Pagi ini, Bara dan Gema makan dalam keadaan hening. Kalau pun ada suara yang terdengar, hanya denting alat makan yang beradu. Sejak terbangun dalam keadaan berpelukan di atas sofa, baik Bara mau pun Gema saling menjaga jarak dan juga kontak mata.
Mereka bahkan saling memisahkan diri tanpa sepatah kata pun pagi tadi. Rasanya canggung saat mereka mengingat percakapan tadi malam. Percakapan singkat namun penuh makna dan juga menghadirkan kesedihan.
"Makasih sarapan paginya. Aku berangkat kerja dulu." Ujar Bara setelah selesai dengan sarapan paginya. Dia bahkan tidak memandang Gema saat mengatakan kalimat itu, dan berlalu pergi begitu saja di bawah tatapan termangu Gema.
Selepas Bara pergi, Gema melirik gelas susu di samping piring Bara. Masih tersisa setengah. Padahal Bara nyaris tidak pernah menyisakan susu buatan Gema di pagi hari.
Gema menghela napasnya berat. Sisa makanan di piringnya tidak lagi membuatnya berselera. Bara dan penderitaannya selalu membayangi Gema, membuatnya merasa tak tenang.
Apa yang Rina sampaikan padanya kemarin membuat Gema dilanda gelisah. Bahkan tadi malam pun, dia sampai terjaga dari tidurnya karena meski matanya terpejam, Gema tetap saja memikirkan Bara. Anehnya, ketika berada di pelukan Bara, Gema justru terlelap hingga pagi menjelang.
Karena tak lagi berselera untuk makan, Gema menyudahi sarapan paginya. Ketika sedang membereskan meja makan, bel pintu berdering. Gema bergegas membukakan pintu. Namun begitu pintu terbuka dan melihat seseorang di balik pintu itu, Gema menegang kaku. "Ma—Mami..." gumam Gema gugup.
Berbeda dengan Gema yang tampak pucat pasi menemukan keberadaan mantan Mertuanya di sana, Rechelle Kanaya Barata justru tersenyum penuh kelembutan padanya. "Hai, Gema. Apa kabar?" sapa Rere dengan nada ramah. Sejenak, Gema hanya diam dengan mata terperangah. Tubuhnya terasa kaku, mulutnya terkunci rapat. Sama sekali tidak menyangka akan bertemu Rere secepat ini.
"Ba—baik, Mi." jawab Gema terbata-bata.
Gelisah. Itu lah yang Gema rasakan ketika bertemu Rere. Bagaimana pun, Gema pergi meninggalkan Bara dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Bahkan Gema tidak berpamitan lebih dulu pada orangtua Bara. Itu mengapa sekarang dia merasa gelisah sekaligus takut.
Rere masih terlihat sama seperti dulu. Tersenyum lembut, ramah, bahkan menatap Gema penuh kehangatan. "Mami boleh masuk?"
Gema tersentak, lalu bergegas menyingkir dari ambang pintu sembari mengangguk kuat.
Melihat itu, Rere tersenyum kecil. Satu telapak tangannya menyentuh lengan Gema, mengusap lembut dengan maksud menenangkan, seperti mengerti apa yang Gema rasakan saat ini.
"Sebentar ya, Mi, aku buatin minum dulu." Ujar Gema ketika Rere sudah duduk ke atas sofa.
Rere hanya mengangguk, lalu mengamati sekitar rumah saat Gema sudah menghilang menuju dapur. Keadaan rumah masih terlihat sama seperti terakhir kali Rere datang ke sana, tapi Rere bisa merasakan setitik kehangatan yang akhirnya kembali bisa dirasakan di rumah itu setelah sekian lama menghilang.
"Silahkan diminum, Mi." Gema menghidangkan secangkir teh hangat untuk Rere. Lalu sembari memeluk nampan di dadanya, Gema yang masih berdiri tak jauh dari Rere hanya diam memandangi.
"Kamu ngapain berdiri di sana?" tegur Rere. Lalu dia menepuk sisi sofa di sampingnya. "Duduk di sini, Gema." Gema menurut, meski kepalanya merunduk canggung saat dia telah duduk di samping Rere.

KAMU SEDANG MEMBACA
Unstoppable 3
RomanceSetelah dua tahun hidup tanpa tujuan, pasca perceraian yang telah membuat hidup Bara hancur berantakan, dia kembali bertemu Gema, sang mantan istri yang sempat menghilang. Sejak awal, meski mengabulkan permintaan Gema untuk bercerai, namun Bara tida...