Chapter 27 - Kabar Pernikahan

833 128 31
                                        

Interogasi yang berjalan selama delapan jam itu sama sekali tidak membuat Bara mendapatkan apa yang dia inginkan. Tidak sekalipun Marco menyebut nama Romeo. Dia mengaku di bawah pengaruh alkohol saat berkendara.

Lalu ketika Bara bertanya mengapa dia tiba-tiba saja menyerahkan diri setelah begitu lama menghilang hingga menjadi DPO, dengan santainya Marco menjawab jika dia hanya ingin menyerahkan diri karena sudah merasa lelah harus selalu bersembunyi.

Omong kosong! Bahkan anak buah Marco masih sering keluar masuk penjara karena mereka masih saja menjual Narkoba di luar sana. Lalu apa tadi katanya? Lelah? Tidak. Bara sama sekali tidak percaya.

Namun untuk menjerat Marco atas semua dugaan di kepalanya pun Bara juga tidak mampu karena dia belum memiliki bukti yang jelas.

Maka kini Bara pulang dengan langkah gontai dan perasaan yang muram.

Setibanya di rumah, Bara menghentikan langkah saat mencium aroma sesuatu. Bibirnya seketika tersenyum , lalu Bara melanjutkan langkah menuju dapur. Senyumnya mengembang semakin sempurna ketika menemukan Gema yang sedang menghidangkan masakan di meja pantry.

Dengan langkah tak sabar, Bara mendekat, kemudian mendekap Gema dan mengecup pipinya lama. Saat merasakan keterkejutan Gema, Bara tertawa pelan. "Kaget, ya?"

Gema menoleh, memandang Bara lekat lalu tersenyum tipis. "Pulang juga akhirnya." Ujarnya yang setelah itu menengadahkan wajah ke atas sambil sedikit berjinjit.

Bara tahu apa yang Gema inginkan. Maka sembari tersenyum, dia merundukkan wajah hingga bibir mereka saling bertemu dan saling mengecup. Sekali, dua kali, tiga kali, hingga Gema tertawa geli karena Bara tak ingin menyudahi.

"Makan dulu," Gema memukul pelan lengan Bara yang melingkari perutnya agar Bara melepaskan pelukan. "aku masak makanan kesukaan kamu." Gema memutari meja pantry. "Aku juga buat milkshake." Katanya sembari memperlihatkan dua gelas milkshake di tangan.

Lagi-lagi Bara tersenyum. Rasanya seluruh lelah yang sejak tadi bertumpu di benaknya menghilang begitu saja saat dia bisa menemukan Gema di sisinya.

Jika Bara pikir-pikir lagi, sejak dulu sampai detik ini, memang hanya Gema yang bisa menjadi alasan Bara untuk tersenyum atau tertawa lepas. Hanya ketika bersama Gema lah Bara bisa menjadi dirinya sendiri dan tidak mudah merasa takut. Gema itu seperti kekuatan, bahkan nyawa bagi hidup Bara yang hampa.

Memikirkan semua hal itu, kaki Bara melangkah mendekati Gema. Tangannya merangkum wajah Gema, wajahnya bergerak miring agar bibirnya bisa memagut Gema dengan penuh kelembutan.

Gema yang masih berdiri sambil memegang dua gelas di tangan, mengerjap terkejut atas perlakuan Bara yang begitu tiba-tiba. Saat Bara menyudahi pagutan itu, dia memandangi Gema lekat dengan sorot mata yang lembut. "Entah apa jadinya aku tanpa kamu, Gema." bisik Bara.

Sendu merambat di sorot mata Gema. Membawa setitik kesedihan yang berubah menjadi pilu dalam hitungan detik saat Gema tahu apa yang akan terjadi setelah ini.

Memaksakan senyuman, Gema mengecup pipi Bara sebagai balasan. "Kamu akan selalu baik-baik aja. Selamanya akan baik-baik aja." Bisik Gema lembut.

Lalu demi menghalau air mata yang nyaris tumpah, Gema kembali beranjak, duduk di stool, menepuk stool di sampingnya sebagai isyarat agar Bara menghampirinya.

Seperti biasa, Gema menyiapkan seluruh keperluan makan Bara.

Mereka berbincang ringan selagi menikmati makan malam itu. Tak ada satu pun dari mereka yang mau membahas perihal Gana dan keluarganya. Karena Bara sedang tak ingin membuat Gema khawatir, dan Gema... sedang berusaha mengulur waktu meskipun dia tahu itu percuma.

Unstoppable 3Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang