"Cinta sejati adalah tentang menerima apa yang telah berlalu, dan melangkah maju bersama tanpa keraguan"
***
Keesokan harinya, Keyfano sudah terjaga sejak pukul empat pagi. Tidak mampu memejamkan mata semalaman, ia memilih menghabiskan waktu dengan merapikan pakaian yang akan dibawanya ke luar negeri. Jemarinya sibuk melipat kain dan menyusun barang-barang di dalam koper dengan hati-hati.
Suara ritsleting koper yang ditarik membangunkan Rendra dari tidurnya. Dengan mata setengah terbuka, ia memanggil lirih, "Key."
Keyfano menoleh ke arah suara itu. "Lo udah bangun?" tanyanya lembut, menatap Rendra yang perlahan duduk.
"Ngapain lo bangun jam segini? Bukannya waktu keberangkatan lo masih beberapa jam lagi?" Rendra bertanya, alisnya berkerut bingung.
Keyfano tersenyum tipis, menarik napas dalam sebelum menjawab, "Gue nggak bisa tidur, Ren." Kalimat itu terucap ringan, namun di baliknya tersimpan sesuatu yang lebih berat.
Mendengar jawaban itu, Rendra mendadak teringat sesuatu yang sejak semalam memenuhi pikirannya. Ia menyandarkan tubuhnya dengan bantuan bantal guling, bersiap untuk menanyakan hal yang terus mengganggunya.
"Sebenernya," Rendra mulai, nadanya hati-hati, "ada apa sih lo sama Valeska?"
Keyfano menghentikan langkahnya. Ia menaruh koper di samping pintu, lalu berjalan ke arah ranjang. Dengan gerakan perlahan, ia duduk di tepi kasur, tidak jauh dari Rendra.
"Berpisah dengan cara baik-baik itu lebih menyakitkan, Ren," ucap Keyfano akhirnya, suaranya rendah, seperti membawa beban yang tak terlihat. Pandangannya kosong, menatap jauh ke depan seolah mencari sesuatu yang tak ada di sana.
"Maksud lo?" Rendra bertanya, matanya memperhatikan wajah Keyfano yang terlihat begitu rapuh meski berusaha tampak tegar.
Keyfano menarik napas panjang sebelum mulai bercerita. "Waktu SMP, gue pacaran sama Valeska, lama, hampir tiga tahun. Tapi setelah graduation, gue harus ke LA buat lanjutin SMA sama kuliah di sana. Gue pamit baik-baik sama dia, Ren. Tapi dia... dia bilang nggak mau kalau harus menjalani hubungan jarak jauh."
Keyfano menundukkan kepala, senyum pahit tersungging di wajahnya. "Gue sempat janji ke dia, kalau nanti gue balik setelah selesai kuliah. Gue pengen ketemu dia lagi, Ren. Itu alasan kenapa gue pulang sekarang. Gue nyari dia. Tapi gue kehilangan semuanya, nomor, akun media sosial, semua akses buat hubungin dia."
Ia menghela napas, suaranya bergetar meski berusaha tetap stabil. "Gue pikir, setidaknya gue bisa ketemu dia selama liburan ini, walaupun cuma sebulan. Tapi ternyata Tuhan punya rencana lain. Dia udah jadi milik sahabat lo, Ren."
Keyfano tersenyum kecil, getir, seakan mencoba menguatkan dirinya sendiri. "Dunia sempit banget, ya? Kenapa harus orang terdekat yang milikin orang yang gue sayang?"
Rendra tertegun mendengar cerita itu. "Jadi, Valeska itu mantan lo?" tanyanya pelan. Keyfano hanya mengangguk, tanpa kata.
"Pantesan kemarin lo kepo soal kehidupan Gio," gumam Rendra, memahami alasan di balik sikap Keyfano.
"Ya... gitu deh," balas Keyfano pendek, dengan senyuman yang tidak sampai ke matanya.
Rendra menepuk pundak Keyfano, menyalurkan semangat untuk sepupunya, "Tenang aja, Gio orangnya baik kok, baik banget, dia juga sayang banget sama Valeska" ucap Rendra. Keyfano lega mendengarnya, setidaknya, Valaska berada di tangan yang tepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
GIOVA 2
Ficção AdolescenteEND! 08 Desember 2024 Lima tahun setelah menikah, kehidupan Gio dan Valeska dihadapkan pada ujian besar. Valeska, yang hampir menyelesaikan kuliahnya, terpaksa harus mengambil cuti karena sebuah keadaan darurat yang tak terduga. Meskipun Gio semaki...
