Semenjak Nadi dan Bara pulang, hidup Gema yang selama ini hampa dan sunyi, kini semakin berubah kelam. Kebersamaan singkat yang Gema miliki bersama mereka, meski tidak begitu spesial, namun nyatanya teramat Gema rindukan.
Bahkan semenjak mereka pulang, setelah menangis hebat di dalam kamar Gana, Gema tak lagi pernah masuk ke kamar itu. Jangankan masuk, memandang pintunya saja pun perasaan Gema berkecamuk.
Dua tahun sudah Gema berusaha melupakan Bara, melakukan segala cara untuk menghilangkan Bara dari ingatan. Gema sedikit berhasil melakukannya. Meski tidak sepenuhnya, hanya bisa mengalihkan pikiran pada hal lain, namun setidaknya Gema bisa berhenti sebentar memikirkan Bara.
Tapi saat ini, setelah mereka kembali bertemu dan Bara tampak sangat berbeda, Gema tak bisa berhenti memikirkannya.
Benarkah Bara membencinya?
Benarkah Bara sudah melupakannya?
Apa pertemuan mereka kemarin sama sekali tidak Bara harap kan?
Dulu... sebelum mereka mencintai, ketika Gema hanya lah seorang anak pembantu di rumah keluarga Hamizan, sekali pun Bara tidak akrab dengannya, namun Bara tidak pernah menatap Gema dengan tatapan seperti itu.
Seolah Gema adalah pengganggu, seolah jika menatap Gema, Bara akan membenci seluruh dunia dan seisinya.
Tapi sejak mereka menikah, tatapan mata Bara berubah hangat. Gema menyukai tatapan mata itu. Tulus, hangat, penuh kasih sayang dan tampak sangat menginginkan Gema.
Tidak apa-apa. Sebut saja Gema tak tahu diri. Karena nyatanya, Gema masih ingin menemukan hal itu di kedua mata Bara manakala lelaki itu menatapnya. Sungguh hati Gema terluka saat Bara berubah asing. Meski Gema pun tahu, dia tidak pantas merasa terluka. Hanya saja, cinta dan kasih sayangnya masih bertahta angkuh, tak ingin beranjak ke mana pun. Cinta dan kasih sayang yang begitu menyiksa karena Gema tak tahu harus melakukan apa.
Ingin bersama, namun Gema tahu itu tidak mungkin. Ingin melupakan, tapi tidak pernah berhasil.
Gema tahu, ini adalah hukuman untuknya. Hukuman yang dia jalani sejak Bara mampu bertahan dan kembali membuka kedua matanya dua tahun lalu. Gema sudah menjalani hukuman ini sejak dua tahun lalu. Meski sulit, meski sering kali tercekik dan ingin menyerah, tapi demi Tuhan, Gema akan berusaha sekuat tenaga untuk tetap melaluinya.
Hidup tapi seperti mati. Kesepian. Kelam.
Kehidupan seperti itu lah yang Gema jalani selama ini. Terkadang Gema ingin sekali menyerah saat hatinya tak mampu menahan kesedihan. Sejujurnya bukan hanya Nadi saja yang ingin mati, Gema sendiri pun sudah ratusan kali memikirkan cara itu.
Apa gunanya hidup seperti ini? Lagi pula... jika dia mati pun, tidak akan ada yang bersedih untuknya, kan? Tapi kematian terlalu mudah untuk Gema. Gema tidak pantas mati secepat itu setelah apa yang dia lakukan pada semua orang.
Andai saja...
Andai Gema tidak keras kepala ikut bersama Gana di pengasingan, andai Gema rela menderita lebih lama bersama Bara dalam pernikahan itu, atau... andai saja Gema tidak jatuh hati pada Bara. Gana, Bara dan Nadi... mereka pasti masih baik-baik saja saat ini.
Gana pasti masih tetap hidup dan bernapas, lalu hidup bahagia bersama Nadi. Sedangkan Bara... pasti dia berhasil menemukan pendamping hidup yang setara dengannya. Yang tidak membuatnya menderita hingga nyaris gila. Yang tidak menghancurkan hidupnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unstoppable 3
RomanceSetelah dua tahun hidup tanpa tujuan, pasca perceraian yang telah membuat hidup Bara hancur berantakan, dia kembali bertemu Gema, sang mantan istri yang sempat menghilang. Sejak awal, meski mengabulkan permintaan Gema untuk bercerai, namun Bara tida...
