Part 24~

2.3K 181 10
                                        

Pagi itu, Valeska duduk di teras rumah sambil menikmati semangkuk kecil buah segar yang telah disiapkan Gio. Angin pagi yang sejuk menyentuh lembut wajahnya, memberikan ketenangan di tengah perutnya yang sesekali terasa berat.

"Kaka Suami, buahnya pasti di kasih racun ya?" katanya, menatap Gio yang tengah menyiram tanaman di halaman.

Gio menoleh, alisnya mengerut, menandakan kebingungan dengan pertanyaan yang istrinya berikan. "Enak aja. Aku ngupas dengan sangat hati-hati tau, ngupasnya juga pake rasa cinta dan kasih sayang, biar rasanya enak." ucapnya.

Valeska tertawa, menggenggam tangannya yang terulur. "Geli banget dengernya" ucapnya sambil mencubit kecil lengan Gio.

***

Siang itu, Gio tampak sibuk di kamar bayi bersama dengan beberapa orang. Valeska hanya bisa mendengar suara berisik dari balkon kamarnya. Dengan rasa penasaran, ia berusaha berjalan pelan-pelan menuju kamar tersebut yang memang harus melewati ruang santai, tetapi langkahnya dihentikan oleh Bi Sari.

"Non, jangan kesana dulu. Katanya Den Gio lagi bikin kejutan," kata Bi Sari, tersenyum penuh rahasia.

Valeska mengernyit, tapi kemudian menurut. "kejutan apa bi?" gumamnya sambil kembali ke kamar.

"Ada deh, nanti juga non tau. Mending non di kamar aja deh, sampai Den Gio manggil kesini" ucap Bi Sari. Valeska pun menurut, perempuan itu kembali memasuki kamarnya dengan perasaan tidak sabar, "apa yang ka gio siapin?" gumamnya.

***

Beberapa jam kemudian, Gio masuk ke kamar dengan senyum lebar. "Sayang, aku mau tunjukin sesuatu ke kamu. Ayo ikut aku," ajaknya sambil menggenggam tangan Valeska.

Meski penasaran, Valeska tetap mengikuti Gio dengan langkah hati-hati. Sesampainya di ruang tengah, ia dibuat tertegun. Sebuah kamar bayi yang sebelumnya hanya ada dalam bayangannya kini telah berdiri sempurna. Dindingnya dihiasi dengan warna pastel biru lembut, lengkap dengan mural awan kecil yang tampak seperti mengapung. Di sudut kamar, sebuah boks bayi putih dengan kelambu transparan berdiri anggun, dikelilingi oleh mainan gantung berbentuk bintang.

Valeska membekap mulutnya, tak habis fikir dengan ide suaminya yang tidak pernah habis untuk membuat istrinya selalu tersenyum, "Ka Gio, ini kamu dari kapan nyiapinnya, ngga mungkin cuma sehari kan?" ucap Valeska.

Gio tersenyum lembut, merangkul pundaknya. "Aku siapin ini dari beberapa hari yang lalu, sayang, aku nggak mau kamu khawatir atau merasa repot. Jadi aku atur ini diam-diam. Kamu suka, kan?" tanyanya penuh harap.

Valeska mengangguk cepat, lalu memeluk Gio dengan perasaan haru. "Suka banget lah ka... Makasih, Kaka ganteng."

"Ngga kaka suami?" ledek Gio, karena biasanya Valeska menggunakan sebutan itu untuk memanggil suaminya.

"Libur dulu" jawabnya.

Gio terkekeh, pria itu membalas pelukan istrinya dengan erat. "Aku cuma mau kamu sama anak kita selalu merasa dicintai. Apa pun yang bisa aku lakuin, aku pasti lakuin," bisiknya lembut di telinga Valeska.

***

Sore harinya, Gio tampak serius menatap layar laptop di ruang kerjanya, sementara Valeska duduk santai di sofa kecil di sudut ruangan. Tangannya sibuk memutar-mutarkan buku catatan kecil, sementara tatapannya tertuju pada Gio yang terlihat sibuk.

GIOVA 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang