Tidak seperti hari-hari sebelumnya. Ketika bel tanda pembelajaran telah selesai biasanya Clarista selalu bersemangat untuk bergegas keluar tapi tidak untuk saat ini. Clarista masih senantiasa diam di tempat tak memerdulikan teriakan Sarah yang sedari tadi memanggilnya dari arah luar.
Sudah 10 menit berlalu tapi belum ada pergerakan apapun dari Clarista. Jelas Sarah jengkel namun ia juga iba dengan kondisi sahabatnya saat ini.
Di tengah kekesalannya, Sarah tiba-tiba terpikir akan sesuatu. Ia menepuk pelan pundak Tian yang sedari tadi duduk di sampingnya guna memberi tahukan sesuatu.
"Aku coba cek parkiran ya siapa tahu masih ada!" kata Tian seraya berjalan cepat ke arah parkiran.
Jarak yang tak terlalu jauh membuat Tian bisa sampai di tempat tujuan dengan waktu yang cepat. Beruntung apa yang ia harapkan benar terjadi, namun tugasnya belum sampai di situ, Tian masih harus mencari keberadaan Elvaro. Sarah juga Tian bermaksud ingin mempertemukan Elvaro juga Clarista supaya permasalahan mereka bisa cepat selesai dan menemukan titik terang karena jika terus dibiarkan itu hanya akan menambah masalah.
"Gue harus cari ke mana? Nomer teleponnya gak punya, tempat biasa dia kunjungi juga gue gak tahu, mana sekolahan gede lagi. Gimana gue nyarinya?" Tian mulai mengoceh sendiri.
Dengan penuh harapan, Tian terus menyusuri setiap lorong hingga pada akhirnya ia melihat seseorang tengah duduk di tepi lapangan.
"Apa itu si El ya?" tanyanya pada diri sendiri.
Dengan perlahan-lahan, Tian berjalan ke arah orang itu dengan penuh harap tentunya. Ketika jaraknya sudah semakin dekat, Tian semakin yakin bahwa orang itu adalah Elvaro.
"El!" panggil Tian guna memastikan.
Orang itu menoleh dan beruntungnya ia adalah Elvaro. Tian lekas tersenyum lalu iapun ikut duduk di samping Elvaro.
"Gue cariin dari tadi tahunya lo di sini," kata Tian.
"Ada apa?" tanya Elvaro.
"Gue mau tanya satu hal sama lo. Boleh?" ujar Tian.
Elvaro mengernyit heran mendengar ujaran dari Tian. "Kenapa?"'
"Apa lo mau merjuangin cinta lo?"
Mendengar pertanyaan seperti itu dari Tian membuat Elvaro bingung harus menanggapinya seperti apa. Dari dalam hati tentu saja keinginan Elvaro untuk berjuang sangatlah besar tetapi Elvaro masih bimbang harus bersikap seperti apa.
"Kalau lo mau perjuangin, mulailah dari sekarang. Clarista masih nungguin lo di kelas! Kejarlah sekarang sebelum semuanya bertambah runyam!" kata Tian yang sukses membuat Elvaro seketika beranjak berdiri.
Melihat semangat dari Elvaro itu membuat Tian seketika tersenyum. Mereka berhak bahagia, terlepas dari masa lalunya, mereka berhak memperbaiki semuanya. Begitulah pikir Tian.
"Makasih ya!" kata Elvaro.
"Sama-sama!' balas Tian.
Setelah Elvaro berjalan pergi, Tian buru-buru mengeluarkan ponselnya dari saku bajunya. Jari-jari tangannya langsung bermain di atas layar ponsel, nampak tengah mengetikan suatu pesan.
**
Sarah kembali mengecek keadaan Clarista di dalam kelas. Berulang kali Sarah sudah mengajaknya pulang namun tak ada tanggapan apapun. Bahkan Sarah juga sudah mengeluarkan jurus andalannya yaitu mentraktir Clarista makan tetapi tetap tak ada jawaban. Seakan semua yang Sarah lakukan terbilang sia-sia.
Di tengah kekesalannya, ponsel Sarah berbunyi tanda ada pesan masuk.
Bee 💙
Sarah seketika tersenyum ketika ia tahu bahwa yang mengiriminya pesan adalah Sang Pujaan Hati.
[Aku udh ketemu El. Dia lagi jalan ke sana!]
Setelah membaca isi pesan dari Tian, akhirnya Sarah bisa bernapas lega. Buru-buru Sarahpun berjalan keluar tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada Clarista. Karena menurut Sarah, itu percuma.
Sesampainya di depan kelae, terlebih dahulu Sarah mengetikan balasan pesan untuk Tian.
[Aku ke parkiran sekarang. Kamu cptan nyusul ya!]
**
Elvaro terpaku di depan kelas Clarista. Yang biasanya ia selalu bersemangat ketika menginjakan kaki di sana tetapi tidak untuk sekarang. Langkahnya seakan berat, ia takut tidak kuat ketika dirinya harus berhadapan langsung dengan Clarista.
Kaki Elvaro melangkah mundur, ia belum mempersiapkan apapun untuk hal ini terutama mempersiapkan hatinya jikalau yang akan ia dapat sekarang lagi-lagi rasa sakit.
Di kala Elvaro berniat untuk menyerah, ia teringat akan perkataan Tian ... perbaiki semuanya.
"Ya, gue harus berani!" kata Elvaro berusaha menyemangati dirinya sendiri.
Di sisi lain Clarista masih dengan posisi yang sama, kepala yang disandarkan di atas meja dengan mata terpejam dengan harapan apa yang terjadi di hari kemarin hanyalah mimpi.
"Cla!"
Suara itu berasal dari Elvaro. Ia sudah berdiri di samping Clarista dengan kondisi hati yang tidak baik-baik saja tentunya.
Dulu, kondisi seperti inilah yang Elvaro harapkan. Melihat Clarista menderita tetapi justru sekarang Elvaro benci dengan keadaan ini.
"Clarista Damayanti!" panggil Elvaro lagi karena panggilan pertama tak kunjung ada jawaban.
"Apa sih? Gue belum mau pulang," balas Clarista.
"Kamu gak mau pulang bareng aku?"
Seketika Clarista membuka matanya. Suara itu seperti suara yang Clarista rindukan. Awalnya Clarista berpikir mungkin itu adalah suara Tian yang disuruh oleh Sarah tetapi mendengar pertanyaanya barusan membuat Clarista sedikit tertegun.
Buru-buru Clarista mengangkat kepalanya, menatap seseorang yang kini tengah berdiri di sampingnya.
Mata Clarista terasa begitu berat dan saat itu juga tangis Clarista pecah. Walau Clarista belum tahu apa maksud kedatangan Elvaro tetapi dengan kedatangannya saja sudah cukup membuatnya senang. Setidaknya Clarista masih bisa menatapnya walau mungkin ini yang terakhir kalinya.
"El!" lirih Clarista.
"Hai!" sapa Elvaro dibarengi dengan senyuman tipis.
"Hai!' balas Clarista masih dengan suara lirih. " Kamu nyamperin aku?" lanjutnya.
Ingin rasanya Elvaro membawa Clarista ke dalam pelukannya namun rasanya gak etis jikalau Elvaro melakukan hal itu sekarang. Di dalam kelas hanya berdua dengan kondisi sekolah yang mulai sepi pastinya itu akan menimbulkan dampak buruk.
"Pulang yu!" ajak Elvaro yang sukses membuat Clarista terperangah kaget.
"Pulang? Kamu ngajak aku pulang bareng?" ujar Clarista.
"Iya. Mau kan pulang bareng aku?" balas Elvaro.
Clarista langsung tersenyum senang seperti halnya yang diharapkan Elvaro. "Mau," ujarnya girang.
Elvaro ikut tersenyum, iapun lekas mengulurkan tangannya guna mengajak Clarista bergandengan tangan. Mendapati hal itu Clarista sukses dibuatnya bingung namun Clarista tetap menerimanya dengan baik.
"Ayo!' ajak Elvaro sebari menggenggam tangan Clarista dengan erat dan membawanya keluar dari dalam kelas.
Di sisi lain, Tian juga Sarah yang sedari tadi menunggu di area parkiran sekolah terperangah kaget ketika dari kejauhan mereka melihat Elvaro juga Clarista berjalan bergandengan ke arah mereka.
Ada perasaan senang juga tenang di dalam hati mereka ketika melihat kebersamaan Clarista juga Elvaro. Mereka sama-sama berharap bahwa Elvaro juga Clarista bisa bersatu kembali.
"Ngumpet ayo ngumpet!' ujar Sarah dengan setengah berteriak sebari menarik Tian untuk bersembunyi di belakang tembok dekat parkiran.
"Iya-iya sabar. Kamu juga gak usah teriak-teriak nanti mereka tahu kalau kita ngintip," balas Tian yang langsung dibalas cengiran lebar oleh Sarah.
KAMU SEDANG MEMBACA
TIPU DAYA CINTA [End]
Storie d'AmoreKata orang cinta itu indah. Di mana kita bisa disayangi sepenuh hati, diberi perhatian tanpa pamrih juga dilindungi tanpa dipinta. Tapi tidak bagi Clarista, ia terjebak dalam sebuah permain cinta yang penuh dengan tipu daya. Diberi suka juga diberi...
![TIPU DAYA CINTA [End]](https://img.wattpad.com/cover/372983057-64-k865237.jpg)