Waktu terus berlalu, dan kini Valeska memasuki bulan kedelapan kehamilannya. Perutnya yang semakin membesar membuat gerakannya melambat, namun senyumnya tak pernah hilang. Kehamilan ini membawa kebahagiaan tak terhingga, terutama bagi Gio yang semakin siaga menjadi suami sekaligus calon ayah.
Pagi itu, sinar matahari menerobos tirai tipis di kamar mereka. Gio baru saja selesai memindahkan beberapa kardus ke dalam mobil. Hari itu mereka akan pindah ke rumah baru, sebuah rumah yang lebih besar dan nyaman di pinggir kota, dengan taman luas yang sudah lama diidamkan Valeska.
Gio masuk ke kamar, menemukan Valeska sedang duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi boneka beruang besar yang dibelinya dua bulan lalu. Boneka itu kini menjadi teman setianya, sering ia peluk saat tidur atau sekadar berbincang saat merasa bosan.
"Kamu siap, Sayang?" tanya Gio lembut sambil menghampiri. Ia membantu Valeska bangkit perlahan, memegang tangannya dengan hati-hati.
Valeska mengangguk, senyum lembut mengembang di wajahnya. "Siap dong. Aku ngga sabar bisa tinggal di rumah baru," ujarnya dengan suara penuh semangat.
Gio tersenyum, membimbing istrinya keluar kamar menuju ruang tengah. Di sana, Bi Sari sudah sibuk mengawasi beberapa orang yang membantu mengangkut barang-barang ke truk. Bi Sari baru saja kembali dari cuti selama satu bulan, terlihat lebih segar dan penuh semangat.
"Non Valeska, hati-hati jalannya, ya. Jangan terlalu banyak bergerak, jangan terlalu capek juga," ujar Bi Sari dengan suara perhatian khasnya. Ia menghampiri Valeska, membantunya duduk di sofa. "Biar Bibi yang urus semua barangnya, kalau sama bibi mah aman seratus persen, tenang aja non."
Valeska tertawa kecil, merasa bersyukur memiliki Bi Sari yang selalu sigap membantu. "Makasih loh bi, bibi nih habis cuti keren banget, semangatnya makin nambah loh" ucap Valeska.
"Harus dong, non. Bibi kan kangen sama rumah ini, sama Den Gio, sama Non, apalagi sama calon dedek bayi. Tapi, bibi baru berapa hari di sini, malah mau pindah" jawab Bi Sari terlihat sedih.
Gio ikut tersenyum mendengar itu. "Tenang aja, Bi. Rumah baru kita lebih enak, dan Bibi punya kamar sendiri yang lebih besar dari kamar di sini," katanya sambil melirik Valeska yang mengangguk antusias.
Tak lama kemudian, mereka berangkat menuju rumah baru. Perjalanan terasa singkat karena diwarnai obrolan ringan antara Gio, Valeska, dan Bi Sari. Setibanya di sana, Valeska langsung terpana melihat rumah mereka. Bangunan dua lantai dengan desain modern, lengkap dengan halaman luas yang dipenuhi bunga-bunga yang sudah mulai bermekaran.
"Gila sih, kamu nemu rumah ini di mana? bisa-bisanya sebagus ini. Selera kamu ok juga ternyata" seru Valeska dengan mata berbinar.
Gio tersenyum bangga, merasa lega bahwa usahanya memilih rumah terbaik untuk keluarga kecil mereka tidak sia-sia. "Kamu ngeremehin aku yaa? gini-gini juga aku tau apa yang lagi hits, sayang" ucapnya sambil menatap penuh kasih ke arah Valeska.
Bi Sari, yang juga baru pertama kali melihat rumah itu, hanya bisa mengangguk-angguk kagum. "Rumahnya bagus banget, Den! Non pasti betah di sini, apalagi bibi."
Hari itu dihabiskan dengan menata rumah. Gio dan para pekerja sibuk memindahkan furnitur ke tempatnya, sementara Valeska lebih banyak duduk sambil mengarahkan barang-barang yang harus diletakkan di beberapa ruangan. Bi Sari tak kalah sibuk, memastikan dapur baru mereka siap digunakan.
***
Malam tiba, dan rumah mulai terasa lebih seperti "rumah". Gio memutuskan memasak sendiri di dapur sebagai kejutan kecil untuk Valeska. Dengan apron yang terlihat lucu karena ukurannya agak kecil, Gio mengaduk panci sambil sesekali mencicipi kuahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
GIOVA 2
Ficção AdolescenteEND! 08 Desember 2024 Lima tahun setelah menikah, kehidupan Gio dan Valeska dihadapkan pada ujian besar. Valeska, yang hampir menyelesaikan kuliahnya, terpaksa harus mengambil cuti karena sebuah keadaan darurat yang tak terduga. Meskipun Gio semaki...
