"Gue denger semuanya, Hel..."
Valeska dan Rahel reflek menghadap ke pintu masuk. Gio berdiri di ambang pintu, tatapannya tajam dan penuh kemarahan yang dingin. Suaranya berat, namun penuh emosi yang tertahan. "Kenapa lo nggak pernah cerita tentang itu sih, Hel?" tanyanya, nada suaranya menekan, namun di balik itu ada kekecewaan yang samar. "Kalau lo cerita... kalau lo jujur tentang masalah ini, mungkin gue bisa minta ayah buat bantu perusahaan bokap lo. Mungkin gue bisa ngelakuin sesuatu biar lo bebas dari cowok brengsek itu hel. Dan lo seharusnya mikir, cowok mana yang tega kalau ceweknya dikaya gituin sama cowok lain? seharusnya lo cerita, gue juga ngga akan diem aja kalau lo cerita, Rahel."
Rahel terkejut, tak mampu berkata-kata. Matanya menatap Gio dengan ekspresi terluka, namun ia tetap diam, seakan tahu tak ada kata yang bisa menghapus rasa sakit yang tercipta. Rahel menoleh ke arah Valeska, menyadari akan perubahan raut wajah gadis di sampingnya ini.
Gio semakin mendekat, "Lo pacar pertama gue Rahel, lo tau harapan gue sama lo itu apa kan? kita udah janji bakalan serius ke tahap berikutnya Rahel, tapi lo rusak gitu aja karena lo ngga jujur sama gue tentang masalah yang lo alami. Dan sekarang? kita ngga bisa wujudin itu, kita hidung masing-masing." ucap Gio begitu marah. Rahel hanya diam, bingung harus mengatakan apa. Rahel merasa tidak enak dengan Valeska atas apa yang Gio katakan.
Valeska mengalihkan pandangannya, hatinya tercubit perih. Ia tak habis pikir. Di dalam lubuk hatinya, ada rasa getir yang membuat napasnya terasa berat. Secara tak langsung, Gio menyiratkan penyesalan, seolah dirinya sangat menginginkan kisahnya bersemi dengan Rahel, dan bisa menjadi sepasang kekasih selamanya.
"Jadi, Ka Gio nyesel karena ngga bisa wujudin harapan ka gio buat bisa bangun rumah tangga sama ka Rahel? malah sekarang sama aku? iya kan kak?" tanya Valeska pelan, namun dalam suaranya ada nada yang bergetar, nyaris terluka.
Gio menoleh padanya, mendapati tatapan yang selama ini jarang ia lihat. Sesaat ia terdiam, menyadari betapa kata-katanya mungkin telah menyayat hati Valeska. "Val... bukan itu maksud aku..." gumamnya dengan nada lembut yang hampir tak terdengar.
"Tapi kelihatannya Ka Gio nyesel kan karena baru tau alasan ka Rahel sekarang?" Valeska menyela, mengumpulkan keberanian untuk berkata. "Ka Gio pikir, kalau Ka Rahel cerita, semua ini akan berbeda... bahwa kalian bisa bahagia?"
Gio terdiam, tak tahu harus berkata apa. Pertanyaan itu menusuk dirinya lebih dalam daripada yang ia duga. Sejenak, ia ingin menyangkal, namun tahu bahwa sebagian dari dirinya tak bisa benar-benar membohongi perasaannya sendiri. Gio tidak bisa menyingkirkan kalimat bahwa Rahel adalah orang lain yang pertama kali membuat gue jatuh cinta.
Rahel berdiri, mencoba menahan air mata yang perlahan menggenang di sudut matanya. "Gio... gue... gue tahu sekarang semuanya udah terlambat. Maaf, gue nggak mau jadi beban lagi. Gue cuma mau cerita ke Valeska tentang alasannya, dan bisa berdamai dengan masa lalu, dan ngga tau kalau semuanya akan berakhir seperti ini. Gue ngga punya teman cerita, selama ini gue pendam,tapi malah jadi beban buat gue, tapi ternyata,gue ceritapun tetap menjadi beban, bahkan bagi orang lain juga." ucapnya pelan, air matanya mulai jatuh perlahan.
Valeska memandang ke arah Rahel dan Gio, menyadari bahwa di antara mereka ada kenangan yang tak bisa dihapus begitu saja. Namun, dalam hatinya, ia juga tahu bahwa ia telah berkorban banyak untuk bisa berada di sisi Gio, menerima semua luka yang tercipta karena masa lalu mereka.
"Tau gini, seharusnya dari awal pernikahannya ngga usah di terusin" ucap Valeska. "Haha, anjir lah. Gue kira selama ini cinta ka Gio udah sepenuhnya ke gue, ternyata masih sebagian menyimpan buat ka Rahel" ucap Valeska getir.
Gio menarik napas panjang, kesadarannya menyentuh kenyataan yang tak dapat ia pungkiri. Kini, ia hanya bisa menatap Valeska, sadar bahwa kehadirannya adalah nyata, dan di sinilah ia seharusnya berada.
Rahel menunduk, melangkah perlahan ke pintu tanpa banyak kata. Sebelum pergi, ia menoleh sejenak, matanya memandang Gio dengan tatapan terakhir yang penuh penyesalan.
"Maaf, karena udah bikin semuanya keruh. Gio, gue mohon, lupain masalalu, fokus ke Valeska sama anak lo" katanya, "Val, jangan raguin Gio, dia cinta sama lo. Maaf karena gue datang malah bikin kalian berantem" ucapnya lirih sebelum menghilang di balik pintu.
Gio dan Valeska hanya berdiri di sana dalam keheningan, menyadari bahwa lembaran masa lalu itu akhirnya benar-benar tertutup.
Valeska duduk di sofa dengan perasaan campur aduk "Ka Gio selama ini masih cinta sama ka Rahel?" tanya Valeska, tanpa menatap Gio. Gio diam tidak menjawab.
"Kenapa diem?" tanya Valeska, sudut matanya melirik tajam.
"Ngga penting buat di jawab" ucap Gio.
Valeska kembali berdiri, berhadapan langsung dengan wajah Gio "Ngga penting? Kak ini penting buat aku, penting buat rumah tangga kita, aku ngerasa dibohongin loh selama ini, kirain ka Gio udah bener-bener lupain ka Rahel, tapi ternyata masih aja mikirin dia, selama ini kedekatan kita ngga cukup buat lupain ka Rahel?" ucap Valeska marah.
"Aku juga mikir gitu, Val. Aku kira semuanya udah berakhir, tapi saat aku ketemu Rahel, rasa itu ntah kenapa masih ada, aku kangen dia." ucap Gio dalam hati.
"Kita udah mau punya anak, pernikahan kita udah lima tahun, tapi ka Gio masih kaya gini? gila sih, jadi lima tahun aku hidup di atas panggung sandiwaranya ka gio? pinter banget kamu" ucap Valeska, mengusap peluhnya dari kening. Valeska menahan tangisnya sekuat mungkin. Namun pertahanan itu runtuh saat Gio tiba-tiba memeluk tubuhnya.
"Aku cinta kamu, aku sayang kamu, aku cinta anak kita Val, Rahel hanya masa lalu, kamu itu sekarang punya aku, tanggung jawab aku, kita bakalan terus bareng sampai seterusnya, semua yang kamu ucapin itu benar, aku masih sering mikirin rahel, aku masih suka Rahel, tapi cinta dan sayang aku sekarang lebih besar ke kamu Valeska. So please, beri aku waktu buat lupain semua memori masalalu aku, termasuk lupain rahel" ucap Gio berbicara dengan begitu dalam sambil memeluk Valeska, Valeska hanya menangis, tak bisa berkutik.
"Ka Gio jahat" ucap Valeska sangat lirih.
Gio melepas pelukannya "Maaf"
"brengsek" ucap Valeska, tetap dengan suara yang lirih.
"Val, aku harus gimana?" Gio kebingungan, merasa frustasi dengan semuanya.
"tinggalin aku sendiri, jangan dulu pulang ke rumah ini sampai aku hubungin kamu" ucap Valeska, membuat hati gio terpukul.
"Val, ko gitu si?"
"Terus gimana? cerai aja?" ucap Valeska spontan.
"Val, apa-apaan sih, jaga ya omongannya" ucap Gio.
"Yaudah, sana pergi" ucap Valeska.
"Kita ngga akan cerai Valeska, aku ngga mau" ucap Gio, Valeska hanya diam.
***
02/11/24
KAMU SEDANG MEMBACA
GIOVA 2
Teen FictionEND! 08 Desember 2024 Lima tahun setelah menikah, kehidupan Gio dan Valeska dihadapkan pada ujian besar. Valeska, yang hampir menyelesaikan kuliahnya, terpaksa harus mengambil cuti karena sebuah keadaan darurat yang tak terduga. Meskipun Gio semaki...
