25

56 11 4
                                        

Giselle terbangun dari tidurnya karena merasa haus. Ia duduk di atas kasur. Melihat gelas yang ada di meja nakasnya kosong. Giselle pun memutuskan untuk keluar dari kamar dan pergi ke dapur untuk mengambil minuman.

Giselle meminum segelas air putih yang sudah ia ambil dari kulkas. Lalu ia mengisinya kembali dan membawanya menuju ke kamarnya lagi.

Saat Giselle melewati kamar mama papanya, terdenger suara bising dari kamar mama papanya.

"Ada apa sih? Kok kayak lagi ribut?" Gumam Giselle sambil menempelkan telinganya ke dekat pintu kamar mama papanya.

"Gimana kalo itu beneran kembarannya Giselle? Kamu udah bunuh kembarannya Giselle belum sih?!"

"Udah. Aku yakin, itu bukan kembaran Giselle. Itu pasti cuma kebetulan aja mirip sama Giselle."

"Kamu beneran udah bunuh kan? Kalo dipikir-pikir, waktu itu kamu nggak izinin aku buat ngeliat secara langsung bunuh bayi itu."

"Beneran sayang. Kamu percaya deh sama aku ya. Aku beneran udah bunuh bayi itu. Kan itu perintah kamu sendiri, aku mana berani sih nolak perintah kamu."

"Tapi aku masih ragu sama kamu. Kamu ada bukti nggak kalo bayi itu udah kamu bunuh?"

"Bukti apa? Udah belasan tahun aku bunuhnya. Mana mungkin aku masih punya buktinya. Lagi pula, bukannya kamu sendiri yang minta buat hilangin semua bukti, supaya kita nggak ketauan udah nyulik bayi kembarnya musuh kamu. Udah bunuh salah satunya, karena kamu kepengin ngerawat salah satunya karena kita nggak bisa punya anak?"

"Benar juga. Tapi mungkin kamu punya foto mayatnya bayi itu?"

"Nggak ada sayang. Aku nggak sempat foto mayat bayi itu. Karena kamu inget nggak? Waktu tiba-tiba ada anjing dateng. Terus aku ngajak kamu yang lagi gendong Giselle lari, karena ada anjing itu. Mungkin aja kan, mayatnya udah dimakan habis sama anjing liar itu?"

"Aku harap bayi itu benar-benar sudah dimakan sama anjing liar itu."

"Iya sayang. Aku juga mengharapkan hal yang sama."

Giselle mematung saat mendengar percakapan mama dan papanya. Ia membungkam mulutnya tak percaya.

Tidak mau berlama-lama berdiam diri di depan pintu kamar mama papanya, Giselle berlari pelan menuju kamarnya sendiri dengan seberusaha mungkin tidak mengeluarkan suara.

Giselle menutup pintu kamarnya pelan. Ia memegang dadanya sendiri berusaha untuk menenangkan diri sendiri.

"Jadi... kemungkinan Aeri itu.. beneran kembaran gue."

Tubuh Giselle merosot ke bawah, dia bersandar dengan pintu kamarnya.

"Jadi gue bukan anak kandungnya mereka? Gue.. dan Aeri.. di culik?"

"Terus siapa orangtua kandung gue yang sebenernya?"

Kini otak Giselle dipenuhi banyak pertanyaan.

✷⁠‿⁠✷

Giselle sudah siap dengan seragam sekolahnya. Dia sekarang akan berangkat ke sekolah, walaupun dirinya masih merasa kantuk. Karena sejujurnya saja, semalam Giselle tidak bisa tidur lagi saat mengetahui satu fakta mengejutkan.

Giselle menuruni tangga. Di ruang makan, sudah ada mama dan papanya yang menunggu kedatangan Giselle untuk sarapan bersama.

"Giselle sayang, ayo sarapan dulu." Ucap mamanya dengan senyuman. Jika Giselle belum mengetahui bahwa ia bukan anak kandungnya, pasti Giselle akan langsung berlari memeluk mama dan papanya. Tapi sekarang tidak lagi. Giselle merasa kesal, karena mama papanya yang ia anggap baik itu nyatanya berniat membunuh saudara kembarnya.

