33

53 4 7
                                        

Giselle kini sudah siap dengan seragamnya. Dia berjalan menuruni tangga menuju ruang makan. Dimana mami, papi, Aeri dan juga Clara sudah duduk menunggunya untuk sarapan bersama. Aeri dan Clara hanya memakai kaos rumahan, karena mereka berdua untuk sementara nggak sekolah dulu. Mereka akan sekolah lagi nanti, jika papi Ken sudah selesai mengurus kepindahan sekolah mereka.

Giselle duduk di kursinya. Sarapan bersama pun dimulai.

"Yuhuu!!! Haechan dateng nih!!" Haechan yang baru saja datang, berteriak mengagetkan penghuni rumah.

"Astaga Haechan. Nggak usah teriak-teriak gitu dong." Kesal mami Yuma.

Haechan menyengir, "Hehee, maaf tante. Selle! Ayo berangkat." Ajak Haechan.

"Lo nggak liat nih gue lagi makan? Tungguin gue selesai makan dulu napa." Ucap Giselle yang masih mengunyah makanan.

"Telen dulu Giselle." Tegur mami Yuma.

Giselle menelan makanannya, "Iya, maaf mi."

"Kamu udah sarapan belum? Kalo belum, ayo gabung sarapan bareng. Nanti berangkatnya biar om yang nganterin kalian berdua ke sekolah, sekalian om juga mau ke sekolah kalian buat ngurusin kepindahan Aeri sama Clara." Ucap papi Ken.

"Wihh, boleh boleh. Lumayan, Haechan hemat bensin." Cengir Haechan. "Tapi sayangnya Haechan udah sarapan om. Besok aja ya, om. Nanti Haechan janji bakal ke sini lagi buat numpang makan."

"Yee, dasar!" Heran Giselle, kok bisa betah temenan dengan orang seperti Haechan ini, dari kecil lagi. Mana sekarang, ternyata dia sepupunya juga.

✷⁠‿⁠✷

Kini Haechan dan Giselle sudah ada di dalam mobil bersama papi Ken. Giselle tentu saja duduk di kursi samping kemudi. Sedangkan Haechan duduk di belakang sendiri.

Haechan memajukan kepalanya untuk mendekat diantara Giselle dan papi Ken. "Berarti nama lo bakal berubah dong, Selle? Kan di nama belakang lo ada nama keluarga om Ben." Tanya Haechan.

"Eh, iya juga ya. Tapi kalo nama gue berubah, ijazah gue dari SD gimana? Masa ijazah SMA sama SD SMP beda sih namanya?"

Haechan tertawa, "Berarti lo mulai sekolah lagi dari SD." Makin kencanglah tawaannya Haechan.

"Heh! Masa gitu sih! Papi? Emang bener Giselle harus sekolah dari SD lagi?" Tanya Giselle pada papi Ken yang fokus menyetir.

"Ya nggak lah sayang. Nanti ada beberapa hal yang harus diurus. Tapi kamu tenang aja, ini semua biar jadi urusan papi. Kamu nggak perlu mikirin, kamu tinggal terima beres aja. Oke?" Jelas papi Ken dengan mengusap kepala Giselle lembut.

"Yahh om mah. Harusnya biarin aja Giselle ngulang dari SD aja. Biar jadi murid tertua."

"Diem lo, Chan! Atau nggak, gue suruh papi gue buat turunin lo disini." Ancam Giselle.

"Ampun nyai."

✷⁠‿⁠✷

Mereka bertiga sudah keluar dari mobil.

"Perlu Giselle anterin nggak pi ke ruang kepala sekolahnya?" tanya Giselle.

"Nggak usah. Mendingan kamu sama Haechan langsung masuk ke kelas aja sana."

"Oke. Yuk, Chan." Giselle dan Haechan berjalan bersama menuju kelas mereka.

Sesampainya di kelas, Karina, Renjun, Jeno, dan Jaemin langsung saja berdiri saat melihat Giselle dan Haechan di pintu.

"Giselle!!" Karina langsung saja memeluk erat Giselle. "Selle! Lo kemana aja sih? Gue kangen tau! Gue kira nggak bakalan bisa ketemu sama lo lagi." Ucap Karina dengan rasa senangnya. Sedangkan Giselle hanya tersenyum membalas pelukan dari bestienya ini.

AERISELLETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang