Tiga minggu telat berlalu. Malam itu, hujan rintik turun dengan lembut, menciptakan irama yang menenangkan di luar jendela. Valeska duduk di sofa ruang tamu, tangannya membelai perutnya yang sudah begitu besar. Usia kehamilannya kini sembilan bulan, dan setiap hari terasa seperti menunggu sesuatu yang tak terelakkan. Gio, yang sedang membaca buku di sebelahnya, sesekali melirik Valeska untuk memastikan dia baik-baik saja.
"Kamu udah ngantuk belum?" tanya Gio sambil menutup bukunya, tapi Valeska hanya menggeleng pelan.
"Nggak" jawabnya, "Kak, adik kok aktif banget ya" ucap Valeska, merasakan gerakan kecil di perutnya. Dia tersenyum tipis, tapi ada sesuatu yang terasa aneh. Semacam tekanan di bagian bawah perutnya, seperti gelombang yang datang dan pergi.
Valeska tidak menghiraukan rasa itu, menganggapnya sebagai kontraksi palsu seperti yang sudah sering dia alami. Tapi semakin malam, rasa itu makin kuat, makin teratur. Napasnya mulai terasa lebih berat. Ia mencoba berdiri dari sofa, tapi langkah pertamanya membuatnya meringis. Sebuah rasa sakit tajam menjalar dari pinggang ke bagian bawah perut.
"Aduh" pekik Valeska.
"Val, kamu kenapa?" Gio langsung sigap berdiri, matanya penuh kekhawatiran.
Valeska mengatur napasnya, mencoba untuk tidak panik. "Kayaknya... kontraksi beneran," gumamnya sambil memegang perut. "Sakitnya beda, Kak. Kayak ada tekanan gede banget."
Gio tidak membuang waktu. Ia segera mengambil tas bersalin yang sudah mereka siapkan sejak minggu lalu. "Tunggu sini, aku ambil kunci mobil," katanya dengan nada tegas. Tapi sebelum dia sempat pergi, Valeska meringis lagi, tangannya mencengkeram lengan Gio erat-erat.
"Jangan cepet-cepet coba, Kak. Ntar dulu, aku sakit" ucap Valeska sambil mencoba mengatur napas seperti yang diajarkan di kelas persiapan melahirkan. Napas pendek dan dalam, tapi rasanya tidak cukup untuk melawan gelombang rasa sakit yang datang.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil. Gio menyetir dengan fokus penuh, matanya melirik Valeska di kursi penumpang yang sesekali memegang perutnya sambil mendesah panjang. Jalanan licin karena hujan, tapi Gio memastikan mereka sampai di rumah sakit secepat mungkin.
"Val, kamu masih oke?" tanya Gio dengan nada cemas.
"Masih, tapi ini beneran sakit banget, Kak," jawab Valeska dengan suara yang bergetar. Air mata mulai menggenang di sudut matanya, bukan hanya karena rasa sakit, tapi juga karena perasaan campur aduk, takut, cemas, tapi juga penuh harapan.
Setibanya di rumah sakit, perawat langsung membawa Valeska ke ruang bersalin. Gio mengekor di belakang, wajahnya penuh ketegangan. Valeska berbaring di ranjang, sementara dokter memeriksa kondisi bayinya. "Kontraksinya udah teratur. Kita pantau dulu ya, Bu, sampai pembukaannya cukup," kata dokter dengan suara tenang.
Waktu berjalan lambat, setiap menit terasa seperti satu jam. Gelombang kontraksi datang semakin sering, membuat Valeska menggenggam tangan Gio dengan kekuatan yang hampir membuatnya meringis. "Kak, aku takut deh. Aku bisa ngga ya?" ucapnya dengan suara lemah, tapi Gio hanya membalas dengan genggaman yang lebih erat.
"Kamu bisa, Sayang. Kita udah sejauh ini," ucapnya lembut, mencoba memberikan kekuatan meskipun hatinya sendiri penuh kecemasan.
Hujan di luar masih setia menemani malam, kini terasa seperti suara latar yang samar. Di ruang observasi rumah sakit, Valeska berbaring dengan wajah pucat, tubuhnya berkeringat. Kontraksi semakin sering datang, membuatnya sulit bernapas dengan tenang. Setiap gelombang rasa sakit terasa seperti menjalar dari pinggang hingga ke pangkal pahanya, seolah tubuhnya diremas tanpa ampun.
"Napas, Val... Napas pelan-pelan," Gio menggenggam tangannya, mencoba menenangkan meski suara Valeska yang meringis dan sesekali mengerang mulai membuatnya panik.
"Kak..pinggang aku sakit banget!" Valeska mengerang keras sambil mencengkeram seprai ranjang dengan erat. Tubuhnya bergetar menahan rasa sakit yang terus menghantam tanpa jeda.
"Dokter! Perawat!" Gio berteriak dari sisi ranjang, nadanya penuh kepanikan. Ia melihat ke arah monitor yang menunjukkan grafik kontraksi yang semakin tinggi. "Kenapa lama banget mereka nggak balik?" gumamnya sambil berdiri gelisah, mondar-mandir di sekitar tempat tidur Valeska.