"Giselle langsung berangkat aja deh. Giselle ada piket pagi."

"Yaudah ayo, papa anterin kamu ke sekolah." Ucap papanya yang sudah berdiri dan memegang sebuah kunci mobil.

"Nggak usah, pa. Giselle mau berangkat bareng Haechan." Cegah Giselle.

"Oh. Yaudah, hati-hati ya."

"Iya."

Giselle bergegas berlari keluar Rumah. Dia berjalan kaki menjauh dari rumah. Ya, Giselle memang bohong sih kalau mau berangkat bareng Haechan. Giselle hanya beralasan, agak ia tidak diantar dengan papanya.

Suara klakson berbunyi, yang mengejutkan Giselle yang sedang berjalan sambil melamun. Dia menatap si pelaku yang berhasil mengejutkannya.

"Lo ngagetin gue tau nggak!" Kesal Giselle.

"Sorry. Lo kenapa jalan kaki? Mana sambil ngelamun lagi. Kalo misal lo ketabrak gimana?"

"Ya gue mati lah."

"Enteng banget lo kalo ngomong. Sini naik ke motor gue, kita berangkat bareng."

Dengan senang hati, Giselle menerima tawaran itu. Ia membonceng Jaemin untuk berangkat ke sekolah bersama. Jaemin pun melajukan motornya.

✷⁠‿⁠✷

Giselle dan Jaemin sudah berada di depan kelas. Sepanjang berjalan dari tempat parkir ke kelasnya ini, Jaemin memandang Giselle bingung. Karena Giselle terus-terusan melamun. Bahkan Giselle sering sekali bertabrakan dengan siswa lain saat berjalan.

"Lo kenapa sih? Ada masalah? Cerita dong sama gue. Nggak baik dipendem gitu." Ucap Jaemin pada akhirnya.

"Gue nggak apa-apa."

"Boong banget. Lo kalo nggak mau cerita sama gue nggak apa-apa. Tapi lo harus cerita sama Karina, atau Haechan juga boleh. Asal jangan lo curhat sama Jeno."

"Kenapa?" Tanya Giselle menatap Jaemin bingung.

"Jeno nggak cocok buat dijadiin tempat cerita." Jawab Jaemin ketus.

"Oh." Giselle kembali melanjutkan memikirkan kejadian semalam. Dia sekarang bingung harus bagaimana. Apakah dia harus kabur dari rumah? Tapi kalo kabur, dia harus pergi ke mana?

Kalo ke rumah Karina, pasti mama papanya bakal tau dan datang ke rumah Karina buat menyusulnya. Kalo ke rumah Haechan? Pasti nanti orangtua Haechan akan melapor ke mama papanya.

Kalo kabur ke rumah Jaemin? Jaemin kan udah bukan siapa-siapanya lagi, sudah tidak ada hubungan spesial lagi. Dan kalo dirinya ada di rumah Jaemin, akan jadi omongan tetangga yang ada. Mana di rumah Jaemin cuma ada Jaemin lagi, karena orangtuanya lagi di luar kota.

Kalo Giselle menginap di hotel? Yang ada dirinya akan mudah dilacak, karena membayarnya harus memakai kartu debit. Dirinya tidak membawa uang cash. Giselle mengacak-ngacak rambutnya sendiri.

"Lo tuh gimana sih? Dulu gue acak-acak rambut lo, lo nggak seneng karena katanya rambut lo jadi berantakan. Terus kenapa sekarang lo ngacak-acak rambut lo sendiri?" Ucap Jaemin dengan menahan tangan Giselle. Lalu kembali merapihkan rambut Giselle.

Giselle menatap Jaemin dengan mata memelas, "Gue tuh lagi pusing."

"Lo sakit? Kalo sakit mah pergi ke UKS aja. Mau gue anterin?" Tawar Jaemin dengan senyuman ramah.

"Nggak usah." Tolak Giselle yang kini sudah memasuki kelasnya. Jaemin hanya menggaruk lehernya yang tak gatal. Dia bingung sendiri dengan tingkah mantan terindahnya itu.

AERISELLETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang