Gio memasuki kamar dengan langkah berat. Wajahnya dipenuhi tanya, namun di baliknya tersembunyi gelombang emosi yang tak terungkapkan. Valeska duduk di tepi ranjang, wajahnya sembab, dan tangannya terikat erat pada selimut, seakan itu satu-satunya yang bisa memberinya kekuatan. Ia tahu, percakapan ini tak bisa dihindari, dan setiap detik yang berlalu semakin memadatkan rasa cemas yang menggelayuti hatinya.
"Val, ada apa? Jelasin ke aku," suara Gio keluar dengan nada yang tegas, namun hati-hati, seolah takut jika ia terlalu keras, ia akan kehilangan segala sesuatu yang ada di depannya.
Valeska menunduk, tak berani menatap suaminya yang kini berdiri di hadapannya. "Aku... aku nggak tahu harus mulai dari mana," ucapnya lirih, suaranya terasa rapuh, seperti sedang menghindari kesedihan yang sudah terlalu dalam.
"Mulai dari awal," desak Gio, duduk di kursi dekat ranjang, matanya tak lepas memandang wajah Valeska yang kini lebih tenggelam dalam kesedihan.
Valeska menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan segala keberanian yang tersisa. "Keyfano... dia masa lalu aku," ucapnya dengan suara gemetar, kata-kata itu bagaikan pisau yang mengiris kenangan-kenangan lama yang tak kunjung terlupakan.
Gio mengernyit, mencoba mencerna apa yang baru saja didengarnya. "Masa lalu gimana? Kalian cuma teman atau ada lebih dari itu?" tanyanya, suaranya mulai meninggi, namun masih menyimpan keraguan yang dalam.
"Dia mantan aku, Kak. Waktu SMP," jawab Valeska, air matanya perlahan menggenang, menunggu waktu untuk jatuh. Setiap kata yang keluar dari mulutnya semakin sulit, seperti ada beban berat yang menahan setiap kalimat.
Gio terdiam, mencoba mencerna apa yang baru saja didengarnya. "Kenapa kamu ngga pernah cerita kalau kamu punya mantan? dulu kamu bilang kamu ngga pernah pacaran, Val." tanyanya, suaranya semakin meninggi, berusaha menahan kekecewaan yang mulai merayap di hatinya.
"Aku nggak pernah cerita karena aku pikir itu nggak penting. Itu udah lama banget, Kak. Waktu itu, aku nggak pernah nyangka kalau dia akan muncul lagi, secara kan, kita udah ngga chatan atau apapun lagi," jelas Valeska, suaranya memelas, mencoba menenangkan dirinya sendiri yang mulai terjerat dalam kebingungannya.
"Terus tadi apa? Apa maksudnya dia bilang kalau dia masih sayang sama kamu? Dan kamu... kamu nangis di depan dia loh Val," tanya Gio dengan nada penuh amarah, matanya menyipit menahan emosi yang bergelora, hatinya terasa dipenuhi rasa sakit yang tajam.
Valeska menggigit bibirnya, menahan isakan yang hendak pecah. "Kak, aku cuma sebatas rindu doang sama dia, bagaimanapun, dulu kita selesai bukan karena masalah besar, kita selesai karena aku ngga mau hubungan jarak jauh sama dia. Dia janji buat balik lagi, tapi kan kita di jodohin kak, ka Gio tau sendiri apa ancaman orang tua kita kalau kita nolak," ucap Valeska, suara itu seperti pecahan-pecahan kenangan yang dipaksakan bertahan.
"Kamu masih cinta sama dia?" tanya Gio, hatinya bergejolak, namun ia berusaha menahan kata-kata yang begitu pahit untuk diungkapkan.
"Ngga gitu!" Valeska membantah dengan cepat, suaranya terdengar putus asa, seperti mencoba menenangkan dirinya yang sedang terperangkap dalam kerumunan rasa takut dan rindu yang tak terucapkan. "Aku sayang sama kamu. Aku pilih kamu."
"Tapi kamu nggak bisa bohongin aku. Aku lihat tadi. Tatapan kamu ke dia. Pelukan itu," ucap Gio dengan suara berat, dadanya naik turun menahan amarah yang menyelimuti hatinya, seolah semua perasaan itu ingin meledak begitu saja.
Valeska menangis terisak, air matanya jatuh seperti hujan yang tak bisa ia tahan lagi. "Aku nggak mau dia pergi tanpa tahu kebenarannya, Kak. Aku nggak mau dia mikir kalau aku ninggalin dia tanpa alasan."
Gio berbalik menatap istrinya dengan tatapan yang tajam, seolah ingin mengetahui seluruh isi hatinya. "Kebenaran apa?" tanyanya dengan suara rendah, mencoba menyembunyikan rasa sakit yang mulai menggerogoti jiwanya.
Valeska menghapus air matanya dengan punggung tangan, mencoba menahan semua perasaan yang tak ingin keluar. "Kebenaran kalau aku sama kamu itu dijodohin, bukan karena aku ngga mau nunggu dia," ucap Valeska, suaranya hampir tak terdengar, seperti bisikan di antara badai yang mereda.
