Hari pernikahan Gana dan Gema semakin dekat. Kali ini mereka sudah berada di fase tak boleh saling bertemu satu sama lain. Awalnya, meski sedikit keberatan, namun Gana menyetujui budaya yang di sebut orang-orang dengan pingit.
Tapi setelah tiga hari tidak saling bertemu, Gema mulai sulit dihubungi. Telepon Gana tidak pernah diangkat, pesan Gana hanya di balas dengan kalimat singkat dan itu pun ketika malam hari. Selebihnya Gema bagai hilang ditelan bumi. Tapi jika yang menelepon Prita atau Arin, Gema selalu mengangkatnya.
Karena semakin kesal, Gana akhirnya keluar rumah secara diam-diam. Mamanya tidak ada di rumah, sedang membahas perihal pernikahan di rumah Gisa. Gana memiliki kesempatan untuk kabur di saat dia di larang keluar dari rumah sampai hari pernikahan tiba.
Sebelumnya, Gana sempat mengirim pesan pada Gema. Gana memberitahu Gema kalau dia akan datang menemui Gema.
Tapi ketika Gana masih berada diperjalanan, ponselnya berdering dan nama Gema muncul di sana hingga Gana mendengus tak percaya sebelum menepikan mobil agar bisa memarahi calon istrinya ini.
"Ke mana aja sih kamu selama ini?" omel Gana dengan suara kesal. "Aku telepon nggak pernah diangkat, pesan aku jarang dibalas. Kita cuma dipingit ya, Gem, bukan lupa ingatan."
[Kamu di mana sekarang?] Bukannya merasa takut, Gema justru terdengar marah.
"Memangnya kenapa?"
[Jawab, nggak?! Di mana?]
"Di jalan, sebentar lagi sampe rumah kamu nih."
[Pulang!]
"Hah?"
[Nggak usah aneh-aneh ya, Gan. Tiga hari lagi kita menikah, bisa-bisanya kamu keluyuran begini!]
"Salah siapa memangnya? Kalau kamu nggak mendadak lupa sama aku, nggak mungkin aku sampai mau susul kamu begini."
[Aku nggak lupa sama kamu.]
"Terus kenapa nggak pernah angkat telepon dari aku?"
[Kan kita lagi dipingit!]
"Dipingit itu cuma nggak boleh ketemu, bukan nggak boleh ngobrol. Astaga... siapa sih sebenarnya yang mencetuskan ide gila tentang pingit di dunia ini. Norak banget." rutuk Gana dengan wajah kesal bukan main.
Alih-alih merasa marah, Gema justru tertawa geli di seberang sana hingga Gana mengernyit tak percaya. "Bisa-bisanya kamu ketawa di saat aku pengin makan orang begini."
[Sejak kapan kamu jadi kanibal.] cibir Gema.
"Nggak usah bercanda, nggak lucu." Dengus Gana. "Pokoknya aku mau ke rumah kamu sekarang!"
[Nggak! Nggak boleh.]
"Apaan sih, Gem."
[Ck! Kamu tuh kalau nurut sekali aja sama orangtua bisa meriang, ya, Gan?]
"Kemarin aku udah nurut, tapi kamu malah cari masalah sama aku."
Lagi-lagi Gema tertawa. [Iya, iya... maaf. Aku nggak bermaksud buat kamu marah, Gan. Aku cuma... hm... lagi sibuk.]
KAMU SEDANG MEMBACA
Unstoppable 3
RomanceSetelah dua tahun hidup tanpa tujuan, pasca perceraian yang telah membuat hidup Bara hancur berantakan, dia kembali bertemu Gema, sang mantan istri yang sempat menghilang. Sejak awal, meski mengabulkan permintaan Gema untuk bercerai, namun Bara tida...
