Melangkah gontai dengan perasaan hampa, Gema kembali ke dalam kamar. Tapi begitu sampai di sana, Gema termangu menatap Gana yang sedang duduk di tepi ranjang, menatapnya lekat tanpa ekspresi.
"Dari mana?" tanya Gana.
Gema hanya diam. Dia tidak sedang berusaha mencari alasan, otaknya seakan lumpuh, tidak bisa memikirkan apa pun. Bahkan untuk beranjak dari sana pun, Gema tidak mampu. Lagi pula, wajah sembab dan sisa air matanya tidak mungkin bisa mengelabuhi Gana. Mereka sudah lama saling mengenal, bukan satu atau dua tahun. Mudah sekali bagi Gana untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi pada Gema saat ini.
"Ketemu Bara?" tanya Gana lagi.
Gema tetap diam.
Gana menghela napas berat, kemudian menghampiri. Ketika berdiri tepat di hadapan Gema, lelaki ini berkata. "Kalau menikah dengan aku rasanya lebih menderita dibanding penderitaan yang pernah Bara lakukan di hidup kamu, harusnya kamu tahu kalau apa yang kita lakukan saat ini nggak akan pernah berhasil, Gem."
Air mata bergumul di kedua mata Gema.
"Tadinya aku pikir... nggak ada salahnya kali ini aku bersikap egois dan mempertahankan kamu di sisiku. Aku pikir... kita bisa meneruskan kebahagiaan yang pernah kita lalui bersama. Kamu menyayangi aku, menyayangi keluargaku, dan aku juga menyayangi kamu. Dan yang paling penting, kita nggak saling mencintai. Jadi aku pikir, kita nggak akan pernah saling menyakiti. Karena yang aku tahu, ketika aku mencintai dan di cintai seseorang, aku hanya bisa menyakiti perasaannya, lalu menganggap kalau aku adalah korbannya.
"Padahal pelakunya adalah aku. Aku yang nggak bisa menerima keadaan, aku yang sulit percaya pada diriku sendiri, aku yang selalu merasa gagal dan nggak berguna. Bukan orang lain, bukan siapa-siapa. Tapi setiap kali tersiksa oleh semua kenyataan itu, aku... selalu saja mencari orang lain untuk dipersalahkan. Mungkin, alasan ini juga yang aku punya saat melamar kamu, Gem. Bukan demi Mama, bukan demi keluargaku, tapi... karena aku butuh sosok baru untuk menerima pelampiasanku."
Gana tersenyum patah. "Selama ini aku berusaha untuk selamanya buta. Aku mengabaikan apa yang kamu rasakan, mengabaikan apa yang aku lihat, mengabaikan segalanya agar semua rencana pernikahan ini berjalan lancar. Tapi malam ini aku sangat gelisah, aku ketakutan. Aku merasa... semua ini salah, Gem. Lalu aku berpikir, jika suatu hari nanti aku menyakiti kamu, jika aku... melakukan hal yang sama pada kamu seperti apa yang kulakukan pada Nadi, bukankah aku akan kehilangan segalanya?
"Aku sudah kehilangan wanita yang aku cinta, aku kehilangan satu sahabat," sorot mata Gana berubah sedih. "apa nanti aku juga akan kehilangan satu-satunya sahabatku yang tersisa? Kalau aku menyakiti kamu, lalu kamu pergi, bagaimana denganku selanjutnya?"
Gema terisak pelan. "Gan..."
"Kamu nggak bahagia sama aku. Iya, kan?" Gana mencoba tersenyum miring, meski senyuman itu tampak begitu menyedihkan. "Cukup aku aja yang bego, Gem, kamu jangan."
Gema memeluk Gana erat, tangisnya pecah habis-habisan di sana. "Masih belum terlambat untuk memperbaiki semua kesalahan ini." bisik Gana sembari membalas pelukan Gema. "Kemarin aku membiarkan diriku tersesat saat membayangkan bisa hidup bahagia bersama kamu. Tapi hari ini aku sudah menemukan jalan keluarnya. Aku tahu apa yang harus kita lakukan." Gana melerai pelukan mereka. Dia usap air mata Gema dengan lembut, selembut sorot matanya. "Ayo, aku antar menemui Bara."
"Tapi, Gan, kamu—"
"Seumur hidup, rasanya aku belum pernah melakukan satu hal yang benar. Aku gagal menjadi anak Papa dan Mama, aku gagal berdiri di atas karir yang aku agung-agungkan. Aku gagal mempertahankan perempuan yang aku cinta. Tapi hari ini, aku nggak mau melakukan kegagalan lainnya, Gem. Hari ini, aku ingin melakukan sesuatu yang benar, aku ingin... menjadi sahabat yang baik untuk Bara dan juga kamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Unstoppable 3
RomantikSetelah dua tahun hidup tanpa tujuan, pasca perceraian yang telah membuat hidup Bara hancur berantakan, dia kembali bertemu Gema, sang mantan istri yang sempat menghilang. Sejak awal, meski mengabulkan permintaan Gema untuk bercerai, namun Bara tida...
