Part 27~

2K 151 12
                                        

Sesampainya di rumah, Gio disambut oleh kehadiran Bi Sari yang sedang duduk di ruang TV. Tangannya cekatan melipat baju, sementara matanya sesekali melirik ke layar TV yang menayangkan sebuah acara favoritnya. Suasana rumah terasa hangat, meski malam sudah larut.

"Loh, dari mana, Den?" tanya Bi Sari dengan suara ramah, wajahnya sedikit heran melihat Gio yang baru pulang.

Gio tersenyum kecil, melepas sepatu dengan gerakan santai, lalu menggantinya dengan sandal dalam rumah. "Rumah Rendra, Bi. Biasalah, main sebentar ngilangin suntuk," jawabnya ringan, sembari menghela napas panjang.

Bi Sari mengangguk pelan, sambil tetap sibuk melipat pakaian. "Mmm, tumben banget," gumamnya, nada suaranya sedikit menggoda.

Gio tertawa kecil. "Bibi belum tidur?" tanyanya, sekadar berbasa-basi, meski sebenarnya ia tahu jawabannya.

Bi Sari mendongak sejenak, wajahnya memancarkan kehangatan seorang yang penuh perhatian. "Nanti, Den. Mau nyelesain nglipet baju dulu," ucapnya lembut.

Dari lantai atas, suara pintu kamar yang terbuka mengiringi kehadiran Valeska. Wajahnya penuh rasa penasaran setelah mendengar obrolan kecil dari bawah. Dengan piama pink dan bandana senada yang melingkari rambutnya, ia tampak lucu sekaligus menggemaskan.

"Kakak suamii," panggilnya manja dari atas, suaranya menyeret nada, seperti anak kecil yang merengek.

Gio mendongak, senyumnya melebar saat matanya bertemu pandang dengan istrinya. "Kenapa, sayang?" tanyanya lembut, suaranya penuh kasih.

"Sinii, kok lama?" Valeska merajuk, wajahnya cemberut kecil, namun matanya masih memancarkan kehangatan.

Bi Sari terkekeh melihat pemandangan itu. "Kalian ini lucu banget," celetuknya sambil menggeleng pelan, senyum tak lepas dari bibirnya.

Gio ikut tertawa, lalu berpamitan dengan nada santai. "Gio ke atas ya, Bi."

"Siap, Den," jawab Bi Sari sambil melanjutkan pekerjaannya.

Langkah Gio terasa ringan ketika ia menaiki tangga. Valeska berdiri menunggunya, kedua tangannya menyilang di dada, seolah sedang menahan diri untuk tidak tersenyum.

"Kenapa, sayang? Ini kan belum jam sembilan, baru juga setengah jam aku di rumah Rendra," kata Gio, suaranya terdengar seperti sedang membujuk.

Valeska mengembungkan pipinya sedikit, ekspresinya menunjukkan perpaduan antara kesal dan manja. "Ngga usah main-main deh. Kamu tega ninggalin aku sendirian di kamar? Aku kan kesepian, sementara kamu enaknya main sama teman-teman kamu," ucapnya, nada suaranya terdengar posesif, tapi entah bagaimana justru membuat Gio semakin gemas.

"Marah nih ceritanya?" goda Gio sambil menatap istrinya dengan senyum iseng.

"Kamu ngga liat ekspresi aku?" Valeska mendelik kecil, berusaha mempertahankan wajah cemberutnya.

Gio terkekeh, lalu mendekat. "Lihat, aku lihat kok. Ekspresi menggemaskan di wajah istri aku yang cantik ini," ucapnya sambil mencubit kedua pipi Valeska perlahan, membuat wanita itu gagal berpura-pura marah.

"Resek deh!" seru Valeska, tapi nada tawanya tidak bisa disembunyikan. Ia menepis tangan Gio dengan lemah, senyum mulai mengembang di wajahnya.

"Aku tahu kok," ujar Gio lembut sambil mengusap rambut Valeska. "Kamu tuh ngga marah, kamu kangen aku kan?" tanyanya sambil tersenyum.

Valeska akhirnya mengangguk pelan, matanya menatap Gio dengan penuh rasa sayang.

Gio menggandeng tangan Valeska, membawanya masuk ke kamar. "Lain kali, kalau kangen tuh langsung aja ngomong. Ngga usah pura-pura marah dulu," ucap Gio sambil mencubit hidung istrinya dengan gemas.

GIOVA 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang