali Clarista mencuri pandang ke arah Elvaro yang mana laki-laki di sampingnya itu nampak tengah sibuk menikmati makanannya.
Badannya yang tegap, wajahnya yang cukup manis membuat Clarista sedikit tertarik pada Elvaro. Namun semakin Clarista mengamati wajah Elvaro seperti ia teringat akan seseorang namun Clarista sendiri tidak tahu siapa dia.
"Wajahnya kayak gak asing tapi mirip siapa ya?" ujar Clarista dalam hati.
Memilih melupakan akan hal itu karena bagi Clarista setiap orang memang memiliki kemiripan dengan orang lain.
"Kenapa lo ngelihatin gue kayak gituh?" tanya Elvaro yang memang sejak tadi sadar bahwa dirinya tengah diperhatikan.
Buru-buru Clarista membuang pandangannya dari arah Elvaro. Dalam hati ia merutuk dirinya sendiri karena telah bersikap gegabah. Lantas jika sudah seperti ini apa yang harus Clarista lakukan? Mengelakpun sepertinya akan sulit mengingat Elvaro memiliki seribu satu cara untuk membuat Clarista skakmat.
"Idih siapa yang lihatin lo. Ke-PDan lo jadi orang," elak Clarista.
"Kalau lo gak mau ngaku juga gak papa tapi itu mangkok lo udah cukup buat jadi bukti," kata Elvaro.
Mata Clarista melotot tajam dan seketika pandangannya langsung mengarah ke bawah. "Oh my god," pekiknya ketika ia melihat sepatunya tersiram dengan kuah Mie ayam.
"Masih mau ngelak?" tanya Elvaro.
Terdengar helaan napas gusar dari Clarista dan itu membuat Elvaro terkekeh pelan. "Ya udah oke. Iya gue lihatin lo. Kenapa?"
"Suka lo sama gue?" tuding Elvaro.
"Enggak, bukan gituh. Lo jangan geer dulu, gue cuma mastiin aja kayaknya gue pernah lihat lo dulu tapi di mana gituh. Soalnya muka lo tuh kayak gak asing," jelas Clarista.
"Oh kirain suka soalnya gue juga suka sama lo," kata Elvaro.
Jantung Clarista kembali dibuat terkejut dengan pengakuan Elvaro. Badannya terasa kaku bahkan untuk berkedippun seakan terasa berat bagi Clarista.
Untuk mengalihkan perhatian, terlebih dahulu Clarista menyimpan mangkok yang sedari tadi ia pegang. Jujur Clarista sendiri bingung harus berbuat dan berkata apa, rasanya yang ia alami saat ini di luar ekpetasinya.
"Sorry, lo punya tissue gak? Gue mau bersihin sepatu," kata Clarista yang masih berusaha menetralkan perasaannya.
"Tissue gue gak punya. Pake ini aja!" balas Elvaro sebari menyodorkan sapu tangan.
Walau masih dengan perasaan gugup, Clarista menerima sapu tangan itu dibarengi dengan senyuman tipisnya. Pelan tangannya mulai membersihkan bercak kuah mie ayam yang ada di sepatunya dengan sesekali mencuri pandang ke arah Elvaro.
Dalam hati Clarista bertanya-tanya, apakah yang tadi ia dengar itu nyata atau hanya sekedar salah dengar. Namun jika itu nyata lantas sikap apa yang harus Clarista lakukan sekarang mengingat Clarista sendiri belum paham dengan perasaannya.
"Makasih ya. Ini gue bawa dulu biar gue cuci di rumah," kata Clarista.
"Gak perlu. Siniin aja, nanti gue bisa cuci di toilet sekolah," balas Elvaro sebari menyodorkan tangannya, meminta sapu tangannya dikembalikan.
Tak ingin berdebat, Claristapun menuruti permintaan dari Elvaro. Keduanya sama-sama diam, sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Lo kenapa? Sakit?" tanya Elvaro.
"Enggak," jawab Clarista.
"Terus kenapa diem? Ada yang salah dari gue?" tanya Elvaro lagi.
Clarista diam, tak langsung menjawab karena ia sendiri bingung harus menjawab apa. "Enggak, itu gue cuma lagi mikir," katanya penuh ragu.
"Mikir apa?" Elvaro meminta penjelasan.
"Omongan lo yang tadi. Yang bilang lo suka sama gue. Itu maksudnya gimana?" ujar Clarista.
Elvaro terkekeh pelan membuat Clarista semakin dilanda bingung. "Ya gue suka sama lo. Masa lo gak ngerti sih, anak SD zaman sekarang aja udah ngerti begituan masa lo enggak sih," katanya.
"Suka ... suka sebagai apa? Kan banyak, bisa suka sebagai temen atau ... "
"Pacar," potong Elvaro yang sukses membuat Clarista semakin tercengang.
KAMU SEDANG MEMBACA
TIPU DAYA CINTA [End]
RomanceKata orang cinta itu indah. Di mana kita bisa disayangi sepenuh hati, diberi perhatian tanpa pamrih juga dilindungi tanpa dipinta. Tapi tidak bagi Clarista, ia terjebak dalam sebuah permain cinta yang penuh dengan tipu daya. Diberi suka juga diberi...
![TIPU DAYA CINTA [End]](https://img.wattpad.com/cover/372983057-64-k865237.jpg)