Keesokan paginya, Valeska terbangun lebih awal dari biasanya. Sejak Bi Sari mengambil cuti, ia mengambil alih tugas memasak, sementara Gio berjanji akan memanggil pembantu harian untuk membersihkan rumah. Awalnya Valeska menolak, namun Gio tetap bersikeras, mengingat usia kehamilannya yang telah menginjak enam bulan.
Di kamar, Gio masih terlelap, tenggelam dalam mimpi-mimpi malamnya. Sementara itu, Valeska sibuk di dapur, gemerincing alat masak mengiringi langkah kakinya yang lincah. Namun, suara bel yang menggema dari arah depan memutus kesibukannya. Dengan tergesa, ia melangkah menuju pintu.
"DUARRRRRR!" Suara keras menyambutnya begitu pintu terbuka. Di hadapannya, tiga sosok gadis berdiri dengan tawa yang meledak-ledak.
"Astaga! Goblok banget sumpah, pagi-pagi udah bikin jantung gue mau copot!" Valeska memegang dadanya, berusaha menenangkan debar yang tiba-tiba melonjak.
"Hahaha! Lagi ngapain sih, bumil? Sepi amat rumah lo," ucap Shavira sambil menahan tawanya.
"Masak lah, udah jadi bini nehh, ngga iri?" ledek Valeska. "Kalian ngapain pagi-pagi ke sini? Tumben, ngga ada angin, ngga ada hujan," jawab Valeska sambil melipat tangan di dada, matanya menyipit penuh tanya.
"Mau minta makan, lah. Masa cuma mau ketemu lo doang? Rugi dong!" sahut Laura, membuat Valeska melotot kesal.
"Bacot lo! Sini masuk," balas Valeska sambil membuka pintu lebih lebar, memberi isyarat pada mereka untuk masuk.
"Ka Gio kerja, Val?" tanya Citra sambil melirik ke dalam rumah yang terlihat sepi.
"Nggak."
"Loh? Kok bisa?" sambung Laura, penasaran.
"Anjir, banyak banget nanya! Suami gue sementara ini ngehandle perusahaannya lewat asisten dia. Gue kan lagi bunting, dia ngga tega ninggalin gue sendirian di rumah," jelas Valeska cepat dengan nada cempreng, membuat ketiganya kompak menutup telinga.
"Ya ampun, buk, santai. Jangan ngegas gitu," ujar Shavira, menahan tawa.
"ART lo kemana?" tanya Laura.
"Cuti, lagi pulang kampung." jawab Valeska.
Namun, tiba-tiba Citra mengernyitkan hidungnya. "Eh, Kalian nyium bau sesuatu ngga sih? kaya bau gosong gitu" ucap Citra.
Mata Valeska langsung membulat. "Citraaaa! Tempe gue gosong!" Dengan panik, ia berlari ke dapur. Benar saja, wajan di atas kompor menampilkan potret kegosongan yang sempurna.
"Bisa-bisanya gue lupa kalau lagi goreng tempe," keluhnya sambil mematikan kompor.
Tak lama, langkah berat terdengar mendekat. Gio, yang baru turun dari kamar, memasuki dapur dengan wajah sedikit mengantuk dan rambut acak acakan. "Sayang? Tadi aku dengar suara di depan. Temen-temen kamu datang ya?" tanyanya dengan nada lembut.
"Baru beberapa menit yang lalu," jawab Valeska, nada suaranya sedikit kesal sambil mengangkat tempe yang hangus.
Gio tertawa kecil, lalu mendekat dan duduk di kursi meja makan. "Kamu kenapa? Cemberut gitu," tanyanya penuh perhatian.
"Tempenya gosong, Ka" ujar Valeska sambil mengangkat piringnya, menunjukkan tempe yang sudah tak lagi bisa diselamatkan.
"Kenapa sampai gosong?Kamu lupa?"
"Aku buru-buru buka pintu buat mereka, terus malah lanjut duduk di ruang tamu. Jadi lupa sama tempe di dapur," keluhnya pelan. Ia membuang tempenya ke tempat sampah, lalu duduk di kursi di samping Gio.
Gio tersenyum, lalu menggenggam tangan Valeska. "Nggak papa, sayang. Kan masih ada lauk lain yang kamu masak."
Ia berbalik, mengusap lembut perut Valeska. "Adik, selamat pagi," ucapnya dengan penuh kasih. Valeska tersenyum kecil, perasaannya perlahan membaik.
"Udah ngga kesel," katanya sambil tertawa kecil, merasa hatinya luluh oleh perhatian Gio.
"Makan dulu, baru ngobrol lagi, ya," ajak Gio dengan nada lembut.
"Bentar, Kak. Mereka tadi bilang mau ikut makan. Nggak papa, kan?" tanya Valeska sambil menatapnya.
"Ya ngga papa. Panggil aja mereka kesini," jawab Gio sambil tersenyum.
Valeska mengangguk, lalu berjalan ke ruang tamu. "Kalian jadi mau makan, nggak?" tanyanya pada ketiga temannya.
"Nggak, Val. Tadi mah cuma bercanda. Kita udah sarapan," sahut Shavira sambil nyengir, diikuti anggukan Citra dan Laura.
"Ya udah, gue makan dulu, ya. Kalian di sini lama, kan?"
"Udah, sana makan dulu. Kita nunggu di sini," jawab Citra.
Valeska pun kembali ke dapur, hatinya sudah lebih ringan. Di sana, Gio menunggunya dengan senyum hangat. Hari itu, meskipun sederhana, terasa lebih istimewa dengan kehadiran orang-orang yang mencintainya.
Setelah memastikan teman-temannya nyaman di ruang tamu, Valeska kembali ke dapur. Gio sudah menyiapkan piring dan peralatan makan di atas meja, membuat Valeska merasa sedikit terhibur meski sebelumnya sempat kesal karena tempenya gosong.
"Aku bantuin supaya kamu nggak perlu repot lagi," ujar Gio sambil menatapnya lembut. Ia mengambil lauk-lauk yang sudah selesai dimasak Valeska dan menyusunnya rapi di meja makan.
Valeska tersenyum tipis. "Makasi," ucapnya sambil mengambil tempat di kursi.
Mereka mulai menyantap sarapan dalam keheningan yang nyaman, hanya suara denting piring dan sendok yang mengisi udara. Sesekali Gio menyuapi Valeska, membuat gadis itu tertawa kecil karena merasa dimanja.
Tak lama kemudian, tawa dari ruang tamu menggema, membuyarkan keheningan di dapur. Gio menoleh sambil tersenyum. "Kalian kalau udah kumpul, ramenya ngelebihin warga satu komplek."
Valeska mengangguk sambil tersenyum kecil. "Iya, mereka itu obat stres. Kalau nggak ada mereka, mungkin aku bakal bosen banget di rumah terus."
Setelah selesai sarapan, Gio membantu Valeska membereskan meja makan. "Udah, sini aku aja yang beresin. Kamu istirahat di ruang tamu sama mereka," ucapnya sambil menggiring Valeska keluar dari dapur.
"Serius? Kamu nggak apa-apa beresin sendiri?" tanya Valeska, merasa tak enak hati.
Gio mengangguk sambil tersenyum. "Tenang aja. Aku bisa kok."
Valeska pun menurut, berjalan ke ruang tamu di mana Shavira, Citra, dan Laura sedang asyik berbincang. "Udah selesai makan? Lama banget lo," goda Laura sambil menyilangkan tangan di dada.
"Iya, maaf deh. Ka Gio yang bantu beresin di dapur. Jadi aku bisa gabung lagi sama kalian sekarang," jawab Valeska sambil duduk di sofa.
"Kalau gitu, sekarang kita ngobrol serius," ucap Shavira sambil menatap Valeska dengan penuh antusias.
"Ngobrol serius apaan?" tanya Valeska, bingung dengan nada Shavira yang mendadak serius.
"Nama buat bayi lo, dong! Udah ada ide belum?" seru Citra sambil menyodorkan secarik kertas yang berisi daftar nama.
Valeska terdiam sejenak, lalu tersenyum. "Belum. Masih lama ini" ucap Valeska.
"Gue punya saran, Val" ucap Laura dengan semangat.
"Firasat gue ngga enak" celetuk Shavira.
"Sama, gue juga" sambung Citra.
"Ya elahh, saran bener loh, mau denger ngga nih?" ujar Laura, menatap ketiga temannya bergantian.
"Yaudah buru, lama amat" ucap Valeska.
"Nama rekomendasi dari gue sih, misalkan cowok namanya Agus, kalau cewek Siti" ucap Laura dengan senyum bangganya.
"Anjay, namanya old banget Lauraa, yang aesthetic dikit kekk atau yang ngikutin jaman" gerutu Valeska.
"Tau nih, ngasih nama anak jaman sekarang kok gitu" ucap Citra.
"Firasat gue membuktikan" ucap Shavira.
Obrolan pun berlanjut dengan tawa dan canda. Meski pagi itu dimulai dengan kekesalan kecil, Valeska senang, akhirnya teman-temannya bisa menyempatkan bermain ke rumahnya, setelah beberapa bulan Shavira, Citra dan Laura tidak pernah berkunjung ke rumahnya.
***
29/11/24
KAMU SEDANG MEMBACA
GIOVA 2
Roman pour AdolescentsEND! 08 Desember 2024 Lima tahun setelah menikah, kehidupan Gio dan Valeska dihadapkan pada ujian besar. Valeska, yang hampir menyelesaikan kuliahnya, terpaksa harus mengambil cuti karena sebuah keadaan darurat yang tak terduga. Meskipun Gio semaki...
