Chapter 17 - Bertemu Keluarga Hamizan

1.2K 187 9
                                        

Mobil Bara sudah tiba di depan rumah orangtuanya sejak lima menit lalu. Namun baik Bara mau pun Gema masih belum ada yang beranjak keluar. Bara hanya duduk diam dengan punggung menyandar ke belakang, serta wajah yang menoleh ke samping. Dia mengamati Gema yang masih menarik dan menghembuskan napas berulang kali dengan gelagat gugup.

"Dulu kamu nggak pernah begini." ujar Bara. Suaranya terdengar datar dan santai, seolah apa yang sedang Gema alami sama sekali tidak membuatnya merasa prihatin. Ketika Gema menoleh, Bara melanjutkan. "Gugup cuma karena mau ketemu sama orangtua aku."

"Soalnya dulu aku nggak pernah buat anak mereka sampai menderita." Gumam Gema malas.

Benar-benar menyebalkan sekali Bara ini, pikirnya. Padahal dia tahu betapa gugup dan panik Gema sejak mereka berada di rumah tadi, tapi Bara malah mengatakan sesuatu yang membuat Gema ingin sekali memukul kepalanya.

"Pernah."

"Kapan?"

"Setiap kali kamu nggak datang ke rumah, aku menderita."

Gema mengernyit. Benarkah Bara menderita setiap kali dia tidak datang ke rumah ini? Kalau memang benar, bukankah artinya sejak dulu... Bara...

"Soalnya bosan, nggak ada yang bisa aku jailin."

Gema nyaris saja tersenyum haru karena apa yang dia pikirkan, tapi apa yang baru saja Bara katakan membuat ekspresi wajahnya berubah datar.

Tersenyum miring, Bara keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Gema.

Sembari melepaskan seatbelt dari tubuh Gema, dia berujar. "Jangan panik. Nggak ada satu orang pun dari keluarga aku yang bakal berani marah sama kamu." Masih dengan posisi yang sama, Bara menatap Gema. "Aku yang bego sampai kehilangan kamu dua tahun lalu. Bukan kamu yang salah. Jadi, sayang," Bara menyelipkan jemarinya di jemari Gema. "berhenti panik dan ayo turun. Aku kangen Mami."

Meski tampak memutar bola matanya malas, namun sudut bibir Gema berkedut jelas karena menahan senyum. "Jangan sering-sering begini, deh."

"Kenapa?"

"Aku takut diabetes."

Berjalan bersisian bersama Gema dengan jemari saling bertaut, Bara melirik malas lalu berdecih. "Bego."

Wanita memang begini, ya? Pikir Bara. Bara bersikap cuek, dianggap tidak peduli. Sekalinya bersikap manis, Gema malah menjadikannya lelucon. Membuat Bara kesal saja.

Tapi jika Bara pikir-pikir... dia memang cenderung lebih hangat dan romantis terhadap Gema sejak Gema kembali. Kalau dulu, Bara masih diselimuti gengsi. Tapi sekarang dia justru nyaris tidak memiliki kendala apa pun saat ingin mengungkapkan perasaan. Entah lewat ucapan mau pun perbuatan.

Cinta terkadang memang membingungkan, ya, pikir Bara.

Mereka berdua masuk ke dalam rumah sembari bergandengan tangan. Suara orang-orang yang sedang berbincang sayup-sayup mulai terdengar, membuat kaki mereka melangkah ke sana.

Meski Bara sudah meyakinkan Gema beberapa saat lalu, namun Gema tetap saja merasa sangat gugup dan panik ketika mereka semakin mendekat ke sebuah ruangan yang Gema yakini di isi dengan banyak sekali anggota keluarga Hamizan mau pun Barata.

Kini bukan hanya suara saja yang Gema dengar, matanya pun sudah mendapati keberadaan orang-orang yang nyaris memenuhi ruangan itu. Ada yang duduk mengisi seluruh sofa, ada yang berdiri di balik sofa, di sudut ruangan membentuk perkumpulan untuk berbincang.

Unstoppable 3Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang