Kayesa kembali berbaring usai mendirikan shalat asar. Hidung mampet, pusing, radang tenggorokan, dan rasa hangat di tubuhnya mencegahnya untuk beraktivitas lebih. Sudah dua hari ini Kayesa lebih banyak menghabiskan waktu dengan berbaring. Demam yang diderita oleh Denan seakan menularinya. Bersyukur Denan telah sembuh hingga keduanya bisa bergantian untuk saling merawat.
"Kay..."
Kayesa membuka mata saat suara bernada rendah berbisik di telinganya.
"Gimana?" tanya Denan seraya mengusap lembut puncak kepala Kayesa.
"Gimana apanya?" Kayesa balik bertanya dengan mata berkaca-kaca. Suara yang terdengar serak dan berat, tidak seperti suara Kayesa yang biasanya.
"Aku panggilin dokter, ya?"
Kayesa menggeleng. Ia tidak perlu dokter. Ia hanya demam, beberapa hari lagi pasti akan sembuh seperti biasa.
"Aku kasian liat kamu," ungkap Denan. Ia mengecup bibir sang istri yang terasa masih sangat hangat. "Demam kamu juga masih belum turun."
"Kay kalau sakit memang begini. Denan ga perlu kasian."
Kayesa kembali memejamkan mata, menikmati usapan lembut Denan di puncak kepalanya.
"Kita belum bisa pulang sekarang. Ga apa-apa, kan?" tanya Denan. Kembali berikan kecupan singkat di wajah Kayesa.
"Ga apa-apa, Denan." Kayesa menjawab pelan, nyaris berbisik.
Sudah beberapa hari ini, Kayesa selalu ikut ketika Denan beraktivitas di restoran. Ia merasa lebih baik begitu. Lagipula, kehadirannya juga tidak begitu menganggu Denan, kecuali dua hari ini, saat ia sedang sakit. Waktu yang seharusnya dipergunakan Denan untuk mengawasi perkembangan pembangunan restoran yang baru justru ia gunakan untuk mengawasi Kayesa yang sakit.
Beberapa menit sekali Denan pasti kembali datang untuk menanyakan keadaannya. Ingin Kayesa protes bahwa kedatangan Denan yang terus-menerus itu mengganggunya, tapi ia lebih memilih diam. Mungkin mulai besok, ia tidak lagi ikut Denan ke restoran. Beristirahat di rumah lebih baik.
"Sebentar lagi ada yang antar sup. Kamu makan, ya. Dicicil aja makannya kalau ga bisa sekalian banyak. Tadi kamu makannya dikit banget, Kay."
Kayesa hanya berdehem. Mulai dari kemaren Denan selalu cerewet dengan pola makannya yang tidak seperti biasanya.
"Kamu lanjut tidur aja. Nanti aku bangunin kalau supnya datang." Denan kembali mengecupnya. Entah sudah kesekian kali.
"Denan jangan cium-cium terus, nanti virus Kay nulaaar." Kayesa memprotes halus.
Kayesa hanya bisa menghela napas sembari terus terpejam. Membiarkan Denan menghujaninya dengan banyak kecupan diselingi usapan lembut pada kepalanya.
"Syafakillah, Sayang..."
...
Kayesa membuka matanya saat mendengar suara pintu diketuk. Mengedarkan tatapannya, Kayesa tidak menemukan wujud Denan melainkan tumpukan berkas dengan komputer yang masih menyala. Dengan tubuh lemas, Kayesa bangkit. Mungkin saja yang datang adalah pegawai restoran yang mengantarkan sup untuknya.
Begitu berhasil membuka pintu dan mengetahui siapa di baliknya, kepala Kayesa langsung berdenyut.
"Hai, Denan ada?" Meskipun sempat ada raut terkejut, suaranya tetap terdengar halus dan lembut.
Kayesa tidak langsung menjawab. Sejenak perhatiannya beralih pada suara pintu toilet yang terbuka. Denan baru saja keluar dari sana.
"Ada. Sebentar, ya..." Kayesa menjawab dengan suara khas seseorang yang terinfeksi flu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Syuamitonirrajim
Romance-Spiritual~Romance- Menikah dengan seseorang yang merupakan sahabat sejak kecil mungkin masih bisa keduanya toleransi, tetapi bagaimana jika menikah dengan seseorang yang merupakan musuh sejak kecil? Kayesa tidak pernah membayangkan hal itu akan ter...
