Ketika Bara membuka pintu kamar, hela napas beratnya terdengar manakala dia menemukan Gema yang berbaring di sofa. Bara melirik ranjang, tempat itu masih terlihat sangat rapi. Itu artinya Gema tidak mau sedikit pun menyentuh ranjang.
Bara menghampiri Gema, berjongkok di depan wajah Gema, memandang sendu wajah damai Gema yang terlelap. Hatinya mencelos sakit saat menemukan jejak-jejak tangisan di kedua mata Gema. sepertinya, setelah Bara keluar dari kamar itu dan meninggalkan Gema sendirian, mantan istrinya itu kembali menangis, mungkin sampai dia tertidur di sana.
Kini jemari Bara bergerak perlahan, menyentuh kelopak mata Gema dengan sentuhan lembut. Saat Gema menggeliat pelan, Bara cepat-cepat menarik tangannya panik. Dia pikir Gema akan terbangun, tapi ternyata tidak. Gema hanya menggeliat, kemudian mengerucutkan bibirnya ke atas, membuat Bara tersenyum gemas memandangi wajahnya.
Dulu pemandangan itu selalu dia temukan setiap hari, membuat Bara terkadang merasa beruntung jika bangun lebih dulu dari pada Gema.
"Cantik." Gumam Bara pelan. Rasanya dia senang sekali bisa memandangi wajah cantik Gema lagi.
Karena tidak tega membiarkan Gema tidur di atas sofa, Bara menggendong tubuh Gema dan membawanya ke ranjang. Bibirnya tak bisa berhenti tersenyum selagi memandangi wajah Gema yang ada dalam gendongannya.
Bara sedikit membungkuk, membaringkan tubuh Gema perlahan-lahan agar tidak mengganggu tidur nyenyak Gema. Tapi dengan begitu tiba-tiba, kedua mata Gema terbuka hingga mata mereka saling bersitatap.
Mereka berdua mengerjap kaku secara bergantian.
Hingga tiba-tiba Gema mendorong tubuh Bara kuat sampai Bara terdorong ke belakang. Gema beranjak duduk dengan cepat, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. "Kamu ngapain?!" ketus Gema panik.
Satu alis Bara terangkat malas ke atas. Reaksi Gema yang berlebihan membuat Bara seperti baru saja kedapatan sedang melecehkan Gema.
Karena Bara bungkam, Gema mengintip ke balik selimut, seperti sedang memastikan sesuatu. Melihat itu, Bara mendengus kasar sembari menggelengkan kepala. "Aku cuma pindahin kamu dari sofa ke tempat tidur biar badan kamu nggak pegal-pegal. Nggak usah mikir aneh-aneh."
Meski ada perhatian yang tersirat dalam kalimatnya, namun cara Bara menyampaikannya justru membuat Gema menatapnya tak senang.
Bara masih berdiri di samping ranjang, bersedekap membalas tatapan Gema. "Mandi sana." suruh Bara. Caranya bicara pada Gema terdengar sangat santai, seolah-olah tak ada pertengkaran yang terjadi antara mereka berdua tadi malam.
"Aku nggak bawa pakaian." Ketus Gema sambil memalingkan muka.
"Ngapain juga kamu bawa pakaian, di sini masih kurang banyak memangnya?"
Gema mengernyit tidak mengerti. Tapi setelah berpikir cukup lama, dia mulai mencurigai sesuatu. Jangan-jangan...
Belum sempat Gema menelaah kecurigaannya, tiba-tiba saja dia dikejutkan dengan pemandangan di hadapannya yang membuat mata Gema terbelalak tak percaya. "Astaga!" teriak Gema sembari menutup wajahnya dengan telapak tangan.
Bara yang baru saja melepaskan kemeja dari tubuhnya, menoleh ke belakang lalu mengernyit bingung melihat Gema yang sedang menutup wajah dengan tangannya. "Kamu ngapain?"
"Kamu yang ngapain!" balas Gema kesal. "Sembarangan aja buka baju di depan orang."
"Memangnya kenapa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Unstoppable 3
RomansaSetelah dua tahun hidup tanpa tujuan, pasca perceraian yang telah membuat hidup Bara hancur berantakan, dia kembali bertemu Gema, sang mantan istri yang sempat menghilang. Sejak awal, meski mengabulkan permintaan Gema untuk bercerai, namun Bara tida...
