Part 9~Last

3.1K 185 20
                                        

Valeska baru saja menyelesaikan ujian akhir semester. Kehamilannya yang sudah memasuki bulan keempat membuat perutnya mulai tampak menonjol. Dengan mengenakan kemeja putih longgar, ia berusaha agar perutnya tidak terlalu terlihat.

"Mau langsung pulang?" tanya Shavira sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.

"Iya, anjay. Gue engap banget," jawab Valeska, duduk di kursi panjang depan ruangan kelas. Tubuhnya bersandar lelah pada sandaran kursi, jelas menunjukkan keletihannya.

"Lo serius mau cuti, Val?" tanya Citra dengan raut penasaran. Valeska hanya mengangguk pelan, pandangannya menerawang jauh.

"Nanti kita nggak bisa wisuda bareng dong," ucap Laura dengan nada sedih, membuat hati Valeska tersentuh. Ada kepedihan di balik kata-kata itu.

"Jangan gitu dong, gue sedih anjir," ucap Valeska, mencoba tertawa kecil tapi suara lirihnya mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya.

Shavira merangkul bahu Valeska dengan lembut, "Apa pun yang terbaik buat lo, Val. Dan inget, jangan pencicilan terus, hampir aja kita kena smackdown sama ka Gio" ucapnya dengan nada sedikit kesal, namun sarat perhatian.

Valeska tertawa lemah mendengar kata-kata Shavira. Tawa yang mencerminkan kelegaan meskipun lelah. "Goblok sumpah, kemarin hampir aja nih anak keguguran. Kalau sampai jatoh, beuhh, kita yang diamuk sama Ka Gio mati-matian," celetuk Laura dengan nada setengah bercanda, meski ada kekhawatiran tersirat.

"Hahaha, kocak. Untung nggak jadi nyungsep," ucap Valeska, lalu mengusap perutnya yang mulai menonjol, terlindungi oleh rok hitam yang ia kenakan. "Perut gue nambah engap," gumamnya, seolah berbicara pada diri sendiri.

"Lagian, lo pakai rok jaman lo masih kering kerontang gitu" tambah Shavira, memandang Valeska dengan heran.

"Ngga kering kerontang juga Shaviraa...Mau beli tuh sayang, gue kan mau cuti, nanti ngga kepake-kepake" Valeska menjawab sambil tersenyum tipis, tatapannya melayang pada perutnya.

Laura tiba-tiba memotong, "Val, tuh Pak Aris supir lo dateng," katanya sambil melirik mobil yang berhenti di depan gedung jurusan.

"Wah iya, gue balik deh. Kalian sering main ke rumah ya," ucap Valeska sambil berdiri, menenteng tasnya dan berjalan menuju mobil.

"Lo udah urus surat cuti?" tanya Citra.

"Aman, Ka Gio yang bantuin. Makanya cepat. Biasa lah, sogok dikit, biar dipermudah," jawab Valeska santai.

Citra menggelengkan kepala, sementara Shavira menimpali, "Anjayy anjay, istrinya pengusaha muda mah gitu."

Valeska tersenyum simpul, "Udah ah, gue cabut."

Sesampainya di mobil, Valeska menyapa Pak Aris, "Sore Pak."

"Sore Non," jawab Pak Aris dengan sopan, sambil tersenyum hangat.

"Non Valeska hari ini mau jajan apa?" tanya Pak Aris dengan penuh perhatian, sudah terbiasa dengan kebiasaan Valeska yang sering ngidam sesuatu sepulang kampus.

"Mm, kali ini nggak deh. Nanti mau keluar sama Ka Gio aja," ucap Valeska, menggeleng pelan.

"Ok siap," jawab Pak Aris, lalu melajukan mobil meninggalkan pekarangan kampus.

Sesampainya di rumah, Valeska langsung disambut oleh Bi Sari yang setia menemani. "Sore neng geulis," sapanya dengan senyum khas.

"Sore, Bi," Valeska tersenyum dan meletakkan tasnya di meja makan. Matanya berbinar melihat lauk pauk yang berjejer di atas meja, menggugah selera.

"Menu lauknya enak-enak banget," ucap Valeska penuh semangat.

"Special buat neng cantik, soalnya udah uas hari akhir," jawab Bi Sari dengan nada bangga.

GIOVA 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang