Chapter 34 - Gema

1.4K 199 21
                                        

Berjalan-jalan di sekitar sawah, memandangi rumput dan tanaman-tanaman hijau yang menyejukkan mata adalah kegiatan yang rutin Gema lakukan setiap hari selama dua tahun ini.

                Semilir angin segar, langit biru yang di hiasi awan, para petani yang sibuk bekerja, cicit burung yang beterbangan, semua hal itu membuat Gema merasa tentram.

                Terkadang Gema akan duduk di salah satu pondok milik petani. Mengamati sekeliling dalam diam sambil berpangku tangan, membiarkan angannya berkelana mencari kenangan indah yang masih sudi berpendar dalam ingatan.

                Ketika senja hendak menyapa, baru lah Gema beranjak dari sana. Melangkah menyusuri jalan setapak yang membawanya pulang ke rumah. Sepanjang jalan, Gema membalas sapaan orang-orang dengan anggukan kepala dan senyum seadanya.

                Seluruh penghuni desa jelas mengenalnya meski Gema sempat pergi meninggalkan desa itu.

                Bahkan ketika Gema kembali dengan membawa kabar duka, nyaris seisi desa datang ke rumahnya, memeluk layaknya keluarga, mengucapkan banyak sekali doa dan nasihat yang membuat Gema merasakan kehangatan keluarga.

                Ya. Pada akhirnya... Gema kembali pulang ke desa. Tempat yang telah dia anggap sebagai rumah. Tempat persinggahan terakhir Gema untuk melalui kehidupan hampa yang mencekik dirinya.

                Hidup tapi seperti mati. Itu lah yang Gema rasakan selama dua tahun ini. Tak ada kebahagiaan, tak ada tawa, tak ada warna yang mampu membuatnya bersemangat untuk menjalani hari.

                Gema bangun di pagi hari, membersihkan rumah dan memasak, kemudian duduk seorang diri di dalam rumah sambil memeluk dirinya sendiri. Terkadang masakan yang dia masak sama sekali tak tersentuh saat Gema benar-benar tidak memiliki selera untuk makan. Dan ketika sore menjelang, Gema akan pergi menyusuri jalanan desa, berdiam diri di sawah. Tempat di mana dulu dia dan Gana sering menghabiskan waktu sembari membicarakan apa pun.

                Tempat di mana dulu mereka sering tertawa. Bahkan jalanan setapak yang saat ini Gema lalui adalah saksi bisu canda tawa mereka berdua saat sedang berjalan santai menuju rumah.

                Setiap langkah, setiap tempat, setiap pepohonan yang Gema lalui, semuanya memiliki kenangan tersendiri yang membuat hati Gema hancur berkeping-keping kala mengingat kenangan itu.

                Sayang, air mata Gema sudah kering. Air mata itu... sudah lama sekali tak pernah bisa meluruh. Sejak Gema menginjakkan kakinya kembali ke tempat itu, sejak Gema membuka pintu rumah dan menemukan bayang Gana sedang tersenyum padanya kemudian hilang, Gema merasa... dia tak akan pernah bisa lagi merasa bahagia.

                Seperti saat ini, ketika dia tiba di rumah dan membuka pintu, hanya ada hampa dan kesunyian yang menyapa.

                "Istriku, baru pulang, ya?"

                Selalu begini. Meski dua tahun sudah berlalu, namun setiap kali Gema membuka pintu rumah saat pulang dari mana pun, dia seolah menemukan Gana dan mendengar suaranya. Bahkan Gema masih bisa membayangkan Gana sedang menyengir jail padanya meski bayangan itu hanya sekejap, kemudian hilang dan menyisakan perasaan sedih yang tak pernah bisa mereda.

                Gema menghela napas lirih. Saat hendak menutup pintu, dia mendengar sebuah teriakan yang memanggilnya.

                "Kak Gema!!!"

                Pintu itu Gema buka kembali, dia menoleh ke samping dan menemukan seorang gadis sedang setengah berlari menuju rumahnya. Gema mengurungkan niat untuk masuk ke dalam rumah. Dia kembali keluar, menyambut kedatangan gadis bernama Yuni. Dia adalah anak salah seorang tetangga yang begitu akrab dengan Gema. Usianya baru tujuh belas tahun, gadis itu sangat baik dan ramah, juga lemah lembut. Sejak dulu, Yuni sering kali datang ke rumah Gema.

Unstoppable 3Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang