Di ruang kelas hamil, suasana sudah ramai oleh para ibu hamil dan pasangannya. Beberapa duduk dengan tenang sambil mengobrol, sementara yang lain tampak sibuk mempersiapkan perlengkapan seperti bantal kecil dan matras.
Valeska dan Gio masuk ke ruangan, dan langsung disambut oleh bidan yang menjadi pembimbing kelas.
"Selamat pagi, Ibu Valeska dan Bapak Gio. Silakan ambil tempat, ya," sapa bidan dengan senyum ramah.
Valeska tersenyum dan mengangguk. "Pagi, Bu Bidan," balasnya.
Gio mengikuti di belakang, tampak sedikit canggung. Ia menatap para suami yang sudah duduk di samping pasangan masing-masing dengan ekspresi beragam, ada yang serius, ada yang terlihat terpaksa. "Kelas ini kayak kumpulan suami terjebak," gumamnya pelan.
Valeska mendengar itu dan tertawa kecil. "Kak Gio juga merasa terjebak, kan?"
Mereka duduk di salah satu sudut ruangan. Tak lama, kelas dimulai dengan sesi pengantar tentang pentingnya dukungan suami selama kehamilan.
"Baik, para ayah, ini waktunya untuk ikut berperan!" seru Bu Bidan dengan semangat. "Kita mulai dengan teknik pernapasan. Suami silakan mendukung istri masing-masing!"
Valeska menoleh ke Gio dengan senyum geli. "Siap, Kak Gio?"
Gio menghela napas panjang. "Ayo kita coba. Tapi kalau aku pingsan karena terlalu banyak bernapas, tolong bangunin aku ya."
Valeska tertawa kecil. " Jangan ngaco deh"
Sesi pertama dimulai. "Para ibu, duduklah dengan nyaman. Para ayah, duduk di belakang istri Anda untuk memberikan dukungan."
Gio duduk di belakang Valeska, mencoba mengikuti arahan. "Tarik napas perlahan, keluarkan pelan-pelan," kata Bu Bidan sambil memberikan contoh.
Gio ikut mencoba, tapi napasnya terlalu keras sehingga membuat Valeska menoleh. "Kak Gio, itu napas atau ngorok sih anjir?"
Para peserta di sekeliling mereka menahan tawa. Gio hanya tersenyum kaku. "Husttt, Ini teknik bernapas versi aku, Sayang. Inovasi."
"Di lanjut sesi kedua ya, pijat relaksasi."
"Sekarang, para suami, silakan belajar memijat istri untuk mengurangi ketegangan," instruksi Bu Bidan.
Gio terlihat antusias kali ini. "Akhirnya, sesi yang bikin aku merasa berguna."
Valeska menghadap ke depan, sementara Gio mengikuti arahan untuk memijat pundak. Tapi, bukannya pijatan lembut, tangan Gio malah terlalu kuat menekan.
"Kak! Itu mijat apa mau ngulek sambal sih? sakit banget" keluh Valeska.
Seisi ruangan kembali tertawa. Bu Bidan mendekat dan menepuk bahu Gio. "Pelan-pelan, Pak Gio. Istri itu bukan batu giling, lho!"
Gio terkekeh canggung. "Maaf, Sayang. Lain kali aku belajar dulu sama Bi Sari."
"Selanjutnya sesi terakhir, simulasi kontraksi."
Para suami diminta memakai sabuk simulasi kontraksi untuk merasakan sedikit rasa yang dialami istri mereka. Gio yang awalnya penuh percaya diri mulai berkeringat ketika sabuk itu dipasang.
"Ini nggak akan sakit beneran kan?" tanyanya dengan nada ragu.
"Tenang aja, Pak. Ini hanya simulasi ringan," jawab Bu Bidan sambil menyalakan alatnya.
Begitu simulasi dimulai, Gio langsung memegangi perutnya. "Aduh! Apa-apaan ini?!" teriaknya dramatis.
Valeska menahan tawa sambil memegang tangan Gio. "Santai, Kak. Baru level satu, lho."
KAMU SEDANG MEMBACA
GIOVA 2
Fiksi RemajaEND! 08 Desember 2024 Lima tahun setelah menikah, kehidupan Gio dan Valeska dihadapkan pada ujian besar. Valeska, yang hampir menyelesaikan kuliahnya, terpaksa harus mengambil cuti karena sebuah keadaan darurat yang tak terduga. Meskipun Gio semaki...
