Setelah mendapatkan restu oleh semua orang dan tidak ada lagi yang mempermasalahkan keputusan Gana, rencana pernikahan mereka mulai dilaksanakan.
Ketika membahas tentang rencana pernikahan, Gema mengatakan kalau dia hanya ingin pernikahan yang sederhana. Bukan tanpa alasan Gema mengatakan hal itu. Gema bilang, meski pun semua orang sudah memberi restu, namun mereka tetap saja harus menjaga perasaan banyak orang.
Entah itu Bara atau Nadi beserta keluarga besar mereka.
Untungnya Gana dan Prita setuju. Semua orang sudah mau mengalah, sudah mau mengerti, maka sudah sepantasnya mereka pun harus mengalah.
Karena pernikahan itu hanya akan dilaksanakan secara sederhana, maka prosesnya pun tidak membutuhkan waktu lama. Akan tetapi semua proses dan tahap menuju pernikahan itu harus Gema lakukan.
Termasuk acara lamaran yang paling Gema takuti. Karena semua orang pasti akan datang, dan Gema sama sekali belum siap untuk bertemu dengan mereka.
Sayangnya Gema tidak bisa menolak, prosesi lamaran itu tetap harus di langsungkan hari ini.
Meski tidak mengundang banyak orang, hanya keluarga dan kerabat dekat, Gema tetap saja merasa khawatir. Apa lagi seluruh keluarga Hamizan ada di sana, begitu pula keluarga Raja.
Sebut saja Gema pengecut. Namun meski menyadari keberadaan mereka, tidak sekali pun Gema berani memandang. Gema nyaris selalu menundukkan pandangan, wajahnya sering kali terlihat muram. Untuk tersenyum pun dia sulit sekali melakukannya.
Tapi di tengah rasa gelisah itu, Gema bersyukur ada Gana di sisinya. Gana mengerti apa yang Gema rasakan. Setiap kali dia menyadari Gema semakin gelisah, Gana akan mengalihkan perhatian Gema dengan mengajak Gema membicarakan apa pun.
Entah tentang tamu undangan yang datang dan Gana tidak kenal pada orang tersebut, atau membicarakan tentang beberapa hal aneh di sekeliling mereka.
Beberapa usaha Gana terkadang berhasil membuat Gema tersenyum hingga perasaan gelisah Gema bisa sedikit mereda.
Seperti sekarang, Gema sampai mencubit pinggang Gana karena lelaki itu sedang membicarakan seorang tamu yang berpenampilan lucu sambil menahan tawa.
Pasalnya, orang tersebut seperti sadar sedang ditertawakan. Gema takut saja kalau orang tersebut benar-benar sadar lalu marah-marah pada mereka.
"Sakit, Gem!" protes Gana, tapi dia masih saja tertawa geli.
"Makanya berhenti tertawa. Kamu nggak lihat Om itu ngelihatin kita terus?" bisik Gema dengan mata melotot tajam.
Gana mengusap-usap bekas cubitan Gema. "Dia kan nggak tahu kita langi ngomongin siapa."
"Pokoknya diam! Awas aja kalau sampai dia marah-marah di sini."
"Iya... iya." Gana mengatup rapat mulutnya. Tapi saat mata mereka bertemu, mereka justru saling tertawa geli. "Kamu yang suruh aku diam, tapi kamu sendiri yang ketawa."
"Kamu sih..."
Mereka berdua masih saling berbisik dan tertawa geli ketika tiba-tiba saja seseorang menghampiri mereka. Baik Gema mau pun Gana sama-sama kehilangan tawa apa lagi senyuman di bibir mereka.
"Hai," sapa Nadi yang tersenyum tipis pada mereka. Kehadiran Nadi membuat Gana dan Gema menatap tak percaya padanya. Sejak acara di mulai hingga sebentar lagi selesai, mereka tidak menemukan Nadi di mana pun. Tapi kini... Nadi tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unstoppable 3
Storie d'amoreSetelah dua tahun hidup tanpa tujuan, pasca perceraian yang telah membuat hidup Bara hancur berantakan, dia kembali bertemu Gema, sang mantan istri yang sempat menghilang. Sejak awal, meski mengabulkan permintaan Gema untuk bercerai, namun Bara tida...
