Finis Fabula

4.4K 235 36
                                        

Dua tahun telah berlalu sejak hari itu, hari di mana Valeska dan Gio menyambut kehadiran anak pertama mereka, Griffin Renzo Dewangga. Waktu berjalan begitu cepat, dan meskipun ada banyak tantangan dan kelelahan, kehidupan mereka kini dipenuhi oleh tawa riang dan kebahagiaan yang tak terhingga.

Pagi itu, di ruang tamu rumah mereka, Griffin sedang bermain dengan mainan di lantai, dengan senyum ceria yang tak pernah lepas dari wajahnya. Pakaian berwarna cerah yang dikenakannya tampak sedikit kotor, karena si kecil yang aktif itu tidak bisa diam, selalu ingin bergerak, berlari, dan menjelajahi setiap sudut rumah.

Valeska duduk di sofa, sambil sesekali mengawasi gerak-gerik Griffin yang semakin lihai berjalan. Matanya yang lelah tapi penuh kebahagiaan menyaksikan bagaimana anaknya tumbuh begitu cepat. Tidak terasa, dua tahun telah berlalu, dan meskipun ada kelelahan yang datang dengan peran baru sebagai ibu, setiap detik yang mereka lewati bersama terasa sangat berarti.

Gio baru saja pulang dari kantor dan memasuki ruang tamu dengan senyum hangat. Matanya langsung tertuju pada Griffin yang sedang mencoba membangun menara mainan dengan penuh semangat. Tanpa berkata apa-apa, Gio langsung mendekat dan mengangkat Griffin ke udara, membuat suara tawa kecil itu meledak. "Hei, Griffin!Keliatan kuat banget nih, bangun menara," kata Gio, matanya berbinar saat menatap putranya.

Valeska tersenyum lembut melihat kebersamaan mereka, hatinya penuh kasih. Griffin memang masih sangat kecil, tetapi kekuatan cintanya sudah sangat besar, menghiasi seluruh rumah mereka. "Nanti kalau udah besar, pasti lebih pintar dari Ayah, nih," canda Valeska dengan nada lembut, tetapi matanya terlihat penuh dengan rasa bangga.

"Sudah pasti!" jawab Gio dengan percaya diri, lalu menggoda Alaric, "Kamu pasti bisa jadi lebih keren dari Ayah, kan, sayang?"

Valeska tertawa ringan, melihat betapa besar cinta yang ada di antara mereka. "Kamu tahu nggak, Fin, saat kamu lahir, Bunda sama Ayah merasa seperti ada dunia baru yang terbuka di depan kita. Kami berdua benar-benar nggak tahu kalau bisa sebahagia ini," ujar Valeska sambil menatap Griffin dengan penuh kasih. "Kamu adalah kebahagiaan terbesar dalam hidup kita, Adik."

Griffin yang masih kecil itu hanya tertawa, mengangkat mainannya ke udara, seolah mengerti setiap kata yang diucapkan ibunya. "Aaaa," katanya dengan ceria, menunjukkan senyuman yang lebar dan polos.

Gio tertawa kecil dan kemudian mencium kening Valeska. "Kita benar-benar diberkahi, Sayang. Aku nggak pernah menyangka hidup kita akan seindah ini."

Valeska memegang tangan Gio dengan lembut, matanya penuh kehangatan. "Aku pun begitu, Kak. Setiap hari sama kamu dan Adik adalah anugerah terbesar yang bisa kita dapatkan. Dan kita masih punya waktu yang lebih panjang untuk melihatnya tumbuh, berkembang, dan menjadi seseorang yang luar biasa."

Suasana rumah itu dipenuhi oleh tawa dan kebahagiaan yang tak ternilai. Griffin, dengan senyum cerah di wajah kecilnya, terus menggigit mainannya, tampaknya tak tahu bahwa dunia di sekelilingnya penuh dengan cinta dan harapan besar yang tak terucapkan. Tapi Valeska dan Gio tahu, suatu hari nanti, Griffin akan tahu betapa besar kasih sayang yang mengelilinginya, dari kedua orang tuanya yang tak pernah berhenti mencintainya.

***

Dua tahun berlalu. Valeska dan Gio sedang bersiap-siap untuk menyambut kedatangan teman-teman mereka. Kehebohan dan kegembiraan seolah menyelimuti rumah mereka, seiring dengan kedatangan Shavira, Citra, Laura, Dimas, Bimo, dan Rendra. Selama dua tahun, perjalanan hidup yang penuh tawa, tangis, dan banyak perubahan telah mereka lalui bersama. Kini, mereka semua telah menemukan pasangan hidup mereka, menikah di tahun yang sama dengan jarak waktu beberapa bulan.

Valeska duduk di ruang tamu, menatap temen-temennya satu per satu yang sudah datang, dan matanya langsung tertuju pada perut mereka yang kini tampak membesar. Shavira, Citra, dan Laura terlihat begitu berbeda dengan perut mereka yang sudah mulai tampak jelas, memancarkan kehidupan baru yang mereka bawa.

GIOVA 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang