"Gue di depan rumah lo," Gio menghubungi sahabatnya, siapa lagi kalau bukan Dimas.
Begitu menerima telepon, Dimas langsung berlari menuruni tangga, lalu membuka pintu dengan senyum lebar di wajahnya. Namun, senyumnya berubah menjadi bingung saat melihat Gio berdiri di depan pintu dengan wajah lusuh dan tas ransel besar di punggungnya.
"Loh? Lo ngapain, anjir, bawa tas ransel segala?" Dimas tertawa kecil, sambil mengamati penampilan sahabatnya yang berbeda dari biasanya.
"Ngga usah ketawa lo" ucap Gio dengan kesal.
"Hahah..Mending masuk dulu deh, di dalam juga ada Rendra sama Bimo," ucap Dimas sambil melangkah mundur memberi ruang.
"Mereka ngapain?" tanya Gio sambil melangkah masuk.
"Nginep di sini, udah tiga hari. Ngga tau deh kapan mau pulang," jawab Dimas sambil mengangkat bahu.
"Setres tuh anak-anak, kayak nggak punya rumah aja," balas Gio sambil menahan tawa.
Dimas tertawa kecil. "Mereka pulang cuma buat ganti baju doang anjay. Di rumahnya mah aman-aman aja, ngga ada problem sama sekali, cuma lagi pengen nginep di sini katanya."
Di depan pintu kamar, Dimas membukakan pintu untuk Gio. "Masuk, bro," ucapnya ramah.
Gio mengedarkan pandangannya, mengagumi kamar besar yang terasa tak pernah berubah. "Gila, kamarnya ngga berubah, tetep luas kaya kamar istana."
Dimas tertawa kecil, "Kayak rumah lo nggak gitu aja," balasnya.
Rendra dan Bimo yang sedang asyik bermain game langsung menoleh saat menyadari kedatangan Gio.
"Wih, calon ayah nih," celetuk Rendra sambil tersenyum. "Gimana kabarnya? Sombong amat sekarang, mentang-mentang udah jadi pengusaha muda!"
"Nyenyenye, bacot lo." Gio hanya tertawa sambil melempar tas ranselnya ke sofa, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas kasur Dimas.
Bimo yang penasaran langsung bertanya, "Lo kenapa sih? Keliatan kusut gitu?"
Gio mendesah panjang. "Masalah sama bini gue," jawabnya lesu.
Dimas mengangkat, "Jangan bilang ini gara-gara Rahel?"
Gio langsung duduk tegak, matanya menyipit, menatap Dimas dengan tajam. "Kenapa lo kasih tau alamat rumah gue ke dia sih?"
Dimas terdiam sejenak, lalu menghela napas, "Gue tau Rahel tuh udah berubah, Gi. Lo juga tahu kan? Rahel tuh aslinya baik, cuma... kalau udah terusik, setan pun kalah sama dia."
Rendra yang mendengar itu ikut angkat suara, "Jadi, apa masalahnya sekarang?"
Gio menundukkan kepala, suaranya lirih, seolah penuh penyesalan. "Gue keceplosan di depan Valeska... secara nggak langsung bilang kalo gue masih ada rasa buat Rahel."
Rendra dan Bimo langsung tertawa terbahak-bahak.
"Kocak, tolol, goblok. Bisa-bisanya lo anjir," celetuk Bimo sambil menahan tawa. "Terus, gimana sama Valeska?"
Gio menghela napas berat, kemudian menceritakan semuanya, mulai dari masalah Rahel yang ternyata berselingkuh di masa lalu karena sebuah alasan dan tekanan, hingga Valeska yang kini memintanya untuk menjauh sementara waktu.
KAMU SEDANG MEMBACA
GIOVA 2
JugendliteraturEND! 08 Desember 2024 Lima tahun setelah menikah, kehidupan Gio dan Valeska dihadapkan pada ujian besar. Valeska, yang hampir menyelesaikan kuliahnya, terpaksa harus mengambil cuti karena sebuah keadaan darurat yang tak terduga. Meskipun Gio semaki...
