Bara masuk ke ruangan interogasi. Berkas yang Bara bawa, dia lempar kasar ke atas meja hingga lelaki kurus berperawakan lugu di hadapannya tersentak takut. Setelah duduk di kursinya, Bara menghela napas putus asa, matanya memandang tajam pada lelaki itu. Kemudian Bara tidak bisa menahan diri untuk tidak meninju wajah lelaki itu. Hidung lelaki itu mengeluarkan darah, dia menangis dan menggigil ketakutan.
"Ngapain kamu nangis?!" bentak Bara.
Lelaki itu memegangi hidungnya yang terasa sakit. "Ampun, Pak..."
Bara menyeringai. "Ampun? Pedofil nggak tahu malu seperti kamu minta ampun?" alih-alih merasa iba, Bara justru mengeluarkan sekotak rokok dari saku kemeja, menjepit rokok di sela bibir lalu membakar ujungnya.
Bara menghampiri lelaki itu, mencengkeram rahangnya, hendak membakar mulut lelaki itu dengan ujung rokok yang telah terbakar. Tapi ponselnya di atas meja berdering, nama Aldo muncul di sana.
"Apa?"
[Gue masih bisa cari alasan masuk akal kalau media tanya kenapa hidungnya patah. Tapi bekas sundutan rokok?]
Bara melirik ke dinding kaca yang gelap. Di balik dinding kaca itu, ada Aldo dan dua rekan kerjanya yang sedang mengamati Bara. Bara hanya mendengus, lalu mematikan ponsel dan mengembalikannya ke tempat semula.
"Yang penting nggak kelihatan media, kan..." gumam Bara malas. Lagi-lagi dia mencengkeram rahang lelaki itu, membuat mulutnya terbuka hingga Bara bisa menyundut ujung rokok ke dinding mulutnya.
Teriakan kuat terdengar. Lelaki itu meronta, berusaha melepaskan diri, namun Bara menahan tubuhnya agar tetap duduk diam di tempatnya.
Bara menyeringai puas. Teriakan lelaki itu bagai irama menyenangkan di telinganya. "Nikmati saja," Bisiknya. "bukannya kamu menyukai hal-hal seperti ini, ya? Mendengar teriakan anak-anak itu bisa membuat kamu bergairah, kan? Kali ini dengarkan sendiri teriakan kamu."
Lelaki itu bernama Suheri. Seorang tersangka pemerkosaan dan pembunuh berantai. Semua korbannya adalah anak laki-laki, jumlahnya mencapai belasan orang. Heri menculik anak-anak itu dari berbagai daerah yang berbeda, membawanya pulang ke rumah untuk dieksekusi, lalu mengubur semua korban yang sudah tidak bernyawa di halaman belakang rumahnya yang luas.
Kasus ini bermula saat Kepolisian menerima lebih dari lima pengaduan anak hilang dalam waktu enam bulan terakhir. Setelah menyelidiki lebih dalam, hasil penyelidikan itu mengarah pada Suheri.
Saat halaman rumah Suheri di bongkar, Polisi menemukan banyak sekali jasad anak laki-laki di sana. Sepuluh jasad telah teridentifikasi, sisanya masih menunggu hasil pencocokan laporan anak hilang yang Kepolisian terima. Sebagian besar jasad-jasad itu sudah membusuk, ada yang hanya tinggal tulang belulang yang artinya jasad itu terkubur sudah lama. Tapi ada juga jasad yang sepertinya baru saja dikubur.
Jasad itu sudah membengkak, tapi banyak sekali bekas luka sundutan rokok di sekujur tubuhnya. Di lehernya terdapat bekas cekikan yang dilakukan Suheri untuk menghabisi nyawa korban.
Suheri begitu sadis menghabisi semua nyawa anak-anak itu. Padahal penampilan Suheri bertolak belakang dengan kelakuan bejatnya. Para tetangga pun mengaku kalau selama ini Suheri dikenal sebagai warga yang baik dan juga ramah, tidak pernah memiliki masalah dengan siapa pun.
Tapi sepintar apa pun Suheri menutupi kebejatannya, pada akhirnya semua kebejatan itu akan terbongkar.
Selesai menginterogasi Suheri dan sedikit menyiksanya, saat keluar dari ruang interogasi, Bara disambut tatapan kesal Aldo yang sengaja diabaikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unstoppable 3
RomanceSetelah dua tahun hidup tanpa tujuan, pasca perceraian yang telah membuat hidup Bara hancur berantakan, dia kembali bertemu Gema, sang mantan istri yang sempat menghilang. Sejak awal, meski mengabulkan permintaan Gema untuk bercerai, namun Bara tida...