Gio tersenyum getir, senyuman yang seolah mencerminkan semua kekecewaan dan keputusasaan. "Kamu menyesali semua itu sampai sekarang? Kamu belum bisa nerima itu? Val, secara tidak langsung, kamu itu masih ngarepin dia loh, dan secara ngga langsung juga, kamu itu masih ngasih harapan buat dia, Val, sampai kamu berusaha mau ngejelasin gitu."
"Kak, please lah, jangan pake emosi... Iya, dulu aku nikah sama kamu itu nyesel, tapi kalau sekarang kan ngga kak, kamu tau sendiri aku gimana ke kamu, kita setiap hari bahagia loh, tanpa adanya paksaan sedikitpun, dan dengan aku ngomong kaya gitu, bukan berarti aku masih berharap sama dia, kak" jawab Valeska, suaranya hampir tak terdengar, seperti gema yang berusaha menggema dalam ruang hampa.
Gio menatapnya dalam, mencoba mencari kebohongan di balik kata-kata itu. Namun hatinya berkata lain. Ia memalingkan wajahnya, mencoba menenangkan diri, namun perasaan yang membuncah semakin menguasainya. "Dan sekarang, dia nyari kamu. Kamu mau balik sama dia?" tanyanya, suaranya serak dengan keputusasaan.
Valeska berdiri, melangkah mendekati Gio dengan hati yang penuh keraguan. "Nggak. Aku udah milih buat tetep sama kamu. Aku udah jadi istri kamu," jawabnya, suaranya penuh keyakinan yang sebenarnya rapuh.
Gio menatap Valeska tajam, namun matanya penuh rasa sakit. "Tapi sekarang kamu masih mikirin dia, Val. Aku sakit," ucap Gio, kata-katanya tertahan, seperti memukul dinding hatinya sendiri.
"Jangan playing victim, dulu juga aku ngerasain ini karena ternyata kamu masih suka sama Ka Rahel, jadi stop menyalahkan aku. Kalau aku bilang aku pilih kamu ya aku pilih kamu kak, ngga ada kebohongan dalam kalimat itu, tolong percaya sama aku, aku capek kalau harus berurusan kaya gini," ucap Valeska dengan suara yang bergetar, mencoba menyampaikan semua perasaannya yang terpendam.
"Ini balasan aku ya, Val? balasan atas apa yang aku lakuin ke kamu," ucap Gio, air matanya mulai mengalir tanpa bisa ia bendung lagi. Tubuhnya merosot begitu saja ke lantai, seolah tak kuat lagi menanggung beban perasaan ini.
"Kak, kamu bukan pilihan kedua! Kamu adalah hidup aku sekarang. Aku sayang sama kamu," tegas Valeska, suaranya penuh ketulusan, berusaha menyembuhkan luka yang ada di hati mereka berdua.
Valeska berlutut di depannya, memegang tangan Gio dengan erat, seperti ingin memastikan jika dia tetap di sana. "Kita udah jalan sejauh ini, Kak" ucap Valeska, Valeska mengusap perutnya, pandangan Gio mengikuti arah pandang Valeska, "Lihat, kita udah mau punya anak, bahkan adik sebentar lagi keliar. Jangan biarkan masa lalu menghancurkan kita. Kemarin, aku maafin semua kesalahan ka Gio, karena aku yakin, kita pasti bisa bersatu terus, selamanya."
"Tapi masa lalu kamu ternyata lebih besar dari yang aku kira, Val," ujar Gio, matanya mulai memerah, air mata yang mengalir begitu bebas kini menjadi saksi betapa dalamnya luka di hati.
"Kak udah, aku harus ngomong berapa kali kalau aku pilih kamu, aku istri kamu, aku bahagia sama kamu," kata Valeska, air matanya terus mengalir, tak terbendung lagi, seperti sungai yang mengalir deras, tak bisa dihentikan oleh apapun.
Keheningan kembali mengisi ruangan, hanya suara isakan Valeska yang terdengar samar-samar. Ruangan itu terasa begitu hampa, seolah tak ada yang bisa menyembuhkan luka yang tercipta.
Gio akhirnya mendongak, menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diterjemahkan. Ia merasa seolah waktunya telah habis untuk memikirkan masa lalu. Gio memeluk Valeska dengan begitu erat, seolah ingin memastikan bahwa ia tidak akan kehilangan segala yang sudah mereka perjuangkan. "Jangan tinggalin aku Val, aku ngga mau kehilangan kamu," ucap Gio, suaranya pecah.
Valeska mengangguk, bibirnya bergetar, dan air mata mereka mengalir bersama. Mereka menangis bersama, merasakan betapa beratnya perjalanan ini, tapi di dalam tangisan itu, ada secercah harapan untuk masa depan yang masih bisa mereka jalani bersama.
***
05/12/24
KAMU SEDANG MEMBACA
GIOVA 2
JugendliteraturEND! 08 Desember 2024 Lima tahun setelah menikah, kehidupan Gio dan Valeska dihadapkan pada ujian besar. Valeska, yang hampir menyelesaikan kuliahnya, terpaksa harus mengambil cuti karena sebuah keadaan darurat yang tak terduga. Meskipun Gio semaki...
