Gana Ervin Keanu. Nama itu telah tersemat di atas batu nisan yang dingin. Siapa pun yang hadir di pemakaman, tak pernah menyangka akan berada di sana untuk mengantarkan Gana ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Masih begitu muda, terlalu tiba-tiba dan membuat semua orang belum bisa beranjak dari rasa terkejut dan kehilangan. Bahkan untuk merasa ikhlas pun, tak ada satu orang pun yang mampu. Isak tangis di sekeliling makam masih terdengar. Prita tak mampu berdiri, hanya mampu terduduk lemah sembari memeluk batu nisan putranya. Matanya yang bengkak dan menyimpan sorot hampa tak lagi mampu menumpahkan air mata. Prita hanya menatap lurus ke depan dengan lengan yang mendekap erat batu nisan itu, seolah sedang mendekap putranya.
Di sampingnya ada Arina yang memeluk, mencoba menenangkan meski dia sendiri pun tidak bisa berhenti menangis. Di sisi mereka, ada Ashila yang menemani, tak ingin membiarkan kedua perempuan itu sendirian.
Gisa yang selama ini selalu terlihat tegar, bahkan ketika adiknya mati pun, dia masih mampu untuk bersikap tegar, maka kali ini... Gisa benar-benar tak berdaya. Sejak di rumah duka hingga di pemakaman, Gisa kerap kali meraung pilu. Dia terduduk lesu di samping makam, meremas tanah yang telah menimbun tubuh keponakannya. Alma dan Abi selalu setia menemani.
Aksa berdiri seorang diri, menatap sedih pada makam Gana dengan matanya yang basah. Sesekali dia mengusap matanya, menatap sekitar dengan perasaan hancur. Aksa hanya datang seorang diri, karena Papa dan Bundanya masih harus menemani Nadi. Pasca kematian Gana, Nadi sangat terguncang. Dia kerap kali histeris kemudian kehilangan kesadaran. Itu mengapa orangtuanya memutuskan agar Nadi tidak hadir di pemakaman.
Sementara itu... Gema berdiri di samping makam, sendirian, tanpa ada yang menemani. Matanya yang bengkak dan sayu tak bisa beranjak dari batu nisan itu. Hatinya masih begitu pilu, masih tak sanggup menerima kenyataan ini.
Berkali-kali pun Gema berusaha menerima, namun berkali-kali pula dia gagal melakukannya.
Bagaimana bisa...
Tadi malam Gana masih bersamanya, memeluknya, dan tertawa bersamanya.
"Setelah ini, aku nggak akan melakukan kesalahan lagi. Nggak ada kesalahan, nggak ada kegagalan, nggak ada rasa bersalah."
Gema teringat kalimat yang Gana sampaikan padanya tadi malam. Gema masih ingat bagaimana senyuman lebar Gana kala dia mengatakan kalimat yang jika Gema pikirkan saat ini, terdengar seperti sebuah pesan terakhir darinya.
Benar, Gana tidak akan melakukan kesalahan lagi, dia tidak akan melakukan kegagalan lagi. Dan Gana... tidak lagi harus merasa bersalah pada siapa pun.
"Aku akan hidup dengan perasaan bahagia dan juga lega, karena aku... akhirnya berhasil mengantar dua sahabatku untuk kembali bersama."
Bibir Gema melengkung sedih. Teringat akan apa yang Gana ucapkan dan juga rekaman kejadian tadi malam yang sempat seluruh keluarga saksikan. Sambil menggendong Bara dan berusaha menyelamatkannya, Gana menyatakan kalimat itu. Dia meminta agar Bara bertahan untuk Gema. Dia menyebut-nyebut tentang pernikahan mereka.
Gan... Gema berbisik lirih di dalam hati. Air matanya lagi-lagi meluruh.
Sahabatnya telah tiada, saudara laki-lakinya telah pergi, kini Gema benar-benar hanya seorang diri. Tidak ada lagi Gana yang menyebalkan, tidak ada lagi Gana yang sering membuatnya kesal, tidak ada lagi Gana yang senang bermanja padanya. Tidak akan ada lagi Gana... di mana pun.
Gema mulai terisak-isak, dia berusaha meredam tangis dengan punggung tangan. Bahunya berguncang hebat. Gema belum siap... dia tidak bisa membayangkan seperti apa hidupnya tanpa Gana. "Gan..." bisiknya dengan perasaan pilu. Namun sayang, setiap kali Gema memanggil, Gana... tidak akan pernah lagi menyahut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unstoppable 3
RomansaSetelah dua tahun hidup tanpa tujuan, pasca perceraian yang telah membuat hidup Bara hancur berantakan, dia kembali bertemu Gema, sang mantan istri yang sempat menghilang. Sejak awal, meski mengabulkan permintaan Gema untuk bercerai, namun Bara tida...
