"Doain, ya, Ma." Sambil memijat kaki Prita yang berada di atas pangkuan, Gana berujar.
Tadi, ketika menemukan Prita duduk sendirian sambil termenung, Gana memutuskan menemani Mamanya. Dia bahkan menawarkan diri untuk memijat kedua kaki Mamanya. Maka di atas sofa itu, mereka duduk berdua dengan Gana yang memijat kaki Mamanya.
"Doain apa?" Prita melirik.
Tersenyum tipis, Gana berkata. "Aku lagi melamar kerja di kantornya Om Abi. Makanya minta doa Mama, biar aku di terima."
Prita tertawa pelan sembari menggelengkan kepala. "Ada-ada aja kamu. Kan memang Om Abi sendiri yang menawarkan pekerjaan. Udah pasti di terima lah."
"Belum tentu juga, Ma. Buktinya, aku tetap harus kasih surat lamaran kerja dan ikut interview. Mana yang interview Om Raja lagi, kalau dia dendam sama aku gara-gara aku batal jadi menantunya, terus sengaja buat aku nggak diterima gimana?" bibir Gana mengerucut kekanakan. Namun tawa Prita yang terdengar membuat hanya merasa lega. Semakin hari, keadaan Mamanya memang semakin membaik meski masih sering kali melamun memikirkan suaminya.
"Beneran Om Raja yang interview?"
"Iya, Ma. Surat lamaran kerjanya aja dikasih ke Om Raja kok. Besok aku interview."
Lagi-lagi Prita tertawa. "Malang banget nasib kamu, Gan. Kayanya kamu harus mulai cari tempat kerja lain, deh."
"Ck, Mama sih gitu... bukannya semangatin anaknya, malah diledekin." Rajuk Gana.
Prita tersenyum geli. "Bercanda... udah kamu tenang aja, semua itu cuma formalitas dan kamu pasti diterima."
"Mama tahu dari mana?"
"Tahu dong. Perusahaan itu kan punya Om Abi, Abang Iparnya Papa kamu. Mana mungkin Om Raja berani macam-macam."
"Eh, iya juga, ya, Ma..." Gana terkekeh geli. "Jadi gini rasanya, kerja pakai orang dalam."
Selagi Gana tertawa, Prita menatapnya lekat. Tawa Gana persis sekali seperti tawa Arjuna, membuat sorot matanya berubah sendu karena menahan rindu. "Kalau aja Papa kamu masih ada, kamu pasti nggak harus cari kerja begini, Gan." Prita menggumam sedih.
Dia tahu mengapa Gana sangat bersemangat saat Abi menawari pekerjaan. Gana yang sejak dulu tidak pernah tertarik dengan pekerjaan semacam itu, kini mengangguk setuju tanpa bantahan. Semua itu dia lakukan demi keluarganya.
"Nggak lah, Ma. Papa justru bangga sama aku," Gana tersenyum lembut, meski sedang berusaha menyembunyikan kesedihan. "Karena akhirnya aku bisa melakukan apa yang Papa lakukan selama ini untuk keluarga kita."
Arjuna sudah tiada. Meski dia pergi meninggalkan banyak aset berharga yang bisa mereka gunakan untuk menyambung hidup, namun Gana tak ingin bertampung tangan begitu saja.
"Mama jangan khawatir. Mulai sekarang, aku yang akan berjuang untuk Mama sama Arin. Nggak usah mikir macem-macem, aku bisa kok. Kan selama ini Papa selalu kasih contoh yang baik sama aku. Begini-begini aku anaknya Papa loh, darah Arjuna Keanu itu ada di tubuhku, Ma." Gana tertawa, suaranya sedikit serak.
Prita tersenyum, meski matanya membendung embun tebal. Tak pernah sekali pun Prita membayangkan hari ini akan terjadi.
Hari di mana dia melihat perubahan begitu besar dari putranya, yang mau mengalah demi keluarga, yang mementingkan kepentingan keluarga dibanding kepentingannya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unstoppable 3
Storie d'amoreSetelah dua tahun hidup tanpa tujuan, pasca perceraian yang telah membuat hidup Bara hancur berantakan, dia kembali bertemu Gema, sang mantan istri yang sempat menghilang. Sejak awal, meski mengabulkan permintaan Gema untuk bercerai, namun Bara tida...