"Diam di sini! Jangan tinggalin aku!" Valeska menangis, tangannya mencengkeram lengan Gio seperti orang tenggelam yang berusaha berpegangan pada apapun untuk bertahan.
"Iya, iya, aku di sini," ujar Gio, kembali ke sisinya. Ia merasa tak berdaya, hanya bisa mengusap peluh di dahi Valeska dengan tangan gemetar. Hatinya remuk melihat wanita yang dicintainya bergulat dengan rasa sakit seperti itu.
"Ini... kayaknya nggak mungkin cuma kontraksi biasa, Kak. Kayaknya ada yang salah," isak Valeska, air matanya mengalir deras. Tubuhnya melengkung kesakitan, napasnya tersengal tak beraturan.
"Nggak, nggak ada yang salah. Kamu kuat, Sayang. Aku di sini," Gio mencoba menguatkan, meski pikirannya sendiri penuh kecemasan. Ia kembali memencet bel panggil, tapi seolah semua orang di rumah sakit menghilang.
Hampir satu jam berlalu sejak kontraksi mulai menguat, dan rasa sakit yang Valeska rasakan kini menjadi konstan. Tidak ada jeda, hanya tekanan yang terus menghimpitnya. Ia bahkan tak mampu berbicara lagi, hanya erangan lemah yang keluar di antara napasnya yang memburu. Gio merasa seluruh dunia runtuh melihat keadaan istrinya.
Akhirnya, pintu terbuka dan seorang perawat masuk dengan terburu-buru. "Maaf lama, Pak. Kami sedang mempersiapkan ruang bersalin. Bagaimana dengan rasa sakitnya sekarang?" tanya perawat sambil mendekat.
"Dia kesakitan banget! Ini nggak wajar, kan? Kenapa lama banget baru diperiksa lagi?" suara Gio hampir pecah, matanya melotot dengan campuran marah dan takut.
"Tenang, Pak. Kita cek dulu, ya," ujar perawat itu sambil memeriksa kondisi Valeska. Namun, bahkan sebelum perawat itu menyentuhnya, Valeska sudah menjerit pelan, menggenggam tangan Gio lebih erat dari sebelumnya.
"Udah nggak ada jeda, sakitnya terus-terusan," lirih Valeska, hampir tak terdengar karena kelelahan.
Perawat memeriksa dengan sigap, lalu mengangguk kecil. "Kontraksinya memang sangat kuat, tapi pembukaannya masih belum cukup. Ini memang fase aktif persalinan, jadi wajar kalau terasa berat. Tapi Ibu harus tenang, napasnya diatur, ya," ucapnya sambil membantu menyesuaikan posisi Valeska di ranjang.
"Berapa lama lagi? Dia nggak kuat kalau terus kayak gini," tanya Gio, wajahnya tak bisa menyembunyikan rasa cemas.
"Kita pantau terus, Pak. Kalau rasa sakitnya semakin parah atau ada keluhan lain, segera panggil kami lagi, ya," jawab perawat sebelum meninggalkan ruangan.
Setelah perawat pergi, Valeska kembali mengerang, tubuhnya tegang setiap kali kontraksi datang. Gio mengusap punggungnya dengan canggung, mencoba membantu meski ia sendiri tidak yakin apa yang bisa dilakukannya. "Val, napas pelan, coba kayak yang diajarin waktu kelas. Aku tahu sakitnya parah, tapi kamu harus coba tenang," katanya, suaranya penuh harap.
"Ngomong mah gampang! Ini sakitnya nggak kayak yang diajarin, Kak!" seru Valeska di sela-sela napasnya yang berat. Ia kembali mencengkeram tangan Gio, seolah nyawanya bergantung pada sentuhan itu.
Gio menelan ludah, merasa sepenuhnya tak berdaya. Hanya satu hal yang terus terngiang di kepalanya, Valeska harus baik-baik saja. Bagaimanapun caranya. "Terus aku harus ngapain? kamunya yang sabar, Val. Aku disini" bisiknya lirih, sambil mencium kening Valeska yang basah oleh peluh.
Waktu terus berjalan, setiap menit terasa seperti berjam-jam. Gio tetap di sisi Valeska, menggenggam tangannya, menenangkannya dengan kata-kata yang ia sendiri tak yakin mampu mengurangi rasa sakitnya. Ia hanya tahu satu hal, dia akan berada di sana, tidak peduli berapa lama pun perjuangan ini berlangsung.
***
08/12/24
KAMU SEDANG MEMBACA
GIOVA 2
Fiksi RemajaEND! 08 Desember 2024 Lima tahun setelah menikah, kehidupan Gio dan Valeska dihadapkan pada ujian besar. Valeska, yang hampir menyelesaikan kuliahnya, terpaksa harus mengambil cuti karena sebuah keadaan darurat yang tak terduga. Meskipun Gio semaki...
