Malam terus merambat, dan rasa sakit yang Valeska rasakan tidak juga mereda. Tubuhnya terasa lelah, seolah tenaga yang tersisa hanya cukup untuk bertahan dari satu kontraksi ke kontraksi berikutnya. Tangannya masih mencengkeram erat lengan Gio, dan kini bahkan genggaman itu mulai melemah. Napasnya berat, terputus-putus, wajahnya semakin pucat.
Gio, yang biasanya tenang, kini benar-benar kebingungan. Matanya terus bolak-balik dari wajah Valeska ke pintu ruangan, berharap perawat atau dokter segera masuk lagi. "Val, tahan ya. Sebentar lagi pasti mereka balik. Kamu masih bisa, kan?" tanyanya pelan, mencoba tetap terdengar tenang meskipun hatinya kalut.
"Aku... nggak tahu, Kak," desah Valeska, nyaris seperti bisikan. Matanya yang berkaca-kaca menatap Gio penuh kepasrahan. "Ini sakit banget... aku nggak tahu sampai kapan aku bisa kuat."
Gio merasa dadanya sesak melihat istrinya seperti itu. "Nggak, kamu nggak sendiri. Aku di sini. Kita lewatin ini bareng," katanya, mencoba menyemangati meskipun dirinya sendiri hampir kehilangan harapan.
Namun, kontraksi itu semakin kuat, membuat Valeska tak lagi mampu menahan jeritannya. "Kak, tolong... Aku nggak bisa napas! Sakit banget." erangnya sambil menggeliat tak berdaya di ranjang.
Gio langsung panik. Ia berdiri, menekan bel panggil lagi dengan gerakan tergesa. Tapi seperti sebelumnya, waktu terasa berjalan lambat. "Mana dokternya? Kenapa nggak ada yang datang?!" Gio menggeram, hampir menghantam tombol bel itu.
Akhirnya, seorang perawat masuk, kali ini dengan dokter yang membuntuti di belakangnya. "Apa yang terjadi, Pak?" tanya dokter sambil segera mendekati Valeska.
"Dia nggak kuat, Dok! Udah terlalu lama, dia bilang sakitnya makin parah. Tolong lakukan sesuatu. Rumah sakit besar, tapi kok penanganannya lemot banget" suara Gio pecah, tangannya gemetar saat menunjuk ke arah Valeska.
Dokter dengan sigap memeriksa kondisi Valeska. Wajahnya sedikit serius, tapi ia tetap berusaha tenang. "Pembukaan sudah bertambah, tapi masih belum lengkap. Ini memang fase transisi, yang paling berat. Ibu harus tenang, ya, jangan menahan napas, fokus pada pernapasannya," ujar dokter sambil membantu Valeska mengatur posisi tubuh.
"Aku nggak kuat lagi! Aku nggak bisa!" Valeska menangis, suaranya bergetar di antara rasa sakit yang tak kunjung henti.
"Kamu bisa, Val! Lihat aku," ujar Gio sambil menunduk ke arahnya, menggenggam kedua tangan Valeska dengan erat. "Lihat aku. Napas, Val. Tarik... buang. Pelan-pelan, Sayang."
Valeska mencoba mengikuti, meskipun setiap tarikan napas terasa seperti perjuangan berat. Matanya menatap Gio dengan putus asa, tapi ia mencoba menggali kekuatan dari tatapan suaminya yang penuh cinta dan keyakinan.
Dokter berbicara lagi, kali ini kepada Gio. "Fase ini memang menyiksa, tapi kita tidak bisa terburu-buru. Kalau rasa sakitnya terlalu kuat, kami bisa berikan sedikit bantuan untuk meredakannya. Tapi keputusan ada di tangan Ibu."
Gio menoleh ke Valeska, wajahnya penuh kebimbangan. "Val, mau dikasih obat biar sakitnya nggak terlalu parah?" tanyanya dengan suara lembut.
Valeska hanya menggeleng pelan, air matanya terus mengalir. "Aku mau selesain... Aku mau bertahan, Kak. Aku bisa," bisiknya, meskipun tubuhnya terlihat begitu lemah.
Mendengar itu, Gio merasa dadanya sesak, tapi juga bangga. Ia tahu betapa kuat istrinya, meski di saat seperti ini. "Oke, kita jalan terus, Val. Aku di sini. Jangan takut ya."
Kontraksi demi kontraksi terus menyerang, membuat waktu terasa tak berujung. Gio tetap di sisi Valeska, mengusap keningnya, menggenggam tangannya, dan terus membisikkan kata-kata penyemangat. Setiap kali Valeska hampir menyerah, Gio ada di sana, seperti jangkar yang menahannya tetap bertahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
GIOVA 2
Teen FictionEND! 08 Desember 2024 Lima tahun setelah menikah, kehidupan Gio dan Valeska dihadapkan pada ujian besar. Valeska, yang hampir menyelesaikan kuliahnya, terpaksa harus mengambil cuti karena sebuah keadaan darurat yang tak terduga. Meskipun Gio semaki...
