Epilog

2.3K 180 25
                                        

Bara menyerahkan struk belanja beserta kembalian pada seorang pelanggan. "Totalnya dua ratus empat puluh ribu. Ini kembaliannya, silahkan datang lagi lain waktu. Terima kasih." Ucapnya. Jangan bayangkan Bara mengucapkan kalimat itu dengan senyum manis dan ekspresi ramah. Jangan. Karena ekspresi wajahnya masih saja datar dan tak ada senyuman di bibirnya. Bara bahkan kembali duduk dan lanjut membaca komik di balik meja kasir. Mengabaikan tatapan dan bisikan gadis-gadis SMA yang sangat memuja ketampanan si penjaga kasir sekaligus pemilik kedai es krim itu.

Dua tahun sudah Bara bekerja di kedai es krim miliknya. Dan dua tahun sudah kedai es krim itu menjadi lebih ramai dari biasanya. Hal itu dikarenakan ada sebuah video di sosial media yang memperlihatkan wajah dingin Bara ketika melayani pelanggan. Video itu ditonton oleh jutaan orang. Seluruh komentarnya berisi pujian atas ketampanan Bara yang membuat para remaja mengaguminya.

Alhasil, kedai Bara mendadak ramai. Mulanya Bara merasa risih dan ingin berhenti bekerja, tapi Arka yang sejak awal mengelola bisnis itu dengan tegas melarang Bara. Arka bilang mereka bisa menggunakan Bara untuk mempromosikan kedai es krim itu.

Ketampanan Bara bisa membuat bisnis mereka semakin berkembang pesat. Dan ucapan Arka memang terbukti.

"Permisi..."

Bara menengadah saat mendengar suara seseorang. Lalu dia mendesah malas karena ada pengunjung yang ingin membayar. Dengan raut wajah masam karena lagi-lagi harus meninggalkan komik itu, Bara berdiri untuk melayani pelanggan.

"Mas Bara, ya?" tanya remaja SMA di hadapan Bara itu.

"Hm." Deham Bara singkat.

"Es krimnya enak banget loh, Mas."

"Iya."

"Dengar-dengar Mas Bara sendiri yang buat resepnya."

"Bukan."

Memangnya Bara tidak punya pekerjaan lain sampai membuat resep seperti yang gadis itu katakan? Tapi... Bara memang tidak punya pekerjaan, kan? Menjadi kasir saja pun, Bara masih sering minta digantikan Karyawan lain saat dia ingin main game. Lalu Bara menyerahkan uang kembalian pada gadis itu. "Ini kembalian—"

"Eh, nggak usah, Mas... nggak usah. Uangnya nggak usah dikembalikan." Gadis itu tersenyum malu-malu, tapi telapak tangannya dengan sengaja mendorong tangan Bara hingga bersentuhan. Matanya melirik berkali-kali pada sentuhan itu.

Bara mengernyit risih. Dia jelas tahu maksud dibalik sikap remaja ingusan ini. Tapi belum sempat Bara menarik tangannya, tiba-tiba saja Bara mendengar sebuah teriakan nyaring.

"Papa!!!"

Bara menoleh cepat. Dia melihat seorang anak perempuan berusia empat tahun melompat turun dari gendongan Ibunya lalu berlari ke arahnya. Senyum Bara mengembang sempurna. Dia membungkuk ke bawah, meraih anak perempuan itu lalu menggendongnya. Bara bahkan mencium pipinya gemas. Membuat remaja-remaja di sekelilingnya terkesiap lalu berbisik riuh. Bahkan remaja yang masih berdiri di depan meja kasir pun sampai berdiri kaku dengan ekspresi tertegun.

"Udah punya anak ternyata."

"Anak kandung? Adopsi kali."

"Tapi Mas Bara masih kelihatan kaya mahasiswa nggak sih?"

"Gue nggak pernah nemu Instagramnya. Jadi susah mau cari tahu."

Bara mendengarkan semua bisikan-bisikan itu, namun dia tidak peduli. "Lama banget datangnya? Papa tungguin Zie dari tadi." Ucap Bara lembut.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 12, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Unstoppable 3Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang